Senin, 13 Agustus 2018

Keutamaan qurban

Keutamaan Ibadah Kurban

Dari Aisyah ra, Nabi melihat bersabda, "Tidak ada yang dilakukan oleh manusia pada hari raya Kurban yang lebih dicintai Allah SWT dari menyembelih hewan Kurban.Sesungguhnya hewan Kurban itu kelak pada hari kiamat akan datang berikut tanduk-tanduknya, bulu-bulunya dan kuku-kukunya.Dan sesungguhnya sebelum darah, mereka (pahalanya) telah menerima di sisi Allah, maka Anda beruntunglah dengan (pahala) Kurban itu . ”(HR Tirmidzi).

Hukum Berkurban

Ibadah kurban hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Bagi orang yang mampu membawa mereka pergi hal itu, maka ia dibebaskani makruh. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa Nabi saw pernah berkurban dengan dua kambing kibasy yang sama-sama berwarna putih kehitam-hitaman dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelih kurban tersebut, dan membacakan nama Allah dan bertakbir (waktu memotongnya).

Dari Ummu Salamah ra, Nabi melihat bersabda, “ Dan jika kalian telah melihat hilal (tanggal) masuknya bulan Dzul Hijjah, dan salah satu di antara kamu ingin berkurban, maka inginlah aku mengeluarkan rambut dan kukunya .” HR Muslim

Arti sabda Nabi melihat, " ingin berkorban " adalah dalil bahwa ibadah kurban ini sunnah, tidak wajib.

Diriwayatkan dari Abu Bakar dan Umar ra bahwa tempat belum pernah melakukan kurban untuk keluargaeka, lantaran apakah takut jika perihal kurban itu dianggap wajib.

Hikmah Kurban

Ibadah kurban disyariatkan Allah untuk mengenang Sejarah Idul Adha sendiri yang dialami oleh Nabi Ibrahim as dan sediakan untuk memberikan kenyamanan pada hari Id, standar yang disabdakan oleh Rasulullah saw, “ Hari-hari itu tidak lain adalah hari-hari untuk makan dan minum serta berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla . "

Syarat-syarat Qurban

Binatang yang Diperbolehkan untuk Kurban

Binatang yang bisa digunakan untuk kurban adalah onta, sapi (kerbau) dan kambing. Untuk selain yang tiga warna ini tidak dapat digunakan. Allah SWT berfirman, " melampaui mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dianugarkan Allah kepada mereka. (Al-Hajj: 34).

Dan pantas berkerban dengan domba yang menemukan setengah tahun, kambing jawa yang hidup satu tahun, sapi yang berumur dua tahun, dan unta yang berumur lima tahun, baik itu jantan atau betina. Hal ini sesuai dengan hadis-hadis di bawah ini:

Dari Abu Hurairah ra mengatakan, aku pernah melihat Rasulullah melihat bersabda, " Binatang kurban yang terbaik adalah kambing yang jadza" (powel / wajah satu tahun). ”(HR Ahmad dan Tirmidzi).

Dari Uqbah bin Amir ra, aku berkata, wahai Rasulullah melihat, aku memiliki jadza ', Rasulullah saw menjawab, “ Berkurbanlah dengannya. ”(HR Bukhari dan Muslim).

Dari Jabir ra, Rasulullah melihat bersabda, “Janganlah kamu mengurbankan binatang yang satu kali ke atas, jika itu menyulitkanmu, maka sembelihlah domba Jadza '. 

Berkorban dengan Kambing yang Dikebiri

Boleh-boleh saja berkurban dengan kambing yang dikebiri. Diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu Rafi ', ​​bahwa Rasulullah saw berkurban dengan dua ekor kambing kibasy yang masing-masing berwarna putih bercampur hitam lagi dikebiri. Karena dagingnya lebih enak dan lebih lezat.

Bandung, 14 Agustus 2018

Sabtu, 11 Agustus 2018

LIRIK LAGU EUIS KE ANTOSAN

Lagu wajib sunda - Euis Bandung

Euis ke dangukeun Hela ... 


Pihatur naooon nu di seja 


Hayu urang kakawihan.  


