Selasa, 04 Juli 2017

keutamaan surat arrohman

Bismillahirrahmanirrahim…
Surah Ar-Rahman adalah surah ke-55 dalam al-Qur'an.

Surah ini tergolong surat makkiyah, terdiri atas 78 ayat.

Dinamakan Ar-Rahmaan yang berarti Yang Maha Pemurah berasal dari kata Ar-Rahman yang terdapat pada ayat pertama surah ini.

Ar-Rahman adalah salah satu dari nama-nama Allah.

Sebagian besar dari surah ini menerangkan kepemurahan Allah. kepada hamba-hamba-Nya, yaitu dengan memberikan nikmat-nikmat yang tidak terhingga baik di dunia maupun di akhirat nanti.

Surat Ar Rahman adalah salah satu surat dari 114 surat dalam Al Qur'an.

Entah mengapa, tanpa mengesampingkan surat lain dalam Al Qur'an, surat ini menyita perhatian saya.

Surat ini memiliki kata yang begitu indah dan mengalir berirama.

Dan tanpa terasa air mata menetes, satu ,demi satu
Ciri khas surah ini adalah kalimat berulang 31 kali Fa-biayyi alaa'i Rabbi kuma tukadzdzi ban (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?) yang terletak di akhir setiap ayat yang menjelaskan nikmat Allah yang diberikan kepada manusia.

TAFSIR HAMDALAH

Hamdalah merupakan penggalan kata yang selalu kita ucapkan setiap kali kita selesai melakukan sesuatu yang secara lengkap kita membacanya dengan ucapan “Al-hamdulillah ” (segala puji hanya milik Allah) atau “Al-hamdulillah rabbil ‘alamin ” (segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam).

Kata alhamd itu sendiri terdiri dari kata “al” dan “hamd”, yang seringkali diterjemahkan dengan pujian.

Yaitu pujian yang ditujukan kepada Allah.

Sebuah ungkapan pujian yang hanya diserahkan dan disampaikan kepada Allah SWT.

“Alhamd” (puji) baik secara aktual maupun verbal adalah bentuk dari manifestasi keparipurnaan dan suksesnya suatu tujuan, dari segala yang ada.

Sebab Hamdalah itu merupakan bentuk dari pujian pembuka, sekaligus merupakan pujian indah bagi yang berhak mendapatkannya.

Seluruh makhluk di muka bumi ini secara keseluruhan juga memuji Allah SWT bertasbih dan bertahmid.

Seluruh kepari pumaan muncul dari potensi-potensi menjadi aktual, dan semuanya senantiasa menyucikan dan memuji-Nya.

Sebagaimana dalam firman Allah swt:

“Tak satu pun dari segala yang ada kecuali selalu bertasbih dan memuji-Nya ”.

Jagad raya senantiasa memiliki kesadaran dari mana awal mulanya, bagaimana penjagaan atas kelestariannya dan pengaturannya, sebagai cermin konotatif dari arti hakiki Rububiyah bagi semesta alam.

Yakni bagi segala sesuatu yang terkandung dalam Ilmu Allah.

Seperti sebuah tanda bagi yang ditandai.

Juga mengandung makna globalitas keselamatan yang penuh karena mengandung arti Ilmu dan sekaligus mengandung makna mengalahkan.

Yang terkandung itu juga berarti kebajikan-kebajikan yang umum maupun khusus.

Yaitu nikmat lahiriyah maupun nikmat batiniyah.

Nikmat lahiriyah seperti kesehatan dan rizki, sedangkan nikmat batiniyah seperti pengetahuan dan ma’rifat.

Maka pujian dengan segala substansinya itu mutlak hanya bagi Allah Ta’ ala, secara azali maupun abadi menurut proporsi hak hamba melalui Dzat-Nya.

Kata al-hamdulillah memiliki dua sisi makna.

Pertama, berupa pujian kepada Tuhan dalam bentuk ucapan.

Kedua, pujian dalam bentuk perbuatan yang biasa kita sebut dengan syukur.

Kedua sisi ini tergabung dalam ucapan al-hamdulillah.

Pujian kepada Allah dalam bentuk ucapan merupakan anjuran agama setiap kali merasakan anugerah.

Itu sebabnya Rasulullah saw. Selalu mengucapkan al-hamdulillah pada setiap kondisi dan situasi.

Ketika berpakaian, sesudah makan, ketika akan tidur dan setiap bangun tidur, dan seterusnya dari perbuatan Rasulullah saw yang mengajarkan kita untuk selalu mengucapkan al-hamdulillah dalam setiap kondisi dan situasi.

Apabila seseorang sering mengucapkan al-hamdulillah, maka dari saat ke saat ia akan selalu merasa dalam curahan rahmat dan kasih sayang Allah.

