Minggu, 18 Oktober 2020

MUI Temui Langsung Presiden di Istana Bogor, Jokowi Menolak Cabut UU Ciptaker


Presiden Joko Widodo (Jokowi). 
PIKIRAN RAKYAT - Rombongan pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) dipimpin oleh Wakil Ketua MUI Muhyiddin Junaidi, dikabarkan telah menemui Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Bogor, Jumat 16 Oktober 2020 sekitar pukul 10.00 WIB.

Kabar pertemuan antara MUI dan Jokowi ini disampaikan oleh Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) MUI Najamudin Ramli.

Baca Juga: Santai Serasa di Pantai Dengan Iced Coffee Sea Salt Caramel [PR]

Najamudin Ramli menjelaskan maksud pertemuan MUI dengan Jokowi. Ia mengatakan, pengurus MUI menyampaikan ketidaksetujuan masyarakat terutama umat Islam kepada Omnibus Law UU Cipta Kerja.

Baca Juga: Aktivis KAMI Diborgol dan Pakai Baju Tahanan, Awi: Perlakuan ke Jendral Kasus Djoko Tjandra pun Sama

"Buya Muhyidin Junaedi menyampaikan bahwa undang-undang Cilaka, atau sekarang Cipta Kerja ini ditolak oleh umat dan berbagai elemen masyarakat dengan unjuk rasa," ungkap Najamudin Ramli dalam webinar 'Lintas Elemen Tolak UU Omnibus Law Cipta Kerja, Serius?' yang digelar Pusat Kajian Analisis Data (PKAD), Sabtu 17 Oktober 2020.



Bosan Sekolah Daring? Yuk Ikutan Belajar Tari Jaipong di Bandung


(Foto: Istimewa)

Bandung - Kemajuan teknologi saat ini dikhawatirkan sedikit demi sedikit menggerus kesenian tradisional. Mencegah hal itu, seniman di Jawa Barat mendirikan sebuah sanggar khusus tari kesenian Jabar, Jaipong.
Sanggar tari Jaipong bernama Ayunindya's pimpinan Kusbandi itu didirikan di Asrama Bangka Cipaheut Kidul, Jalan Cigadung Raya Barat, Kelurahan Cigadung, Kecamatan Cibeunying Kaler, Kota Bandung pada Minggu (18/10/2020).

Pimpinan sanggar, Kusbandi, mengatakan pembukaan sanggar itu dilatarbelakangi kekhawatirannya akan kemajuan teknologi yang bisa melupakan kesenian tradisional. Berangkat dari hal itu, dia pun mendirikan sanggar guna melestarikan kesenian tradisional khususnya tari Jaipong.

"Didasari atas keprihatinan orang tua terhadap kemajuan teknologi yang berdampak pada penurunan nilai-nilai tradisi seni dan budaya terutama tari Jaipong yang hampir dilupakan oleh sebagian generasi muda. Atas dasar tersebut kami berinisiatif untuk kembali mengingatkan khusus generasi muda mencintai seni dan budaya sendiri," ujar Kusbandi dalam rilis yang diterima .

Tari Jaipong sendiri merupakan kesenian tradisional khas Jawa Barat yang sudah lahir sejak lama atau tepatnya pada tahun 1960. Tarian yang dikenalkan pertama kali oleh Gugum Gembira ini biasa disebut 'ketuk tilu' yang berasal dari Karawang dan dikembangkan di Bandung.


Di sanggar milik Kusbandi sendiri, Tari Jaipong jadi yang utama. Para murid, akan diajarkan oleh Intandia Kusmiati. Pengajar berusia muda ini punya sederet prestasi baik di dalam maupun luar negeri. Berbagai event hingga tampil di TV sudah sering dilakukan perempuan berusia 22 tahun ini.

"Sanggar yang kami beri nama Ayunindya's mempunyai arti putri cantik yang memiliki kelebihan dan prestasi. Penari yang bisa membanggakan dan sukses di masa depan dengan prestasi Jaipong yang mereka punya", ucap Intan.

Intan mengatakan sanggar ini juga dibuka guna membunuh kejenuhan anak-anak di masa pandemi COVID-19. Sebab, selama ini anak-anak sekolah melalui daring.

"Mengisi waktu di saat pandemi dengan mengikuti latihan tari jaipong untuk mengurangi kejenuhan sekolah di rumah (daring)," katanya.

Intan mengatakan saat ini ia mengajar murid yang berusia anak dari 5-12 tahun.