Kawih pang deudeulna na Atik 


Euis, ke antosan heulaaa

Aeh aeh saha eta, 

Abdi sobat nu baheula, 

Euleuh euleuh saur saur saha, 

Euis teuing ku lucuna, 

Idih idih paribasa, 

Estu ku matak kayungyun, 

Ah pameget eta mah biasa, 

Ibu, bapa, dieu geura, 
Sok aya jajaka, 
Nu ngangkentresna, 
Ku ngararewa, 
Estu ku seueur gogoda, 
Nu jangkung jalmina, 
Kandel kumisna, 
Sesah hilapna, 

Euis, ke antosan heula, 

Aeh aeh saha eta, 

Abdi sobat nu baheula, 

Euleuh euleuh saur saur saha, 

Euis teasih ku lucuna , 

Idih idih paribasa, 

Estu ku matak kayungyun, 

Ah pameget eta mah biasa, 

Ibu, bapa, dieu geura,
Sok aya jajaka, 
Nu ngangkentresna, 
Ku ngararewa, 

Estu ku seueur gogoda, 
Nu jangkung jalmina, 
Kandel kumisna, 

Sesah hilapna, 
Sesah hilapna, 
Sesah hilapna, 
Sesah hilapna,

Jumat, 10 Agustus 2018

LARANGAN MENCELA SAHABAT DAN IMAM

 Larangan Mencaci Sahabat dan Para Imam


A. Larangan Mencela Sahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam

Salah satu prinsip-prinsip utama yang dimiliki oleh Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah (kewajiban) selamatnya hati dan lidah mereka (dari mencela) sahabat-sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana yang telah disifatkan oleh Allah Subhanahu waTa’ala dalam firmanNya,

Artinya: "Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, 'Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." (Al-Hasyr: 10).

Hal ini juga termasuk bentuk kepatuhan terhadap perintah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, dalam sabdanya,

لاَ تَسُبُّوْا أَصْحَابِيْ وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْ أَنْفَقَ أَحَدُكُمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيْفَهُ


"Janganlah kalian mencaci sahabat-sahabatku. Demi Allah yang jiwaku berada di tanganNya, kalaupun sekiranya seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, (hal itu) tidak akan menyamai infak satu mud atau setengah mud dari salah seorang mereka." (Mutafaq 'alaih).

Ahlus Sunnah menerima semua yang disebutkan dalam kitab dan sunnah tentang keutamaan-keutamaan mereka, dan meyakini bahwa mereka adalah generasi terbaik, seperti yang disabdakan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam,

خَيْرُكُمْ قَرْنِيْ


"Sebaik- sebaik kalian adalah generasiku." (HR. al-Bukhari).

Dan ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menyebutkan bahwa umatnya akan terpecah menjadi 73 golongan dan bahwasanya semuanya (tempatnya) di neraka kecuali satu golongan saja, lalu para sahabat bertanya kepada beliau tentang golongan yang satu ini. Beliau menjawab,

هُمْ مَنْ كَانَ عَلَى مِثْلِ مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِيْ


"Mereka adalah orang yang berada pada (jalan) seperti (jalan) yang aku dan sahabat-sahabatku berada di atasnya hari ini." (HR. Ahmad dan lainnya).

B. Larangan Mencela Para Imam Dari Ulama Umat Ini

Setelah para sahabat, yang menduduki tingkatan berikutnya dalam keutamaan, kemuliaan dan derajat yang tinggi adalah para imam dari kalangan tabi'in dan para pengikut mereka dari generasi-generasi berikutnya dan juga orang-orang yang datang setelah mereka yang mengikuti dengan baik jejak para sahabat radiyallaahu ‘anhumsebagaimana firman Allah Subhanahu waTa’ala,

Artinya: "Dan orang-orang yang terdahulu yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah." (At-Taubah: 100).

Oleh karena itu, tidak boleh kita mencaci dan mencela mereka semua, sebab mereka adalah tokoh-tokoh petunjuk jalan. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya: "Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali."(An-Nisa': 115).

Ibnu Abil Izz -pensyarah kitab Thahawiyah- berkata, "Diwajibkan bagi setiap muslim, setelah dia memberikan kesetiaan dan kecintaannya kepada Allah Subhanahu waTa’ala dan RasulNya, untuk memberikan kesetiaan dan kecintaannya pula kepada orang-orang mukmin. Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh al-Qur'an, khususnya kesetiaan dan kecintaan itu diberikan kepada mereka yang termasuk pewaris para nabi (ulama) yang mereka dijadikan oleh Allah Subhanahu waTa’ala seperti bintang-bintang yang bisa dijadikan patokan arah dalam kegelapan di darat maupun di laut, dan kaum muslimin telah bersepakat bahwa mereka mendapat hidayah dan pengetahuan (tentang syariat).