Dia akan merasa bahwa Allah tidak membiarkannya sendiri.

Jika kesadaran ini telah berbekas dalam jiwanya, maka seandainya mendapatkan cobaan atau merasakan kepahitan dan ujian bahkan musibah sekalipun, maka dia pun akan mengucapkan al-hamdulillah atau segala puji bagi Allah, tiada yang dipuja dan dipuji walau cobaan menimpa, kecuali Dia semata.

Begitu pun sekiranya ketetapan Allah yang mungkin oleh kacamata manusia dinilai kurang baik maka harus disadari bahwa penilaian tersebut adalah akibat keterbatasan manusia dalam menetapkan tolok ukur penilaiannya.

Pasti ada sesuatu yang luput dari jangkauan pandangan manusia sehingga penilaiannya menjadi demikian.

Walhasil “segala puji bagi Allah”. Kata segala ini diterjemahkan dari kata al pada al-hamdu yang oleh ahli bahasa dinamai al-lil istighraq (artikel yang memberi arti mencakup keseluruhan).

Kalimat semacam ini terlontar, karena ketika itu dia sadar bahwa seandainya apa yang dirasakan itu benar-benar merupakan malapetaka, namun limpahan karunia-Nya sudah demikian banyak, sehingga cobaan malapetaka itu tidak lagi berarti dibandingkan dengan besar dan banyaknya karunia selama ini.

Kalau kita ingin menelusuri ayat-ayat Allah, maka akan kita temukan ungkapan kata al-hamdulillah di dalam banyak ayat-ayat-Nya, sementara secara khusus, ada beberapa surat yang kata al-hamdu diletakkan di muka ayat; lima surat dalam Al-Quran yang dimulai dengan kata al-hamdu, seperti Al-Fatihah (jika kita sependapat dengan pendapat ulama yang bahwa basmalah bukan bagian dari surat al-fatihah) maka akan ditemukan makna Hamdalah yang begitu dalam menggambarkan akan anugerah Allah yang begitu luas yang dapat dinikmati oleh makhluk, khususnya manusia. Ungkapan ayatnya adalah Alhamdulillah lillah rabbil ‘alamin; pernyataan pujian yang hanya diserahkan kepada Allah yang Maha Esa dan Kuasa, karena telah begitu banyak memberikan anugerah kepada seluruh alam.

Adapun pada ayat-ayat lain dapat ditemukan kata-kata alhamdu yang menjadi permulaan ayat pada empat surat lain; masing-masing menggambarkan kelompok nikmat Allah dan merupakan perincian dari kalimat al-hamdulillah pada surat al-fatihah.

Keempat surat yang dimaksud adalah :

1. Surat Al-An’am yang dimulai dengan pujian kepada Allah atas nikmat yang telah dianugerahkan oleh-Nya akan potensi yang terpendam di langit dan di bumi.

Allah berfirman: “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang…”

2. Surat Al-Kahfi yang dimulai dengan pujian kepada Allah atas nikmat yang telah dianugerahkan berupa petunjuk bagi manusia, sebagai nikmat terbesar yaitu kehadiran Al-Quran yang tidak memiliki kebengkokan dan kesalahan; Allah berfirman:

“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Al-Quran kepada hamba-Nya dan tidak membuat kebengkokan (kekurangan) di dalamnya”.

3. Surat Saba yang dimulai dengan kata Al-hamdu; pujian kepada Allah atas nikmat yang telah dianugerahkan yaitu berupa alam dunia dan alam akhirat sehingga manusia dapat menjadikannya sebagai keseimbangan; memperbanyak bekal di alam dunia dan memetiknya nanti di alam akhirat; Allah berfirman:

“Segala puij bagi Allah yang memiliki apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bagi-Nya pula pujian di akhirat.

Dialah yang Maha bijaksana lagi Maha Mengetahui”.

4. Surat Fathir yang dimulai dengan kata Al-hamdu; pujian kepada Allah atas segala nikmatnya yang telah dianugerahkan berupa keabadian sejati nanti di alam akhirat; Allah berfirman:

“Segala puji bagi Allah, pencipta langit dan bumi yang menjadikan malaikat-malaikat sebagai utusan-utusan yang mengurus berbagai macam urusan (di dunia dan di akhirat) yang mempunyai sayap -sayap masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat..”
Perbedaan kata hamd (pujian) dengan kata syukur, walaupun keduanya saling memperkaya makna namun pada hakikatnya mempunyai makna yang berbeda.

Hamd disampaikan secara lisan kepada yang bersangkutan walaupun ia tidak memberi apapun baik kepada si pemuja maupun kepada yang lain dan biasanya yang dipuji memiliki syarat yang patut dipuji;

indah (baik) diperbuat secara sadar dan tidak karena paksaan.

