Sabtu, 17 November 2018

Pase hidup manusia

PERJALANAN HIDUP MANUSIA :

Sesungguhnya jika manusia memperhatikan perjalanan hidupnya, sejak ia diciptakan sampai akhir hidupnya di dunia ini, pasti akan mendapati banyak bukti kekuasaan Allâh Azza wa Jalla . 

Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla sering mengingatkan manusia akan hal ini, agar mereka ingat dan waspada dalam menjalani hidup ini, yaitu supaya tetap beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla semata dan tidak beribadah kepada selain-Nya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ ﴿٢٠﴾ وَفِي أَنْفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allâh) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? [adz-Dzâriyât/51: 20-21]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :

أَوَلَمْ يَرَوْا كَيْفَ يُبْدِئُ اللَّهُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ﴿١٩﴾قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ ۚ ثُمَّ اللَّهُ يُنْشِئُ النَّشْأَةَ الْآخِرَةَ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allâh menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). 

Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allâh. 

Katakanlah, “Berjalanlah di (muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana Allâh menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allâh menjadikannya sekali lagi. 

Sesungguhnya Allâh Maha Kuasa atas segala sesuatu. [al-‘Ankabût/29: 19-20]

MASA KUAT DIANTARA DUA MASA LEMAH


Allâh Azza wa Jalla telah mengingatkan bahwa mengalami dua kali masa lemah yaitu di awal dan di akhir penciptaannya. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban.

 Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha mengetahui lagi Maha Kuasa. [ar-Rûm/30:54]

Imam Ibnu Katsîr rahimahullah berkata tentang ayat ini, “Allâh Azza wa Jalla mengingatkan perpindahan manusia dalam fase-fase penciptaannya, dari satu keadaan ke keadaan berikutnya. 

Asal manusia adalah dari tanah, lalu dari nuth-fah (setetes mani), lalu segumpal darah, lalu segumpal daging, lalu menjadi tulang-tulang, lalu dibungkus dengan daging. 

Dan ditiupkan roh padanya, lalu dia keluar dari perut ibunya dalam keadaan lemah tanpa daya dan kekuatan. Kemudian dia tumbuh sedikit demi sedikit sehingga menjadi bayi, lalu menjadi anak muda, lalu menginjak puber, lalu menjadi pemuda (yang kuat).

 Inilah masa kuat setelah masa lemah. Kemudian (kekuatannya) mulai berkurang, lalu menjadi tua, bertambah tua, lalu menjadi pikun. 

Inilah masa lemah setelah masa kuat. Keinginan menjadi melemah, juga gerakan dan ketangkasan. Rambut menjadi beruban, sifat-sifat lahir dan batin juga berubah.” [Tafsîr al-Qur’ânil ‘Azhîm, Ibnu Katsir, surat ar-Rûm/30: 54]

MASA LEMAH PERTAMA


Allâh Azza wa Jalla banyak menerangkan masa lemah yang pertama pada manusia, yaitu sejak Allâh Azza wa Jalla menciptakannya dalam perut ibu. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

أَلَمْ نَخْلُقْكُمْ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ﴿٢٠﴾فَجَعَلْنَاهُ فِي قَرَارٍ مَكِينٍ﴿٢١﴾إِلَىٰ قَدَرٍ مَعْلُومٍ﴿٢٢﴾فَقَدَرْنَا فَنِعْمَ الْقَادِرُونَ

Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina ? Kemudian Kami meletakkannya dalam tempat yang kokoh (rahim), sampai waktu yang ditentukan, lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah Sebaik-baik yang menentukan. [al-Mursalât/77: 20-23]

Ketika menjelaskankan ayat ke-54 dari Surat ar-Rûm, Syaikh Abdurrahman Nâshir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Allâh memberitahukan keluasan ilmu-Nya, kebesaran kemampuan-Nya, dan kesempurnaan hikmah-Nya. Allâh memulai penciptaan manusia dari masa lemah, yaitu fase-fase awal dari penciptaannya, mulai setetes air mani, lalu segumpal darah, lalu segumpal daging, sehingga menjadi janin dalam rahim sampai dilahirkan, sebagai bayi. Saat itu dia berada dalam kondisi sangat lemah, tidak memiliki kekuatan dan kemampuan. 

