Minggu, 07 Februari 2021

Sebanyak 51 narapidana di Lapas Sukamiskin positif COVID-19.

Bandung - Sebanyak 51 narapidana di Lapas Sukamiskin positif COVID-19. Mereka yang positif menjalani isolasi mandiri di sel masing-masing.
"Mereka melaksanakan isolasi di kamarnya masing-masing. Kebetulan di sukamiskin ini kan kamarnya satu orang satu," ujar Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum HAM) Jawa Barat Imam Suyudi kepada wartawan Minggu (7/2/2021).

Imam mengatakan untuk blok hunian tidak berpindah. Mereka masih tetap menjalani isolasi di kamar atau sel mereka yang selama ini ditempati. Sebab, kata Imam, di Sukamiskin sendiri para napi ditahan satu sel satu orang.

Baca juga: 51 Napi Koruptor di Lapas Sukamiskin Positif Corona Berstatus OTG
"Sementara tetap di tempatnya masing-masing karena pada dasarnya mereka sehat ya karena mereka positif ya isolasi mandiri di sel masing-masing," ucapnya.

Selain napi, ada tiga orang pegawai yang juga positif COVID-19. Mereka pun menjalani isolasi masing-masing.

51 narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin dinyatakan positif COVID-19. Mereka diketahui positif usai dilakukan tes swab beberapa waktu lalu.

Tes swab sendiri dilakukan pada Kamis (4/2) lalu. Saat itu, ada ratusan napi Tipikor, umum dan juga pegawai yang menjalani tes swab di Lapas khusus Korupsi itu.

Sabtu, 06 Februari 2021

Kabupaten Lampung Utara dihebohkan lagi oleh suara dentuman

Jakarta - 

Warga di Kabupaten Lampung Utara dihebohkan lagi oleh suara dentuman. Asal muasal suara dentuman itu masih menyisakan tanda tanya.

Dentuman dilaporkan didengar beberapa warga wilayah di Kabupaten Lampung Utara.

"Iya, tadi pagi memang ada cukup luas mendengar dentuman 07.40 WIB. Kalau di grup dirasakan di Kelapa Tujuh, Kebon Empat, daerah Pasar Lama, dan sekitar Kotabumi," kata analisis geolitika BMKG Lampung Utara, Teguh, saat dihubungi detikcom, Jumat (5/2/2021).

Teguh juga mengaku mendengar dentuman tersebut dua kali.

Dentuman sebelumnya didengar warga Lampung di sejumlah daerah mengaku mendengar dentuman pada Kamis (29/1/2021) malam.

Terkait dentuman tersebut, BMKG memastikan tak ada gempa di Lampung. Sementara Lapan belum melakukan analisis mendalam. Lapan menyatakan sumber dentuman bisa berasal dari meteor. Namun, secara statistik, Lapan menilai ada keanehan.

Sedangkan, peneliti bidang studi Sains Atmosfer dan Keplanetan Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Robiatul Muztaba menjelaskan kaitan penemuan meteorit ini dengan suara dentuman di Lampung.

BMKG Tak Catat Ada Gempa Bumi dan Petir

BMKG menindaklanjuti suara dentuman di Lampung Utara itu. BMKG tak mencatat ada kejadian gempa bumi.

"Saya juga dengar, seperti ban truk meletus. Tapi saya konfirmasi ke teman yang tadi pagi, tak ada aktivitas seismik atau kegempaan di daerah Kotabumi Lampung Utara. Jadi sampai sekarang belum diketahui sumber bunyinya dari mana. Karena saya keliling juga tak menemukan ada truk mogok," jelasnya.

"Yang pasti bukan dari aktivitas gempa bumi, dan belum ditemukan sumbernya dari mana," tambah Teguh.

BMKG juga tidak mencatat ada peristiwa hujan atau petir pada hari ini.

"Kami juga ada alat pendeteksi petir, tapi tadi tidak ada catatan hujan atau petir. Karena kondisi cerah," katanya.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya.

Selama sepekan terakhir, terjadi sejumlah peristiwa di Jabar yang menarik disimak

Bandung - 

Selama sepekan terakhir, terjadi sejumlah peristiwa di Jabar yang menarik disimak. Dimulai dari terungkapnya sebuah desa 'mati' di Majalengka yang penuh misteri hingga dentuman misterius di Sukabumi yang membuat panik warga.