Dengan demikian, maka segala perbuatan Allah terpuji dan segala yang terpuji merupakan perbuatan Allah juga, sehingga segala puji tertuju kepada Allah.

Bahkan jika kita memuji seseorang karena kebaikan atau kecantikannya, maka pujian tersebut pada akhirnya harus dikembalikan kepada Allah SWT, sebab kecantikan dan itu bersumber dari Allah.

Sedang syukur pada dasarnya digunakan untuk mengakui dengan tulus dan penuh penghormatan akan nikmat yang dianugerahkan oleh yang disyukuri itu, baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan.

Pada akhirnya kata alhamdu (pujian) merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah atas segala nikmat yang telah dianugerahkan dan selayaknya kata ini diucapkan ketika seseorang ingin melakukan sesuatu, karena sejatinya tidak ada perbuatan yang dilakukan, ucapan yang disuarakan, nafas yang dihembuskan, gerakan dan segala apapun yang diperbuat oleh bagian anggota tubuh manusia karena rahmat dan anugerah dari Allah.

Dan kita pun dianjurkan untuk selalu mengucapkan syukur dan tahmid saat melihat orang lain mendapatkan rezki dan anugerah dari SWT.

Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw dalam do’anya :

“Ya Allah, tidak ada di pagi ini dari kenikmatan yang engkau anugerahkan kepada kami dan kepada siapa pun dari hamba-hambamu hanya dari Engkau belaka, tiada sekutu bagi-Mu dan segala puji dan syukur hanya milik-Mu”

Senin, 03 Juli 2017

TAPSIR BASMALLAH

Bismillahirrahmaanirrahiim
oleh: Ustadz Yachya Yusliha

“Artinya : Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”

Jar majrur (bi ismi) di awal ayat berkaitan dengan kata kerja yang tersembunyi setelahnya sesuai dengan jenis aktifitas yang sedang dikerjakan.

Misalnya anda membaca basmalah ketika hendak makan, maka takdir kalimatnya adalah :

“Dengan menyebut nama Allah aku makan”.

Kita katakan (dalam kaidah bahasa Arab) bahwa jar majrur harus memiliki kaitan dengan kata yang tersembunyi setelahnya, karena keduanya adalah ma’mul.

Sedang setiap ma’mul harus memiliki ‘amil.

Ada dua fungsi mengapa kita letakkan kata kerja yang tersembunyi itu di belakang.

Pertama : Tabarruk (mengharap berkah) dengan mendahulukan asma Allah Azza wa Jalla.

Kedua : Pembatasan maksud, karena meletakkan ‘amil dibelakang berfungsi membatasi makna.

Seolah engkau berkata : “Aku tidak makan dengan menyebut nama siapapun untuk mengharap berkah dengannya dan untuk meminta pertolongan darinya selain nama Allah Azza wa Jalla”.

Kata tersembunyi itu kita ambil dari kata kerja ‘amal (dalam istilah nahwu) itu pada asalnya adalah kata kerja.

Ahli nahwu tentu sudah mengetahui masalah ini.

Oleh karena itulah kata benda tidak bisa menjadi ‘ami’l kecuali apabila telah memenuhi syarat-syarat tertentu.

Lalu mengapa kita katakan : “Kata kerja setelahnya disesuaikan dengan jenis pekerjaan yang sedang dikerjakan”, karena lebih tepat kepada yang dimaksud.

Oleh sebab itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Barangsiapa yang belum menyembelih, maka jika menyembelih hendaklah ia menyembelih dengan menyebut nama Allah “

[1] Atau : “Hendaklah ia menyembelih atas nama Allah”
[2]
Kata kerja, yakni ‘menyembelih’, disebutkan secara khusus disitu.

Lafzhul Jalalah (Allah).

Merupakan nama bagi Allah Rabbul Alamin, selain Allah tidak boleh diberi nama denganNya.

Nama ‘Allah’ merupakan asal, adapun nama-nama Allah selainnya adalah tabi’ (cabang darinya).

Ar-Rahmaan
Yakni yang memiliki kasih sayang yang maha luas.

Oleh sebab itu, disebutkan dalam wazan fa’laan, yang menunjukkan keluasannya.

Ar-Rahiim
Yakni yang mencurahkan kasih sayang kepada hamba-hamba yang dikehendakiNya.

Oleh sebab itu, disebutkan dalam wazan fa’iil, yang menunjukkan telah terlaksananya curahan kasih sayang tersebut.

Di sini ada dua penunjukan kasih sayang, yaitu kasih sayang merupakan sifat Allah, seperti yang terkandung dalam nama ‘Ar-Rahmaan’ dan kasih sayang yang merupakan perbuatan Allah, yakni mencurahkan kasih sayang kepada orang-orang yang disayangiNya, seperti yang terkandung dalam nama ‘Ar-Rahiim’.