Merekalah para pengganti Rasul shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam umatnya dan merekalah yang menghidupkan kembali sunnah-sunnah (ajaran) beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam yang telah mati (ditinggalkan). Dengan mereka kitab al-Qur'an menjadi tegak dan dengan Kitab al-Qur'an mereka bangkit, dengan mereka kitab al-Qur'an dapat berbicara (pada kita), dan dengan kitab al-Qur'an mereka berbicara. Mereka semua telah bersepakat dengan penuh keyakinan atas wajibnya (seorang muslim) mengikuti ajaran Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, akan tetapi bila ada pendapat yang dikemukakan salah seorang mereka ternyata bertentangan dengan hadits shahih, maka tentu saja ada sesuatu alasan baginya untuk meninggalkannya.

Alasan-alasan itu ada tiga yaitu:

1. Dia tidak meyakini bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, bersabda demikian.

2. Dia tidak meyakini bahwa sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, itu dimaksudkan untuk masalah tertentu.

3. Keyakinan bahwa hukum tersebut telah dihapus.

Mereka itu berjasa pada kita semua, merekalah yang lebih dahulu memeluk Islam dan menyampaikan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallamkepada kita. Merekalah yang menjelaskan kepada kita hal-hal yang tidak kita ketahui dari syariat ini, maka Allah Subhanahu waTa’ala pun ridha kepada mereka dan menjadikan mereka ridha (kepadaNya).

Artinya: "Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." (Al- Hasyr: 10).

Melecehkan ulama, hanya Karena keliru dalam berijtihad adalah sikap orang-orang ahli bid'ah dan juga termasuk strategi musuh-musuh umat Islam untuk menimbulkan keraguan dalam agama Islam dan membangkitkan permusuhan di kalangan umat Islam, serta untuk memutuskan hubungan antara generasi Islam masa kini dengan pendahulu-pendahulunya, juga guna memecah belah antara kaum muda dan para ulama seperti yang terjadi sekarang ini. Oleh karenanya, hendaklah sadar para pelajar-pelajar muda yang melecehkan kedudukan ulama ahli fikih, juga melecehkan pengetahuan fikih Islam, tidak acuh untuk mempelajarinya dan mengambil manfaat dari kebenaran yang ada di dalamnya. Hendaklah mereka bangga dengan fikih mereka dan menghormati para ulama; janganlah mereka tertipu dengan propaganda-propaganda yang menyesatkan. Semoga Allah Subhanahu waTa’ala memberikan TaufikNya.



Kamis, 09 Agustus 2018

Khutbah menyambut 17 Agustus 2018



Share 

Khutbah Jumat Menyambut HUT Kemerdekaan RI Ke-73


Mahbib, NU Online | Jum'at, 10 Agustus 2018 M / 29 julqoidah 1439 H

Khutbah I

اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ،

 أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام،

 وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وعلى اله وأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أما بعد:

 فيايها الإخوان، أوصيكم و نفسي بتقوى الله وطاعته لعلكم تفلحون،

 قال الله تعالى في القران الكريم: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمان الرحيم:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا 

وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
صدق الله العظيم

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Setiap 17 Agustus kita merayakan peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia. 

Kita semua wajib bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada bangsa Indonesia sehingga para pejuang kita berhasil meraih kemerdekaan itu dengan segala pengorbanannya. 

Berjuang melawan penjajah merupakan keharusan karena pada dasarnya hanya kepada Allah SWT makhluk-makhluk yang diciptakan-Nya, terlebih manusia, menghambakan dirinya. 

Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam surah Adz-Dzariat, ayat 56: 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya: “Dan aku tidak mencipatakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepa-Ku.”

Ayat di atas menjadi landasan teologis bahwa sebuah bangsa harus memiliki kemerdekaan. 

Tanpa kemerdekaan manusia akan terus menerus ditindas oleh manusia lain untuk mengabdi kepada kepentingan mereka demi mewujudkan ambisi dan keserakahannya. 