Berikut lima berita menarik di Jabar selama sepekan yang redaksi susun kembali untuk dibaca:

1. Mengenal Desa 'Mati' di Majalengka

Desa Sidamukti di Kecamatan Majalengka, Kabupaten Majalengka mendadak viral usai munculnya video yang diunggah di channel youtube Bucin TV. Video itu memperlihatkan kondisi desa tersebut.

Usut punya usut, 'desa mati' itu berada di Dusun Tarikolot yang masih berada di wilayah Desa Sidamukti. Dusun tersebut mulai ditinggalkan warganya sejak tahun 2010 lalu akibat sering terjadinya pergeseran tanah.

Pantauan... di lokasi Dusun Tarikolot, rumah-rumah warga tampak terbengkalai dan tak terurus. Selain terbengkalai, ada juga rumah warga yang tertimbun akibat pergeseran tanah. Jalan di dusun tersebut juga terlihat dipenuhi lumut karena lama tak dilalui.

Meski begitu, masih ada juga warga yang tetap tinggal di Dusun Tarikolot meski bahaya pergerakan tanah mengancam dan bisa terjadi kapan saja. Sementara sebagian besar warga lainnya telah pindah ke tempat relokasi yang disediakan.

Karwan Kepala Desa Sidamukti mengungkapkan warga Dusun Tarikolot mulai pindah ke tempat relokasi sejak tahun 2009 lalu. Hal itu diakibatkan seringnya kejadian pergerakan tanah yang membuat banyak rumah warga rusak hingga tertimbun tanah.

"Kejadiannya itu dari dulu, kalau saya sendiri tahunya dari 2006 pergerakan tanah itu parah. Nah mulai tahun 2009 sampai 2010 warga Dusun Tarikolot ini mulai direlokasi," ucap Karwan saat ditemui detikcom di Balai Desa Sidamukti Senin (1/2/2021).

Karwan menjelaskan Dusun Tarikolot memang berada di zona merah rawan bencana berdasarkan data dari Badan Geologi Bandung. Hal itu terbukti dari seringnya kejadian pergerakan tanah di dusun tersebut.

Bahkan kata Karwan, peristiwa pergerakan tanah dengan skala besar mengancam tiap 20 tahun sekali.

"Melihat data dari Badan Geologi, dusun ini termasuk daerah rawan bencana dan setiap saat itu terjadi perubahan posisi tanah dengan skala kecil. Namun untuk skala besar itu 20 tahun sekali, makanya kenapa di relokasi kita antisipasi tahun 2026 nanti," ucapnya.

Pemerintah Kabupaten Majalengka akhirnya menyediakan lahan untuk dibangun pemukiman baru bagi warga Dusun Tarikolot pada tahun 2009 lalu. Tercatat, di Dusun Tarikolot saat itu terdapat 180 rumah dan 253 kepala keluarga yang semuanya harus direlokasi.

"Di sana itu ada 180 rumah dan 253 KK yang harus direlokasi. Akhirnya dibangunlah rumah sejumlah KK itu di Dusun Buahlega yang kondisinya aman dari bencana itu," imbuh Karwan.

Sayangnya kata dia, tidak semua warga Dusun Tarikolot mau direlokasi dan pindah ke tempat baru yang telah disediakan. Saat ini di Dusun Tarikolot masih terdapat sekitar delapan KK yang belum pindah.

Hal itu disebabkan lantaran warga Dusun Tarikolot yang mayoritas bekerja sebagai petani itu merasa keberatan jika harus menempuh jarak yang cukup jauh dari pemukiman baru ke lahan pertaniannya.

"Padahal sudah disediakan lahan dan rumah baru di Dusun Buahlega, tapi ya mungkin karena merasa jauh dari lahannya yang memang dekat dari Dusun Tarikolot, mereka belum mau pindah. Sekarang yang masih bertahan ada 8 KK," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Majalengka Agus Permana membenarkan sebagian warga Desa Sidamukti meninggalkan rumahnya akibat peristiwa longsor dan tanah bergerak yang sering terjadi.

"Betul memang itu ditinggalkan karena sering terjadi pergerakan tanah. Beberapa hari lalu juga terjadi lagi itu tanah bergerak," ucap Agus saat ditemui di pendopo Bupati Majalengka.