Jadi, Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiiim adalah dua Asma’ Allah yang menunjukkan Dzat, sifat kasih sayang dan pengaruhnya, yaitu hikmah yang merupakan konsekuensi dari sifat ini.

Kasih sayang yang Allah tetapkan bagi diriNya bersifat hakiki berdasarkan dalil wahyu dan akal sehat.

Adapun dalil wahyu, seperti yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang penetapan sifat Ar-Rahmah (kasih sayang) bagi Allah, dan itu banyak sekali.

Adapun dalil akal sehat, seluruh nikmat yang kita terima dan musibah yang terhindar dari kita merupakan salah satu bukti curahan kasih sayang Allah kepada kita.

Sebagian orang mengingkari sifat kasih sayang Allah yang hakiki ini.

Mereka mengartikan kasih sayang di sini dengan pemberian nikmat atau kehendak memberi nikmat atau kehendak memberi nikmat.

Menurut akal mereka mustahil Allah memiliki sifat kasih sayang.

Mereka berkata : “Alasannya, sifat kasih sayang menunjukkan adanya kecondongan, kelemahan, ketundukan dan kelunakan.

Dan semua itu tidak layak bagi Allah”.

Bantahan terhadap mereka dari dua sisi.

Pertama : Kasih sayang itu tidak selalu disertai ketundukan, rasa iba dan kelemahan.

Kita lihat raja-raja yang kuat, mereka memiliki kasih sayang tanpa disertai hal itu semua.

Kedua : Kalaupun hal-hal tersebut merupakan konsekuensi sifat kasih sayang, maka hanya berlaku pada sifat kasih sayang yang dimiliki makhluk.

Adapun sifat kasih sayang yang dimiliki Al-Khaliq Subhanahu wa Ta’ala adalah yang sesuai dengan kemahaagungan, kemahabesaran dan kekuasanNya.

Sifat yang tidak akan berkonsekuensi negative dan cela sama sekali.

Kemudian kita katakan kepada mereka : Sesungguhnya akal sehat telah menunjukkan adanya sifat kasih sayang yang hakiki bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pemandangan yang sering kita saksikan pada makhluk hidup, berupa kasih sayang di antara mereka, jelas menunjukkan adanya kasih sayang Allah.

Karena kasih sayang merupakan sifat yang sempurna.

Dan Allah lebih berhak memiliki sifat yang sempurna.

Kemudian sering juga kita saksikan kasih sayang Allah secara khusus, misalnya turunnya hujan, berakhirnya masa paceklik dan lain sebagainya yang menunjukkan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Lucunya, orang-orang yang mengingkari sifat kasih sayang Allah yang hakiki dengan alasan tidak dapat diterima akal atau mustahil menurut akal, justru menetapkan sifat iradah (berkehendak) yang hakiki dengan argumentasi akal yang lebih samar dari pada argumentasi akal dalam menetapkan sifat kasih sayang bagi Allah.

Mereka berkata : “Keistimewaan yang diberikan kepada sebagian makhluk yang membedakannya dengan yang lain menurut akal menunjukkan sifat iradah”.

Tidak syak lagi hal itu benar.
Akan tetapi hal tersebut lebih samar dibanding dengan tanda-tanda adanya kasih sayang Allah.

Karena hal tersebut hanya dapat diketahui oleh orang-orang yang pintar.

Adapun tanda-tanda kasih sayang Allah dapat diketahui oleh semua orang, tidak terkecuali orang awam.

Jika anda bertanya kepada seorang awam tentang hujan yang turun tadi malam : “Berkat siapakah turunnya hujan tadi malam ?” Ia pasti menjawab : “berkat karunia Allah dan rahmatNya”
MASALAH
Apakah basmalah termasuk ayat dalam surat Al-Fatihah ataukah bukan ?
Dalam masalah ini para ulama berbeda pendapat.

Ada yang berpendapat bahwa basmalah termasuk ayat dalam surat Al-Fatihah, harus dibaca jahr (dikeraskan bacaannya) dalam shalat dan berpendapat tidak sah shalat tanpa membaca basmalah, sebab masih termasuk dalam surat Al-Fatihah.

Sebagian ulama lain berpendapat, basmalah tidak termasuk dalam surat Al-Fatihah.

Namun ayat yang berdiri sendiri dalam Al-Qur’an.

Inilah pendapat yang benar.

Pendapat ini berdasarkan nash dan rangkaian ayat dalam surat ini.

Adapun dasar di dalam nash, telah diriwayatkan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Aku membagi shalat (yakni surat Al-Fatihah) menjadi dua bagian, separuh untuk-Ku dan separuh untuk hamba-Ku.