"Adapun tuntutan tersendiri di saat mengajar anak di usia 5 tahun karena belum bisa fokus dan konsentrasi dituntut kesabaran. Saat ini yang belajar dari usia 5 tahun hingga 12 tahun," katanya.


Sabtu, 17 Oktober 2020

JOTA JOTI Di ORARI Lokal Tuban



Jakarta (17/10). Jota Joti 2020 merupakan acara yg ditunggu tunggu adik-adik Pramuka diseluruh Indonesia, tak terkecuali anggota Pramuka Kwarcab Tuban.

Dengan antusias mereka mengikuti setiap tahap pembekalan di Sekretariat ORARI Lokal Tuban YH3AX di Jl. Pramuka 30 Tuban, sebelum melakukan komunikasi radio baik melalui HF radio maupun melalui Satelit Amatir LAPANA2/LAPAN ORARI (IO-86) kebanggan Indonesia.

Pemateri pembekalan oleh Ketua ORARI Lokal Tuban YB3ANX kak Heri, dan Waka ORARI Lokal Tuban YE3ETF kak Hendra , menyajikan apa dan bagaimana tata cara berkomunikasi via Frequensi tersebut.

Dibantu oleh YD3DPS kak Iwan Setia Budi dan YD3GHN kak Lilik, sebagai pendamping komunikasi Lapangan, adik-adik kita sangat antusias mengikuti setiap petunjuk yang diberikan.

Dengan menggunakan Callsign JOTA YH3AJX, meskipun baru pertama kali memegang perangkat komunikasi, mereka secara cepat bisa mengaplikasikan dalam bentuk komunikasi radio secara tepat dan benar.

Suatu kehormatan dan kebanggaan bisa mendampingi adik-adik Pramuka untuk ikut dan berperan aktif dalan even Jota Joti 2020 kali ini.


sumber: https://web.facebook.com/om.soeryo
Dokumentasi oleh YD3FVY kak Muhammad Rofiq

TOURING RAPI LOKAL 4 SAGULING

KABUPATEN BANDUNG - Panitia lokal 04 cibeunying kota bdg di ikuti juga oleh lokal lain termasuk kab bdg.

keberagaman anggota yang memiliki motto : "Pantang Pulang Sebelum Kenyang!!". 

Artinya tidak akan mundur dan pulang sebelum kenyang merasakan keletihan tubuh, tidak akan mundur dan pulang sebelum kenyang menikmati keindahan alam, dan tentunya... tidak akan mundur dan pulang sebelum kenyang menikmati kuliner sepanjang jalan.......


Tgl 17 Oktober 2020.
Secara aklamasi ditetapkan untuk mencoba jalur dengan titik akhir Waduk Saguling. 

Jalur ini dipilih karena indahnya pemandangan sepanjang jalan (katanya kata Haji Deek), adanya situs-situs yang bisa menambah wawasan (katanya juga) dan tentunya keterkenalan nama Waduk Saguling sendiri (kalau yang ini sih bukan katanya).

Kami sebenarnya buta sama sekali akan trek ini... pengetahuan kami hanya sebatas informasi yang kami dapat dari internet. 

Oleh karena itu kami akan menjalani jalur on road saja untuk mencapai Waduk dengan dengan beberapa Motor mengikuti dari belakang. 

Ferdinand Sebut Anies Baswedan Bodoh, Rektor Ibnu Chaldun: Anda Siapa dan Sekolah Dimana?

17 Oktober 2020, 05:39 WIB

Ferdinand Hutahaean mantan Kader partai Demokrat /Tasikmalaya pikiran-rakyat.com

MANTRA SUKABUMI - Mantan politisi Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean menyebut Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bodoh terkait pelajar yang turun dalam aksi demo menolak Omnibus Law Undang-undang Cipta Kerja (UU Ciptaker).

Hal itu diungkapkan Ferdinand melalui akun Twitter miliknya beberapa waktu lalu dengan menyebut jika benar penyataan Anies bahwa pelajar yang peduli terhadap perkembangan bangsa dan perlu dirangsang betapa bodohnya dia.

Baca Juga: Penawaran Menarik Xpander Cross, Cicilan Mulai Dari 4 Jutaan[PR]

“Maaf Nies, jika ini benar Anda bicara seperti ini, betapa bodohnya ternyata Anda. Hanya nasibmu yang sedang bagus jadi Gubernur dan pernah jadi Menteri meski dipecat,” tulisnya seperti dilihat mantrasukabumi.com pada Sabtu, 17 Oktober 2020.