Seperti yang dilakukan pasangan lansia bernama Hadmi (73) dan Inah (69). Mereka berdua tetap tinggal di Dusun Tarikolot meski bahaya mengancam tiap saat. Sementara anak-anak mereka, telah pindah ke tempat relokasi yang disediakan.

Keduanya berasalan tetap bertahan karena lokasi tempat relokasi yang disediakan jauh dari lahan mereka menanam kacang dan padi. Sementara Hadmi dan Inah tidak bisa menggunakan kendaraan bermotor.

"Bencana longsor tahun 2006, jadi pada pindah ke Buahlega. Si bapak kebonnya deket disini jadi bertahan, gabisa naik kendaraan juga. Kalau warga lain ditinggalkan rumahnya," ungkap Tasli (44) anak dari Hadmi dan Inah saat ditemui detikcom Selasa (2/2/2021).

Tasli sendiri dan anak istrinya telah pindah ke tempat relokasi yang ada di Dusun Buahlega. Namun Ia sering mengunjungi rumah orang tuanya tersebut karena merasa khawatir.

"Sesekali saya jenguk, kalau malam hujan kesini. Sebenernya takut juga apalagi musim hujan gini. Sebenernya sudah diminta pindah tapi karena kebunnya deket sini jadi maunya mereka disini," ungkapnya.

Menurutnya kondisi Dusun Tarikolot sudah sangat sepi terutama saat malam hari. Namun saat siang hari kata dia, masih ada beberapa warga yang datang.

"Kalau siang ada yang ke sini juga beberapa, kalau malam sepi sekali tinggal beberapa kepala keluarga," pungkasnya.

Selanjutnya Septhiana gugat tetangganya Rp 60 juta karena burung miliknya mati..

Tonton Video: Penampakan 'Desa Mati' Tak Berpenghuni di Majalengka


Tim jasa pikul jenazah COVID-19 di tempat pemakaman khusus COVID-19 TPU di bayar 2,6 juta

Bandung - 

Tim jasa pikul jenazah COVID-19 di tempat pemakaman khusus COVID-19 TPU Cikadut kini sudah diangkat menjadi pekerja harian lepas (PHL) oleh Pemerintah Kota Bandung. Mereka pun dibayar Rp 2,6 juta perbulannya. Lalu bagaimana respons tim jasa pikul?

"Alhamdulilah, mudah-mudahan ini jadi titik baik untuk ke depannya," ucap Koordinator jasa pikul jenazah COVID-19 TPU Cikadut Fajar Ifana kepada wartawan, Sabtu (6/2/2021).

Fajar menuturkan total petugas pikul di TPU Cikadut berjumlah 35 orang. Mereka tiap harinya bergantian bertugas memikul peti jenazah untuk diantarkan dari mobil ambulans ke liang lahat.

Meski kini aspirasi mereka sudah diakomodir Pemkot Bandung untuk jadi PHL, Fajar mengatakan masih membutuhkan bantuan dari pemerintah. Salah satunya terkait pengadaan alat pelindung diri (APD) bagi para tenaga pikul jenazah itu.

"Ya mungkin difasilitasi saja, bukan hanya gaji tapi fasilitiasi seperti APD. Intinya untuk metode pemakaman itu apa aja, standarnya sepertinya apa," tutur dia..

Terkait dengan pemberian dari warga kepada tim jasa pikul, Fajar mengatakan pihaknya tidak pernah mematok nominal bayar jasa. Untuk saat ini pun setelah menjadi PHL, pihaknya tak pernah memaksa warga untuk membayar jasa.

"Kalau sekarang yang ngasih ada seikhlasnya gitu. Enggak dipatok, nggak ada patokan kang dari dulu juga. Iya kalo memang ikhlas diterima, kalo enggak ya nggak usah diterima, nggak ada paksaan," kata dia.