Apabila ia membaca : “Segala puji bagi Allah”. Maka Allah menjawab : “Hamba-Ku telah memuji-Ku”.

Apabila ia membaca : “Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Maka Allah menjawab:

“Hamba-Ku telah menyanjung-Ku”. Apabila ia membaca : “Penguasa hari pembalasan”.

Maka Allah menjawab : “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku”.

Apabila ia membaca : “ Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan”.

Maka Allah menjawab : “Ini separoh untuk-Ku dan separoh untuk hamba-Ku”. Apabila ia membaca : “Tunjukilah kami kepada jalan yang lurus”.

Maka Allah menjawab : “Ini untuk hamba-Ku, akan Aku kabulkan apa yang ia minta”
[3]
Ini semacam penegasan bahwa basmalah bukan termasuk dalam surat Al-Fatihah.

Dalam kitab Ash-Shahih diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyalahu ‘anhu, ia berkata :

“Aku pernah shalat malam bermakmum di belakang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman Radhiyallahu ‘anhum.

Mereka semua membuka shalat dengan membaca : “Alhamdulillaahi Rabbil ‘Aalamin” dan tidak membaca ; ‘Bismillaahirrahmaanirrahiim” di awal bacaan maupun di akhirnya.

[4]
Maksudnya mereka tidak mengeraskan bacaannya.

Membedakan antara basmalah dengan hamdalah dalam hal di keraskan dan tidaknya menunjukkan bahwa basmalah tidak termasuk dalam surat Al-Fatihah.

[Disalin dari kitab Tafsir Juz ‘Amma, edisi Indonesia Tafsir Juz ‘Amma, penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, penerjemah Abu Ihsan Al-Atsari, penerbit At-Tibyan – Solo]
________
Foot Note
[1]. Hadits riwayat Al-Bukhari, dalam kitab Al-Idain, bab : Ucapan Imam dan makmum ketika khutbah ‘ied, no. (985).

Diriwayatkan pula oleh Muslim dalam kitab Al-Adhahi, bab : Waktu Udhiyah no. (1), (1960)
[2]. Hadits riwayat Al-Bukhari dalam kitab Adz-Dzabaih wa Ash-Shaid, bab : Sabda Nabi, “Sembelihlah dengan menyebut asma Allah”. no. (5500). Diriwayatkan pula oleh Muslim dalam kitab Al-Adhahi, bab : waktu Udhhiyah, no. (2). (1960)
[3]. Hadits riwayat Muslim dalam kitab Shalat, bab : Kewajiban membaca Al-Fatihah di setiap raka’at no. (38) (395)
[4]. Hadits riwayat Muslim dalam kitab Shalat, bab : Argumentasi orang-orang yang berpendapat bacaan basmalah tidak dikeraskan, no. (52) (399).

Kita Mulai tafsir ta'awudz

Makna Ta’awudz / Isti’adzah :
Ta’awudz / Isti’adzah, artinya meminta perlindungan. Yakni bacaan :
ﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﺎﻟﻠِﻪ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸََّﻴْﻄَﺎﻥِ ﺍﻟﺮَّﺟِﻴْﻢِ
Artinya: “Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.”
Ta’awudz / Isti’adzah dibaca sebelum membaca Al-Qur’an. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :
ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻗَﺮَﺃْﺕَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺀَﺍﻥَ ﻓَﺎﺳْﺘَﻌِﺬْ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﺍﻟﺮَّﺟِﻴﻢِ
Artinya : “Apabila kamu membaca Al-Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk”. (QS An-Nahl / 16 : 98).

Hakikat Ta’awudz / Isti’adzah :
Ta’awudz / Isti’adzah artinya meminta perlindungan kepada Allah adri segala jenis godaan syaitan.

Syaitan selalu berusaha menyesatkan umat manusia dari jalan yang benar.

Adapun syaitan ini terdiri dari golongan jin dan manusia.

Hal itu sebagaimana disebutkan oleh Allah di dalam ayat yang artinya ;
ﻭَﻛَﺬَﻟِﻚَ ﺟَﻌَﻠْﻨَﺎ ﻟِﻜُﻞِّ ﻧِﺒِﻲٍّ ﻋَﺪُﻭّﺍً ﺷَﻴَﺎﻃِﻴﻦَ ﺍﻹِﻧﺲِ ﻭَﺍﻟْﺠِﻦِّ ﻳُﻮﺣِﻲ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﺇِﻟَﻰ ﺑَﻌْﺾٍ ﺯُﺧْﺮُﻑَ ﺍﻟْﻘَﻮْﻝِ ﻏُﺮُﻭﺭﺍً
Artinya : “Dan demikianlah Kami jadikan musuh bagi setiap Nabi yaitu (musuh yang berupa) syaithan dari golongan manusia dan jin.