Hilangnya kemerdekaan manusia akibat penindasan dan penjajahan sesama manusia menjadikannya jauh dari melaksanakan perintah-perintah Allah SWT. 

Justru karena itulah, maka berjuang dengan berperang melawan penjajah agar dapat memiliki kebebasan beribadah kepada Allah SWT menjadi wajib hukumnya. 

Mereka yang gugur dalam perjuangan itu disebut para syuhada dan disediakan surga sebagai tempat terkahirnya yang layak. 

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Kalau kita kembali kepada sejarah Islam, kita akan tahu bahwa Rasulullah SAW adalah seorang tokoh agung pejuang pembebasan dan kemerdekaan. 

Beliau telah membebaskan umat manusia dari segala bentuk penjajahan dan penghambaan kepada sesama manusia. 

Sejarah membuktikan kepada kita bahwa di saat beliau diutus menjadi nabi dan rasul, umat manusia telah terlalu jauh dari bimbingan para rasul terdahulu. 

Mereka menjadi hamba bagi hawa nafsunya sendiri. 

Mereka sesat dalam mencari arah dan tujuan hidup dan berlaku bodoh dalam memenuhi tuntutan kerohaniahan sehingga menyembah patung dan berhala yang mereka buat sendiri.

 Golongan yang kuat bertindak sewenang-wenang dengan merebut atau merampas hak orang lain yang lemah. 

Golongan yang lemah terus tertindas dan terjajah.

 Kebodohan karena ketidaktahuan mana yang benar dan mana yang salah terus mencengkeram sehingga jaman itu dikenal dengan jaman jahiliyah. 

Oleh karena itu, diutuslah Rasulullah SAW untuk memerdekakan masyarakat dari segala bentuk penjajahan baik secara jasmani maupun rohani.

 Perjuangannya bermula di Mekah dan direalisasikan sepenuhnya dengan membentuk umat Islam di Madinah yang kemudian menjadi model masyarakat madani. 

Model dan strategi perjuangan beliau ini menjadi acuan dalam membina sebuah negara yang merdeka dan berdaulat. 

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Peringatan hari kemerdekaan menuntut kita untuk merenung sejenak apakah yang telah kita kerjakan dalam mengisi kemerdekaan ini. 

Tuntutan ini telah diabadikan dalam Al-Qur’an dalam surah At-Taubah, ayat 105, yang berbunyi: 

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Artinya: “Dan katakanlah (wahai Muhammad): 

Bekerjalah kamu, maka sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman akan melihat apa yang kamu kerjakan dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Maha Mengetahui perkara-perkara yang gaib dan yang nyata, kemudian Dia menerangkan kepada kamu tentang apa yang telah kamu kerjakan.”

Ayat tersebut menegaskan bahwa kita harus mengisi hidup ini dengan beramal dan bekerja baik untuk kepentingan duniawi maupun ukhrawi. 

Tidak ada alasan untuk mengabaikan kedua amal tersebut karena Allah SWT telah memberi kita kemerdekaan. 

Dengan kemerdekaan itu kita memiliki kebebasan seluas-luasnya untuk beribadah kepada Allah SWT karena memang tujuan Allah menciptakan manusia di dunia ini tak ada lain adalah agar kita semua senantiasa menyembah atau beribadah kepada-Nya. 

Ibadah itu sangat luas yang memungkinkan seseorang mampu beribadah selama 24 jam sehari. 

Hal ini dimungkinkan ketika kita memaknai ibadah sebagai segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah SWT berupa ucapan, perbuatan maupun sikap, lahir maupun batin. 

Allah SWT telah membuka pintu-pintu kebaikan. 

Rasulullah SAW telah menjelaskan kepada kita amal-amal kebaikan yang bisa mendekatkan diri kita kepada Allah. 

Bukankah beliau telah bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Hakim:

إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ شَيْءٍ يُقَرِّبُكُمْ الي الْجَنَّةِ إِلَّا قَدْ أَمَرْتُكُمْ بِهِ , وَلَيْسَ شَيْءٌ يُقَرِّبُكُمْ الي النَّارِ 
إِلَّا قَدْ نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ

Artinya: “Tidak satu pun amal yang bisa mendekatkan kalian ke surga melainkan aku memerintahkannya kepada kalian.

 Dan tidak satupun amal yang bisa mendekatkan kalian ke neraka melainkan aku telah melarang kalian darinya.”