Sebelumnya, jasa angkut jenazah COVID-19 di TPU Cikadut menjadi polemik lantaran keluarga dipinta uang hingga jutaan rupiah. Polemik ini pun berujung pengangkatan para jasa pikul menjadi pekerja harian lepas (PHL) oleh Pemkot Bandung. Setelah diangkat, mereka diberi gaji Rp 2,6 juta perbulannya

Simak juga Video: Tahapan Protokol Pemakaman Jenazah Covid-19

Rabu, 03 Februari 2021

Akhir Komplotan Geng Motor di Tambora Usai Tewaskan Pemuda


Polisi tangkap pelaku tawuran antargeng motor yang menewaskan 1 orang di Tambora 
Foto: Polisi tangkap pelaku tawuran antargeng motor yang menewaskan 1 orang di Tambora 
Jakarta - 

Tawuran geng motor di Tambora, Jakarta Barat menewaskan seorang pemuda bernama Rafli (20). Para pelaku kini telah ditangkap polisi.

Dirangkum , tiga orang pelaku yang terlibat tawuran maut ini ditangkap. Dua di antaranya masih berusia di bawah umur.

Ketiga pelaku berinisial AT (16), DT (16), dan AM (20). Tawuran ini melibatkan dua kelompok geng motor 'Balok' dari Tambora dan 'Pesisir' dari wilayah Jakarta Utara.

Saling Tantang di Medsos

Tawuran terjadi pada tanggal 28 Januari 2021 dini hari. Keduanya saling tantang dan janjian untuk tawuran di media sosial.

"Dua geng motor yang saling menantang di medsos, yaitu antara geng 'Balok' di Tambora dan geng 'Pesisir' yang ada di Jakut. Atas perdebatan di medsos, akhirnya yang dari Jakut menghampiri geng 'Balok' yang ada di Tambora," imbuhnya.

Ady mengatakan korban mengalami luka di bagian punggung, kepala, dada, dan tangan. Korban berupaya menangkis serangan para pelaku saat itu.

"Terdapat luka di bagian punggung, kepala, dada dan tangan. Di bagian tangan adalah menangkis sabetan celurit dari geng motor wilayah utara. Dari kejadian tersebut kita bawa korban (Rafli) dibawa ke RS Tarakan, namun sampai di RS meninggal," jelas Ady.

Polisi kemudian melakukan olah TKP dan pada tanggal 30 Januari 2021, polisi menangkap 1 orang pelaku di Indramayu, Jawa Barat. Penangkapan berkembang hingga polisi menangkap 2 pelaku lainnya.

Penyebaran video tawuran di media sosial harus disetop, simak di halaman selanjutnya


Bejat! Pria di Serang Tega Cabuli Anak Tiri hingga Hamil dan Melahirkan

 
Foto: Ilustrasi (Edi Wahyono).
Serang - 

Seorang pria berinisial AL (48), warga Kota Serang tega mencabuli anak tirinya. Bahkan kabarnya korban hamil hingga melahirkan.

Kasus ini bermula dari laporan keluarga korban asal Kabupaten Tangerang pada 4 Januari 2021 lalu ke Polres Serang Kota. Keluarga mengaku mendapatkan laporan dari korban soal kasus pencabulan oleh tersangka beberapa tahun lalu selama tinggal bersama.

"Korban awalnya menghubungi pelapor untuk bertemu, keesokan harinya korban datang ke pelapor, korban nangis dan mengaku mendapatkan perlakukan cabul oleh bapak tirinya," kata Kasat Reskrim Polres Serang Kota AKP Indra Feradinata saat dimintai konfirmasi di Serang, Banten, Rabu (3/2/2021).

Perbuatan cabul tersangka itu rupanya dilakukan sejak 2017 pada korban di kontrakan ayah tiri dan ibu kandungnya di Kota Serang. Bahkan, suatu kali korban katanya sempat dipaksa menyaksikan hubungan badan ibu dan ayah tirinya itu.

Tidak berhenti di situ, korban pada 2018 juga dipaksa berhubungan badan oleh pelaku tanpa sepengetahuan ibu kandungnya. Korban menurutnya sampai hamil dan melahirkan pada pertengahan 2019.

Setelah mendapat laporan, Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) langsung menyelidiki dan menangkap pelaku pada Selasa (2/2) kemarin. Istri pelaku juga masuk dalam daftar saksi yang diperiksa lebih lanjut oleh kepolisian.

"Tersangka masih diperiksa sama saksi-saksi lain," pungkasnya.





Kecamatan Antapani, masih menjadi kecamatan tertinggi penyumbang kasus positif COVID-19.


Bandung - Kecamatan Antapani, masih menjadi kecamatan tertinggi penyumbang kasus positif COVID-19 aktif di Kota Bandung. 