Sebagian mereka mewahyukan kepada sebagian yang lain ucapan-ucapan yang indah untuk memperdaya (manusia).” (QS. Al An’am / 6 : 112)
Di dalam hadits yang diriwyatkan oleh Imam Al-Bukhari disebutkan, dari Sulaiman bin Shurad berkata, "Ada dua orang yang saling mencela di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sedangkan kami duduk di hadapan beliau.

Salah seorang dari keduanya mencela lainnya dalam keadaan marah dengan wajah yang merah padam.

Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, 'Sesungguhnya aku akan mengajarkan suatu kalimat yang jika ia mengucapkannya, niscaya akan hilang semua yang dirasakannya itu.

Jika ia mengucapkan,
ﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﺎﻟﻠِﻪ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸََّﻴْﻄَﺎﻥِ ﺍﻟﺮَّﺟِﻴْﻢِ
Dengan mengucapkan Ta’awudz / Isti’adzah menunjukkan bahwa kita sedang memohon pertolongan kepada Allah, sekaligus memberikan pengakuan atas kekuasann-Nya, dan kelemahan sebagai hamba, serta ketidak berdayaan kita dalam melawan musuh yang sesungguhnya yaitusyaitan.

Tidak ada yang mampu menolak dan mengusirnya kecuali Allah yang telah menciptakannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
ﺇِﻥَّ ﻋِﺒَﺎﺩِﻱ ﻟَﻴْﺲَ ﻟَﻚَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺳُﻠْﻄَﺎﻥٌ ﻭَﻛَﻔَﻰ ﺑِﺮَﺑِّﻚَ ﻭَﻛِﻴﻠًﺎ
Artinya, "Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka.

Dan cukuplah Rabbmu sebagai penjaga." (QS Al-Isra' / 17 : 65).
Pada ayat lain Allah berfirman :
ﻭَﺇِﻣَّﺎ ﻳَﻨْﺰَﻏَﻨَّﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﻧَﺰْﻍٌ ﻓَﺎﺳْﺘَﻌِﺬْ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻧَّﻪُ ﺳَﻤِﻴﻊٌ ﻋَﻠِﻴﻢٌ
Artinya, "Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan, maka berlindunglah kepada Allah.

Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS Al-A'raf / 7 : 200).

Untuk itu, Allah pun mengajarkan kita agar berlindung dari godaan syaitan dan dari kehadirannya, sebagaimana firman-Nya :
ﻭَﻗُﻞْ ﺭَﺏِّ ﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﻫَﻤَﺰَﺍﺕِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦِ () ﻭَﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﺭَﺏِّ ﺃَﻥْ ﻳَﺤْﻀُﺮُﻭﻥِ ()
Artinya, " Dan katakanlah: 'Ya Rabb-ku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan.

Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Rabb-ku, dari kedatangan mereka kepadaku." (QS Al-Mu’minun / 23 : 97-98).

Demikian, semoga dengan kita membaca Ta’awudz / Isti’adzah, kita terhindar dari godaan syaitan yang terkutuk.

Sekaligus member spirit kepada kita untuk gemar membaca Al-Quran, ayat-ayat Allah, yang selalu dimulai dengan Ta’awudz / Isti’adzah. Wallahu a’lam bishshowwab.

semoga anda menjadi orang yang di lindung.

Tata cara nikah

Menikah adalah sebuah siklus hidup yang seharusnya akan dijalani setiap manusia.

Sebagai siklushidup dan momentum untuk menyatukan dua insan dan berumah tangga, prosesi menikah ini tidak bisa dipandang sebelah mata.

Maka dari sini pada beberapa suku bangsa tertentu, prosesi pernikahan memunculkan beragam aturan dan tata cara serta tradisi tertentu.

Maka dari itu karena prosesi pernikahan ini begitu penting maka Anda harus mengetahui tata cara menikah yang legal dan resmi yang umumnya di lakukan di KUA (KantorUrusanAgama).

Lalu seperti apakah tata cara atau prosedur serta pembiayaannya berikutini.

Persyaratan untuk Menikah di KUA
Kantor Urusan Agama via kua-
Prosedur pertama dalam prosesi pernikahan di KUA adalah Anda harus memenuhi beberapa persyaratannya berikut ini yaitu :