Jumat, 16 Oktober 2020

Istana Soroti Habib Rizieq akan Pimpin Revolusi, Ketua PA 212: Jokowi Juga Ngomong Revolusi Mental


Simpang Siur Kabar Kepulangan Habib Rizieq, PA 212 Benarkan dan Pemerintah Sebut Masih Ada Masalah 

TRIBUNNEWS.COM - Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab disebut akan segera pulang ke Indonesia.

Bahkan, Habib Rizieq Shihab disebut oleh Ketua Umum FPI Shobri Lubis akan pimpin revolusi terkait penolakan Undang-undang Cipta Kerja.

Menanggapi itu, pihak istana melalui Tenaga Ahli Utama Kepresidenan, Irfan Pulungan menyinggung apa sebenarnya maksud revolusi tersebut.

Hal itu diungkapkan Irfan Pulungan saat menjadi narasumber di acara Apa Kabar Indonesia Pagi tvOne pada Kamis (15/10/2020).


"Tapi kan yang menarik informasi ini disampaikan saat demo kemarin, nanti akan datang, akan memimpin revolusi."

"Pernyataan revolusi itu juga menarik juga, harus kita cermati," ujar Irfan.

Saat ditanya apakah kata tersebut berbahaya, Irfan hanya menjelaskan jika memang melanggar ketentuan maka harus ditindak secara hukum.

"Ya sepanjang melanggar ketentuan termuat undang-undang pidana kita ya maksud saya ya harus dipertanggungjawabkan oleh yang bersangkutan," ungkapnya.

"Karena pernyataan itu disampaikan di muka umum di depan publik. Karena makna kata revolusi itu apa yang dimaksudkan oleh Ustaz Shobri," imbuh Irfan.

Menanggapi komentar Irfan soal kata revolusi, Ketua Persaudaraan Alumni (PA) 212 lantas mengungkit kata-kata Jokowi saat awal memimpin Indonesia terkait revolusi mental.


Warga Diteror 'Kuyang', MUI Bandung: Hindari Perbuatan Syirik


Lokasi pemburuan kuyang di Baleendah, Kabupaten Bandung. 
Warga Bandung diteror kuyang (Foto: Muhammad Iqbal)
Bandung - 

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bandung mengimbau agar warga dapat menghindari perbuatan syirik di tengah kejadian teror yang dialami warga Baleendah, Kabupaten Bandung.

Sebelumnya, teror tersebut bermula dari sebuah video yang ramai di media sosial. Dari video itu disebutkan bahwa warga sedang memburu hantu yang sudah meneror warga selama dua Minggu ke belakang. Video itu pun viral dan menjadi perhatian bagi para pemburu hantu.

"Pertama tentang kuyang, jadi kami beranggapan bahwa itu merupakan persoalan gaib yang tentunya kita harus berhati hati dalam memahami isu seperti itu. Karena masalahnya yang gaib itu hanya berdasarkan wahyu Allah kita bisa mengatakan itu jenis dan karakteristiknya seperti apa," kata Kabid Infokom MUI Kabupaten Bandung Aam Muamar via telepon, Jumat (16/10/2020).

Aam melanjutkan, agar warga tidak percaya akan isu-isu seperti itu. Adapun benar menampakkan diri, kata Aam, warga diharapkan tidak melakukan syirik, takluk atau menyembah selain Allah.

"Pertama masyarakat diimbau untuk tidak percaya terkait isu-isu yang seperti itu. Yang kedua kita juga menghimbau agar masyarakat berhati-hati berkaitan pemberitaan seperti itu kan bisa jadi membuat kita satu perbuatan yang disebut dengan syirik," tutur dia.

Selain itu, Aam pun mengingatkan warga agar kembali mendekatkan diri kepada Allah. Di mana, warga dapat melakukan beberapa ibadah yang bisa dilakukan seperti membaca dan memahami Al-Qur'an.

"Kemudian yang ketiga, kalau pun yang dilihat warga di Baleendah bisa dibuktikan maka cara kita tidak lain adalah berserah diri kepada Allah, karena tidak ada kekuatan yang bisa melebih Allah. Caranya dengan mendekatkan diri kepada Allah, membaca Al-Quran, perbanyak dzikir dan sebagainya," papar Aam.

Di pihak lain, Lurah dari Kelurahan Warga Mekar Agus Saefuloh mengatakan, dirinya akan mengimbau agar warga tidak perlu khawatir atas kejadian teror oleh mahkluk gaib serupa 'kuyang' tersebut.

"Kalau dari pemerintahan, kami mengimbau kepada masyarakat melalui RT RW jangan terpancing pada masalah yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Masyarakat jangan terpengaruh terhada hal yang mistik," singkatnya.