Banyak kemunculan klaster keluarga yang berasal dari perkantoran menjadi penyebabnya..

Dari informasi yang dihimpun dari laman Pusicov Kota Bandung, jumlah kasus positif COVID-19 aktif di Kecamatan Antapani sebanyak 132 kasus. Positif kumulatif 557 kasus, positif aktif 132, sembuh 420 dan meninggal dunia 5 orang.

Sementara itu, untuk 10 besar kelurahan tertinggi penyumbang kasus positif aktif COVID-19 dua kelurahan di Kecamatan Antapani masuk 10 besar, yakni Kelurahan Antapani Kidul 67 kasus dan Antapani Wetan 33 kasus.

Camat Antapani Rahmawati Mulia mengatakan satgas COVID-19 secara masif melakukan penanganan. Dia juga menyebut salah satu penyebab tingginya kasus COVID-19 di Antapani karena banyak perumahan.

"Kenapa Kecamatan Antapani menjadi nomor satu, karena banyak faktor misalnya jumlah penduduk Antapani padat. Saya enggak bisa menyebut asal usul di mana saja, tapi penyebaran dari tempat ke tempat, saya lihat di Antapani banyak perumahan dan yang banyak terpapar itu di daerah perumahan," kata Rahmawati via sambungan telepon, Rabu (3/2/2021).

Rahmawati mengungkapkan di Antapani banyak klaster keluarga yang asal usulnya berasal dari klaster perkantoran.

"Mereka pada bekerja, bekerjanya di luar Kecamatan Antapani, jadi klaster tempat pekerjaan dibawa ke rumah jadi klaster keluarga. 

Kita agak sulit juga mengendalikannya, tapi kalau pembatasan di setiap RW sudah kita kendalikan. Tapi kalau pergerakan masyarakat yang sulit," ungkapnya.


Menurutnya, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Proporsional di Kecamatan Antapani masih tetap dilakukan. 

Pengawasan dan penegakan disiplin protokol kesehatan di Kecamatan Antapani juga gencar dilakukan.

"Kita lagi PSBB Proporsional, sampai sekarang. 

Tapi, dari sisi kelurahan tadinya Antapani Kidul nomor satu hari ini ke nomor dua, artinya kami cara penanganan dengan Pak Kapolsek dan Pak Danramil kita sama-sama setiap hari dan sore membuat jadwal sosialisasi edukasi, penyemprotan, pembagian masker, pemberian bantuan kepada RW yang banyak kasusnya," jelas Rahmawati.

Menurutnya, kasus positif aktif COVID-19 terjadi di empat kelurahan yang ada di Kecamatan Antapani. 

"Tidak ada yang bebas dari COVID-19 empat kelurahan kami, RW yang banyak terpapar COVID-19 jadi atensi, setiap hari bergantian," paparnya.

Saat disinggung apakah pihaknya akan mengajukan karantina wilayah ke Pemkot Bandung, Rahmawati menyampaikan jika beberapa RW di Kecamatan Antapani pernah di lock down.

"Karantina wilayah bisa disebut lock down, kita pernah melakukan lock down di dua RW, Alhamdulilah setelah lock down itu sekarang kasusnya menurun, pernah satu RW itu sampai 16 orang positif, kemudian saya kumpulkan tokoh masyarakat, akhirnya kita lock down.

 Lock down bukan berarti tidak boleh keluar, bapak boleh keluar tapi satu pintu, masuk keluar terjaga, siapa yang masuk dan keluar harus tahu, dan terapkan protokol kesehatan, Alhamdulilah sekarang zero terpapar karena itu jadi pelajaran buat warga," terangnya.

Rahmawati menyebut, pihaknya akan melakukan kembali karantina wilayah skala RW untuk menekan penyebaran COVID-19.
.
"Kita lihat perkembangan laporan dari Puskesmas, besok kita akan turun ke RW-RW. Pak Kapolsek dan Pak Danramil sudah sepakat juga kalau lock down," ujarnya.

Meski banyak perumahan yang pintu masuknya ada satu, masih ada juga perumahan yang pintu masuknya banyak dan hal itu menimbulkan polemik di masyarakat, jika harus pintu masuk yang tadinya banyak menjadi satu.

"Kita besok akan ke RW-RW yang memiliki kasus positifnya banyak," tambahnya.