1. Surat keteranganuntuk nikah (modelN1),
2. Surat keteranganasal- usul (modelN2),
3. Surat persetujuan mempelai (modelN3),
4. Surat keterangan tentang orangtua (modelN4),
5. Surat pemberitahuan hendak nikah (modelN7) apabila calon pengantin berhalangan, pemberitahuan nikah dapat di lakukan oleh wali atau wakilnya.
6. Bukti imunisasi TT (Tetanus Toxoid) I calon pengantin wanita, Kartu imunisasi, dan ImunisasiTT II dari Puskesmas setempat.
7. Membayar biaya pencatatan nikah sebesarRp30.000,- .
8. Surat izin pengadilan apa bila tidak ada izin dari orang tua/wali; 9. Pas foto ukuran3 x 2 sebanyak 3 lembar;
10. Dispensasi dari pengadilan bagi calon suami yang belum berumur 19 tahun dan bagi calon istri yang belum berumur16tahun;
11. Bagi anggota TNI/POLRI membawa surat izin dari atasan masing- masing;
12. Surat izin Pengadilan bagi suami yang hendak beristri lebih dari seorang;
13. Akta cerai atau kutipan buku pendaftaran talak/buku pendaftaran cerai bagi mereka yang perceraiannya terjadi sebelum berlakunya Undang- Undang Nomor7 tahun1989;
14. Surat keterangan tentang kematian suami/istri yang di tandatangani oleh Kepala Desa/Lurah atau pejabat berwenang yang menjadi dasar pengisian model N6 bagi janda/duda yang akan menikah.

Sedangkan dalam proses pengurusan Surat Nikah ke KUA, Anda harus memenuhihal- hal berikutini:

CALON SUAMI
1. Pengantar RT- RW di bawa ke Kelurahan setempat untuk mendapatkan Isian Blangko N1, N2, N3 & N4. 2.
Datang ke KUA setempat untuk mendapatkan Surat Pengantar/Rekomendasi Nikah (Jika calon Istri beralamat lain daerah/Kecamatan). 3. Jika calon Istri sedaerah/Kecamatan, berkas calon Suami di serahkanke pihak calonIstri.

LAMPIRAN
1. Foto kopi KTP,
2. Akte Kelahiran& C1(Kartu KK).
3. Pas Foto 3x 4 = 2 lembar, jika calon istri luar daerah,
4. Pas Foto2 x 3 = 5 lembar, jika calonistri sedaerah/Kecamatan
CALON ISTRI
1. Pengantar RT- RW dibawa ke Kelurahan setempat untuk mendapatkan Isian Blangko N1, N2, N3 & N4. 2.
Datangke KUA setempat untukmendaftarkan Nikah dan pemeriksaan administrasi (bersama Wali dan calon suami)
3. Calon Suami dan Calon Istri sebelum pelaksanaan nikah akan mendapatkan Penasihatan Perkawinan dariBP4.

LAMPIRAN
1. Foto kopi KTP,
2. Akte Kelahiran & C1(Kartu KK) caten.
3. Foto kopi Kartu Imunisasi TT
4. Pas Foto latar biru ukuran 2X 3 masing- masing caten5 lembar.
5. Akta Cerai dari PA bagi janda/ duda cerai.
6. Dispensasi Pengadilan Agama bila usia kurang dari 16 tahun dan19 tahun.
7. Izin atasan bagi anggota TNI/ POLRI
8. Surat Keterangan Kematian Ayah bila sudah meninggal
9. Surat Keterangan Wali jika Wali tidak sealamat dari Kelurahancsetempat
10. Dispensasi Camat bila kurang dari 10 hari
11. N5 (surat izin orangtua) bila usia caten kurang dari 21tahun.
12. N6 (Surat Kematian suami/istri) bagi janda/duda meninggaldunia.

Saat ini telah ada Peraturan Pemerintah baru ya itu PPNo 48 Tahun2014 yang mengganti PP Nomor 47 tahun2004 tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara BukanPajak (PNBP).

Dalam peraturan yang baru ini di atur ketentuan sebagai berikut:

1. Bila proses nikah di lakukan di kantor KUA pada jam kerja kantor maka biayanya yaitu Rp 0 alias gratis.
2. Namun bila proses nikah di lakukan di luar kantor KUA atau di KUA tapi di luar jam kerja maka di kenakan biaya administratif sebesar Rp600.000,-

Minggu, 02 Juli 2017

penataran pernikahan

Sekitar jam 8-an Pak Aden Ismail dia kepala KUA yang mau jadi pembicara penataran pra nikah.

di kira bakal ada banyak peserta gitu kaya seminar, ternyata cuma vina sendiri.

Terus kita di suruh duduk di mejanya dia.

Dia bilang "Kita mulai nyaa.." (kita mulai yaah).

Baca Shalawat, pembukaan dan langsung ke isi pokok penataran pra nikah.

Hihihi, gue bingung gimana jelasinnya, secara gue nggak nyatet apa-apa pas penataran,

cuma dengerin aja gitu senyam-senyum sambil jawab beberapa pertanyaan yang diajuin pak Aden Ismail.

Gue tulis urutannya aja kali yaa sekilas sama apa yang gue inget.

Pertama sesi konfirmasi data.