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Kita patut bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat kemerdekaan yang telah dianugerahkan kepada kita sebagai rahmat-Nya. 

Dengan kemerdekaan itu kita bebas ke mana saja untuk beribadah, bekerja, belajar, dan menjalani kehidupan yang aman dan damai. 

Bisa kita bayangkan betapa mengerikan dan sulitnya hidup di sebuah negara yang dilanda peperangan. 

Peperangan dengan latar belakang apapun, seperti perang melawan penjajah, perang saudara, konflik antar etnis dan golongan, pasti sangat mengerikan. 

Kita bersyukur kepada Allah SWT karena dengan kemerdekaan, maka keamanan lebih bermakna dalam diri kita. 

Kita dapat menikmati berbagai kemakmuran, pembangunan dan kemajuan. 

Kita berdoa semoga Allah SWT terus memberikan nikmat ini dan menambahkannya. 

Semoga pula kita mampu menunjukkan rasa cinta kita yang terus bertambah kepada agama dan negara tercinta ini.

 Allah SWT telah menegaskan di dalam Al-Qur’an, Surat Ibrahim, ayat 7 sebagai berikut:

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Artinya: “Sekiranya kamu bersyukur, niscaya Aku akan tambahkan nikmat-Ku, dan sekiranya kamu kufur, sesungguhnya adzab-Ku amatlah pedih.”

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Sebagai tanda syukur kita kepada Allah yang telah menganugerahkan kemerdekaan dan terima kasih kita kepada para pejuang dan pahlawan kita yang telah berhasil meraihnya, maka tidak sepatutnya kita menyia-nyiakan nikmat dan kesempatan-kesempatan yang ada dalam rangka mengisi kemerdekaan. 

Pemerintah telah menetapkan tema peringatan HUT Kemerdekaan RI yang ke-73 ini adalah “Disiplin Kerja dan Cinta Budaya”. 

Tema ini sejalan dengan firman Allah dalam Surat Al-Insyirah, ayat 7-8:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ

Artinya: “Maka apabila kamu telah selesai dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap,”

Ayat ini melandasi upaya kita bahwa setelah kemerdekaan kita capai, kita harus mengisinya dengan disiplin kerja yang tinggi dan tetap mencintai budaya bangsa sendiri. 

Kemerdekaan sesungguhnya bukan tujuan tetapi merupakan jembatan emas untuk mencapai cita-cita luhur. 

Bangsa Indonesia telah bercita-cita menjadi bangsa merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. 

Bangsa Indonesia memiliki budaya sendiri yang memungkinkan untuk tetap menjaga dan merawat negeri ini berdasarkan Pancasila, UUD 1945, Binneka Tungga Ika dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Untuk itu, marilah sesuai dengan peran dan fungsi kita masing-masing di masyarakat, kita isi kemerdekaan ini dengan beramal dan bekerja sebaik-baiknya sehingga Indonesia menjadi negara yang baldatun thayyibatun warabbul ghafur, yakni sebuah negara yang elok dimana Allah senantiasa memberikan ampunan dan ridha-Nya para pemimpin dan rakyatnya. 

Sudah pasti ampunan dan ridha-Nya akan kita peroleh selama kita bertahuhid, yakni selama kita menyembah dan tunduk hanya kepada Allah SWT. 

Semoga kita semua menjadi orang-orang merdeka yang senantiasa men-tauhidkankan-Nya. Amin ya rabbal alamin. 

جَعَلَنا اللهُ وَإيَّاكم مِنَ الفَائِزِين الآمِنِين، وَأدْخَلَنَا وإِيَّاكم فِي زُمْرَةِ عِبَادِهِ المُؤْمِنِيْنَ : أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمن الرحيم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا 

باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ وذِكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. 

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ

 اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ

 اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ

. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.

 رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

 رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ



 

TAFSIR AL-BAQARAH AYAT 6


إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri petunjuk atau tidak kamu beri petunjuk, mereka tidak akan beriman.” (QS. Al-Baqarah 2: 6).

( إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا ) ”Sesungguhya orang-orang kafir,” yaitu orang-orang yang mendorong dan menyembunyikan kebenaran dan kafir kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Allah mengetahui bahwa di antara mereka akan ada orang yang ingkar menambahkan ayat-ayat yang diturunkan kepada mereka. Kemudian kekafiran itu ditakdirkan dan ditetapkan atas mereka. Maka mereka tidak akan beriman, apakah kamu, wahai Muhammad, memberi petunjuk kepada mereka, atau Anda tidak berbicara, mereka itu untuk mengakses keimanan, dan mengingkari apa yang disampaikan oleh Rasulullah berupa penjelasan - penjelasan dari Tuhannya.

Ayat ini seolah-olah hiburan dan kegembiraan bagi Rasulullah shallallahu 'alaih wasallam karena beliau berambisi agar seluruh manusia beriman dan mengikutinya di atas petunjuk. Kemudian Allah ta'ala memberi tahu bahwa tidak akan beriman, kecuali orang yang sudah ada dalam pengetahuan Allah yang akan beriman kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Untuk mereka yang telah ditetapkan kebahagiaan dan kebaikan, dan tidak akan tersesat kecuali orang-orang yang telah ada dalam pengetahuan mereka bahwa mereka akan kafir dan telah didahului ketetapan dari Allah bahwa mereka akan sengsara.Na'udzubillah. Karena itu, janganlah rnerasakan sesal atas mereka, sampaikanlah risalah kepada mereka.

فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ

"Karena sebenarnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kamilah yang akan menghisab amalan mereka," (QS. Ar-Ra'd 13: 40)

إِنَّمَا أَنْتَ نَذِيرٌ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

“ Sesungguhnya kau, pemberi peringatan, dan Allah adalah Pemelihara segala sesuatu.  (QS. Hud 11: 12)

خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

"Allah telah mengangkat mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup, dan bagi mereka siksa yang amat berat." (QS. Al-Baqarah 2: 7)

Berkaitan dengan ayat ini, Qatadah berkata, “Setan menguasai mereka karena mereka menaatinya. Maka Allah mengunci mata hati, pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup sehingga tidak dapat melihat, mendengar, memahami, dan berpikir.”

Hal itu dikuatkan oleh firman Allah Ta’ala:

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ

“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hatinya.” (QS. Ash-Shaf 61 : 5)

Dan firman Allah:

وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

“Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Qur’an) pada permulaannya, dan kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang hebat.”(QS. al-An’ am 6 : 110)

Ayat-ayat Al-Qur’an yang senada dengan hal itu sangat banyak. Ayat ini mengandung indikator bahwa Allah Ta’ ala mengunci mata hati mereka, dan disekat antara mereka dan hidayah. Hal itu merupakan balasan yang setimpal karena mereka terus-menerus berada dalam kebatilan dan meninggalkan kebenaran. Inilah keadilan dari Allah Ta’ala.

Dalam hadits dikatakan:

يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Zat yang membolak-balik hati, teguhkanlah hati kami pada agama-Mu.” (HR. at-Tirmidzi dan yang lainnya. Beliau berkata hadits ini hadits hasan).

At-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ {كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Apabila seorang mukmin melakukan suatu dosa maka timbullah noda hitam di dalam kalbunya. Apabila ia bertobat, menarik diri dari dosa itu, dan mencari ridha Allah maka hatinya menjadi jernih. Jika dosanya bertambah maka bertambah pula nodanya hingga memenuhi kalbunya. Itulah yang disebut penutup (rona) di dalam firman Allah Ta’ala: “Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (QS. al-Muthafifin 83 : 14)”

Demikianlah, dalam ayat-ayat permulaan Allah menuturkan kondisi kaum mukmin (Yaitu surat al-Baqarah ayat 2-5). Kemudian dalam dua ayat berikutnya, Allah menuturkan kondisi kaum kafir (surat al-Baqarah ayat 6-7). Kemudian Allah mulai menjelaskan kondisi kaum munafik yang memperlihatkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran. Ketika persoalan mereka itu kurang jelas bagi mayoritas manusia maka Allah menuturkan secara panjang lebar aneka sifat yang dikategorikan sebagai kemunafikan (insya Allah akan dibahas pada pembahasan tafsir selanjutnya).

Bandung, 9 Agustus 2018.