Jadi sebelumnya kita kan udah bikin NA, nah data itu di konfirmasi biar valid, Misal status, nama ortu, alamat, dan lain-lain.

Kedua, sesi tanya jawab.

Hihihi disini gue  bingung, yang di tanyain :

a. Alasan menikah
b. Kenapa nikahnya sama dia?
c. Koo bisa cinta?
d. Dia kelebihannya apa?
e. Sudah benar-benar siap menikah?

Menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing?
Kalau di tanya secara tertulis sih nggak masalah, yang masalah di tanya lisan.

Di depan orang-orang.

Masih banyak pertanyaan lain, yaa pribadi-pribadi gitu lah ya.

Bodor sih, berasa lagi ujian praktek.

Ketiga, di jelasin Kewajiban Suami - Istri seteleh Menikah.

Kewajiban suami lebih banyak dari kewajiban istri secara point, tapi posisinya sama aja, lurusin niat kalo menikah itu buat "Ibadah".
Kewajiban Suami :

a. Menafkahi Istri, nafkah lahir dan batin.

Bagian ini paling amazing buat aq aq baru tahu kalau sebenernya masak, nyuci, nyetrika, ngepel itu kewajiban Suami.

Hehehe aq berasa seneng.

Jadi salah yaa kalau tugas wanita "di dapur dan dikasur".

Tapi kenapa banyak orang berpendapat pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan istri? Nanti di jawab sama pak penghulunya.

Kewajiban Istri :
a. Taat pada Allah SWT, taat pada Rasullullah, dan taat pada Suami.

WAJIB hukumnya buat seorang Istri taat sama suami.

Apapun yang suami perintahkan selama masih sesuai dengan perintah Allah dan Rasulullah itu wajib di turutin.

Keempat, Menikah itu ibadah.
Berlomba-lombalah dalam kebaikan.

Berlomba-lombalah mencari Ridho Allah dalam sebuah pernikahan.

Inilah yang menjadi poin dimana mengapa istri di cap sebagai seseorang yang bertanggung jawab dalam pekerjaan rumah tangga, padahal itu adalah kewajiban seorang suami.

Jadi seorang istri yang baik adalah yang bisa meringankan kewajiban suaminya.

Kelima, Hal yang jangan di lakukan dalam pernikahan

1. Membandingkan Suami/Istri dengan orang lain.

Misal, sayang kamu mirip sama adek gue.

Atau sayang kamu mirip sama kakak gue.

Dan jangan juga berkata "Kamu adalah pengganti Ibu-ku/ Kamu adalah pengganti Ayah-ku." JANGAN.

2. Mengungkit-ungkit kewajiban
Nah ini biasanya kejadian sama kaum istri, mengungkit kewajiban suami.

Misal suaminya baru balik kerja, terus rumahnya berantakan.

Eh istrinya langsung bilang "Sayang, beberes rumah kan kewajiban kamu!"

3. Mempermainkan Talak dan Rukun
Nah ini, kalau jaman pacaran bisa lah yah bilang "Kita putus aja ya.." eh lima detik kemudian jadian lagi.

Nikah juga bisa, ketika talak 1 dan talak 2, bisa aja kita rujuk sedetik kemudian, tapi kalau udah 3 kali? Istri harus nikah dulu sama orang lain setelah melewati masa idah.

OMG.
Talak 1 itu ketika kata-kata "berpisah" sekali terlontar.

Talak 2 adalah kedua kalinya, dan talak 3 ketiga kalinya.

Secara biasanya wanita itu lebih sensitif dan lebih sering bilang "berpisah".

Tapi yang memutuskan talak itu PRIA.

Sementara masa idah istri adalah 40 hari setelah nifas (Nifas adalah masa sehabis melahirkan, note buat yang istrinya lagi hamil) .

atau 3 kali masa menstruasi buat yang nggak lagi hamil.

"Tuhan tidak mengharamkan perceraian, tapi perceraian adalah hal yang di benci oleh-NYA."

Nah begitulah kira-kira isi penataran pra nikah.

Sebenernya masih banyak sih hal yang nggak aq tulis, secara gue juga nggak inget semua.

Pas penataran pra nikah itu pak Aden ismail juga ngasih dalil-dalil pake basa arab dan artinya, tapi nggak gue inget semua.

musibah helikopter jatuh

Helikopter Basarnas dikabarkan hilang sekitar pukul 16.00 WIB. Helikopter itu diduga menabrak tebing di Gunung Butak, Temanggung. Saat helikopter tersebut jatuh, cuaca di lokasi sekitar diselimuti kabut tebal.

Kondisi helikopter diketahui rusak parah akibat insiden tersebut.

Sementara itu, ada 9 orang yang diketahui berada dalam helikopter tersebut.

4 orang di antaranya diketahui telah meninggal dunia.