Rabu, 08 Agustus 2018

TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYAT 5

Allah Swt. berfirman bahwa yang dimaksud dengan mereka itu ialah orang-orang yang mempunyai ciri-ciri khas terdahulu, yaitu iman kepada yang gaib, mendirikan salat, memberi nafkah dari rezeki yang diberikan Allah kepada mereka, iman kepada kitab yang diturunkan kepada Rasulullah Saw. dan kitab-kitab yang diturunkan kepada rasul-rasul sebelumnya, dan yakin kepada kehidupan akhirat, yang hal ini menuntut persiapan sebagai bekal guna menghadapinya, yaitu mengerjakan amal-amal saleh dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan.
 {عَلَى هُدًى}'Ala hudan, tetap beroleh cahaya penjelasan dan petunjuk dari Allah Swt.
{وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ} Waulaika humul muflihun, dan merekalah orang-orang yang beruntung di dunia dan di akhirat.
Muhammad ibnu Ishaq mengatakan dari Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, bahwa makna "mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya" ialah tetap beroleh nur dari Tuhan mereka dan tetap istiqamah (berpegang teguh) kepada Al-Qur'an yang disampaikan kepada mereka.    
Wa ulaika humul muflihun, merekalah orang-orang yang beruntung, yakni orang-orang yang memperoleh apa yang mereka minta dan selamat dari kejahatan yang mereka menghindar darinya.
Ibnu Jarir mengatakan bahwa makna firman-Nya, "Ulaika 'ala hudam mirrabbihim," ialah "sesungguhnya mereka tetap memperoleh nur (cahaya) dari Tuhannya, pembuktian, istiqamah, dan bimbingan serta taufik Allah buat mereka".
Takwil firman-Nya, "Ulaika humul muflihun.” ialah "merekalah orang-orang yang sukses dan memperoleh apa yang mereka dambakan di sisi Allah melalui amal perbuatan mereka dan iman mereka kepada Allah, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya; dambaan tersebut berupa keberuntungan memperoleh pahala, kekal di surga, dan selamat dari siksaan yang telah disediakan oleh Allah buat musuh-musuh-Nya".
Ibnu Jarir meriwayatkan sebuah pendapat dari sebagian kalangan ahli tafsir, bahwa isim isyarah diulangi di dalam firman-Nya: Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan merekalah orang-orang yang beruntung. (Al-Baqarah: 5)
Hal itu ditujukan kepada orang-orang beriman dari kalangan ahli kitab yang ciri-ciri khasnya telah disebutkan melalui firman-Nya: dan mereka yang beriman kepada kitab (Al-Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu. (Al-Baqarah: 4) hingga akhir ayat, seperti yang telah disebutkan perselisihan mengenainya. 
Berdasarkan takwil ini, berarti diperbolehkan menganggap firman-Nya, '"Wallazina yu-minuna bima unzila ilaika," bersifat munqati' (terpisah) dari ayat sebelumnya, dan kedudukan i'rab-nya marfu' karena dianggap sebagai mubtada, sedangkan khabar-nya adalah firman Allah Swt, "Wa ulaika humul muflihun"
Ibnu Jarir sendiri memilih pendapat yang mengatakan bahwa makna yang dimaksud adalah kembali kepada semua orang yang telah disebut sebelumnya dari kalangan orang-orang beriman bangsa Arab dan orang-orang beriman dari kalangan ahli kitab. Ia memilih pendapat ini karena berdasarkan kepada sebuah asar yang diriwayatkan oleh As-Saddi, dari Abu Malik, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas; juga dari Murrah Al-Hamadani, dari Ibnu Mas'ud, dan dari sejumlah sahabat Rasulullah Saw. Orang-orang yang beriman kepada yang gaib, mereka adalah orang-orang mukmin bangsa Arab. Sedangkan mereka yang beriman kepada kitab yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu maksudnya ialah orang-orang beriman dari kalangan ahli kitab. Kemudian keduanya dihimpun dalam satu ayat, yaitu melalui firman-Nya: Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan merekalah orang-orang yang beruntung. (Al-Baqarah: 5)
Dalam tarjih yang telah kami sebutkan di atas, makna yang dimaksud ialah menerangkan ciri-ciri orang-orang mukmin secara umum, dan isyarat mengandung makna umum ditujukan kepada mereka semua.
Telah dinukil sebuah riwayat dari Mujahid, Abul Aliyah, dan Ar-Rabi' ibnu Anas, Qatadah dan Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Usman ibnu Saleh Al-Misri, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibnu Luhai'ah, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnul Mugirah, dari Abul Haisam yang nama aslinya ialah Sulaiman ibnu Abdullah, dari Abdullah ibnu Amr, dari Nabi Saw. Pernah dikatakan kepada Rasulullah Saw., "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami tetap membaca Al-Qur'an, lalu kami berdoa, dan kami tetap membaca Al-Qur'an hingga hampir saja kami berputus asa." Maka Nabi Saw. bersabda, "Maukah kalian aku beritakan tentang penduduk surga dan penduduk neraka?" Mereka menjawab, "Tentu saja kami mau, wahai Rasulullah." Nabi Saw. membacakan firman-Nya:

أَلَمْ ذلِكَ الْكِتابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدىً لِلْمُتَّقِينَ- إلى قوله- الْمُفْلِحُونَ

"Alif lam m'im. Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan pada-nya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa," sampai dengan firman-Nya, "Orang-orang yang beruntung." (Al-Baqarah: 1-5)
Kemudian Nabi Saw. bersabda, "Mereka adalah penduduk surga." Mereka (para sahabat) berkata, "Sesungguhnya kami berharap semoga diri kami termasuk dari mereka." Lalu Nabi Saw. membacakan firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَواءٌ عَلَيْهِمْ- إِلَى قَوْلِهِ- عَظِيمٌ

"Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka," sampai dengan firman-Nya, "Siksaan yang amat berat.” (Al-Baqarah: 6-7)
Beliau Saw. bersabda, "Mereka adalah penduduk neraka." Mereka (para sahabat) berkata, "Wahai Rasulullah, tentunya kami bukan termasuk mereka." Beliau Saw. menjawab, "Ya."

YD1JNI

Kandungan surat Al-Baqarah ayat 4

TAFSIR AYAT PILIHAN


Tafsir Surat Al-Baqoroh Ayat 4

وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآَخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

“dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat”

(QS. AL-BAOROH AYAT 4)

TAFSIR SURAT AL-BAQOROH AYAT 4

Ayat ini masih merupakan penjelasan dari ayat sebelumnya tentang orang-orang yang bertaqwa. Allah ta’ala merinci beberapa karakteristik lain tentang orang-orang yang bertaqwa tersebut dalam ayat ini, diantaranya :

Pertama, beriman kepada Kitab (Al Quran) dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelum Alquran.

Ibnu Abbas mengatakan, maksud dari ayat ini adalah “mereka membenarkan apa yang engkau bawa (Muhammad) dari Allah ta’ala dan apa yang dibawa oleh para Rosul sebelum dirimu. Mereka sama sekali tidak membedakan antara para Rosul tersebut serta tidak ingkar terhadap apa yang mereka bawa dari Rabb mereka. Dan mereka yakin akan adanya kebangkitan, kiamat,surge, neraka, perhitungan, dan timbangan.”

Kedua, meyakini adanya hari akhir.

Dinamai hari akhir (akhirat), karena ia ada setelah dunia. Yang meliputi masa setelah selesainya kehidupan dunia, mulai dari hari kebangkitan, mahsyar, hisab, mizan, shirot, surge dan neraka.

Para ulama berbeda pendapat tentang siapa orang-orang disifati dalam ayat ini. Setidaknya terdapat tiga pendapat dalam masalah ini sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Jarir :

Pertama, orang-orang yang disifati Allah dalam ayat keempat surat Al-Baqoroh ini adalah mereka yang disifati dalam ayat sebelumnya, yaitu seluruh orang-orang yang beriman, baik dari orang arab, ahlu kitab dan yang lainnya.

Pendapat ini dikemukakan oleh Mujahid, Abu al-Aliyah,Ar-Rabi’ bin Anas, dan Qotadah.

Kedua, mereka itu adalah satu yakni orang-orang yang beriman dari kalangan ahlu kitab.

Ketiga, mereka yang disifati di ayat sebelumnya adalah orang-orang arab dan yang disifati dalam ayat ini adalah orang beriman dari kalangan ahlu kitab.

Pendapat ini dikemukakan oleh As-Suddi dalam tafsirnya dari Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud dan beberapa sahabat dan dipilih juga oleh Ibnu Jarir, berdasarkan firman Allah pada ayat yang lain :

وَإِنَّ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَمَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ خَاشِعِينَ لِلَّهِ

Dan sesungguhnya diantara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah

(QS. Ali Imron :199)

YD1JNI