Kemudian Allâh selalu menambahkan kekuatan sedikit demi sedikit sehingga mencapai usia pemuda, kekuatannya sampai puncaknya, dan menjadi sempurna kekuatan lahiriyah dan batiniyahnya.

 Kemudian manusia berpindah dari fase ini dan kembali menuju kelemahan, beruban, dan kepikunan”. [Taisîrul Karîmir Rahmân, Surat ar-Rûm/30: 54]

MASA KUAT MANUSIA


Diri manusia adalah lemah, kalau bukan pertolongan Allâh niscaya manusia tidak akan memiliki kekuatan dan kemampuan.

 Dan kekuatan manusia itu jika selalu bertambah sering menjadikan mereka lupa kepada Sang Pencipta. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ

Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata. [an-Nahl/16: 4]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :

أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ﴿٧٧﴾وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ ۖ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ﴿٧٨﴾قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ

Apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata! 

Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata, “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?” Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. 

Dan Dia Maha mengetahui tentang segala makhluk. [Yâsîn/36: 77-79]

Lihatlah bagaimana manusia yang dikelilingi kelemahan dalam fase-fase hidupnya, ketika berada dalam masa kuat, dia membantah Rabbnya Yang Maha Perkasa! Alangkah hinanya manusia ini ! Ia melupakan nikmat Rabbnya lalu mengingkari kekuasaan-Nya !

MASA LEMAH KEDUA


Allâh Azza wa Jalla juga mengingatkan akhir fase kehidupan manusia yang diberi umur panjang di dunia, yaitu masa pikun, penyakit yang tidak ada obatnya. 

Hanya kematian yang dia nanti, tidak ada lain lagi. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ ثُمَّ يَتَوَفَّاكُمْ ۚ وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَىٰ أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْ لَا يَعْلَمَ بَعْدَ عِلْمٍ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ قَدِيرٌ

Allâh menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. 

Sesungguhnya Allâh Maha mengetahui lagi Maha Kuasa. [an-Nahl/16:70]

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَمَنْ نُعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِي الْخَلْقِ ۖ أَفَلَا يَعْقِلُونَ

Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian(nya) (maksudnya: kembali menjadi lemah dan kurang akal-pent).

 Maka apakah mereka tidak memikirkan? [Yâsîn/36: 68]

RATA-RATA UMUR UMAT SEKARANG


Umur umat ini lebih pendek bila dibandingkan dengan umur umat-umat di zaman dahulu. 

Oleh karena itu, selayaknya kita memperhatikan pemanfaatan umur kita yang singkat ini ?

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَعْمَارُ أُمَّتِى مَا بَيْنَ سِتِّينَ إِلَى سَبْعِينَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dia berkata bahwa Rasûlullâh n bersabda, “Umur ummatku berkisar antara enam puluh sampai tujuh puluh tahun, dan sedikit yang melewatinya.” [HR. Tirmidzi; dihasankan oleh al-Albâni]

Imam al-Mubârakfûri rahimahullah berkata, “Sabda Nabi “Umur ummatku berkisar antara enam puluh sampai tujuh puluh tahun”, yaitu, akhir mayoritas umur umatku antara keduanya, “dan sedikit yang melewatinya”, yaitu melewati tujuh puluh tahun sehingga mencapai seratus tahun atau lebih. 

al-Qâri’ rahimahullah berkata, “Umur paling panjang yang kami ketahui dari kalangan umat ini dari kalangan para sahabat dan para imam yang diberi umur panjang adalah umur Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu, beliau wafat ketika berumur 103 tahun. 

Juga Asmâ’ binti Abu Bakar Radhiyallahu anhuma yang wafat dengan umur 100 tahun, dengan tanpa satu gigi-pun yang tanggal dan tanpa mengalami kepikunan. 

Ada lagi yang umurnya melebihi keduanya, yaitu Hasan bin Tsâbit Radhiyallahu anhu yang wafat dengan umur 120 tahun, beliau hidup 60 tahun di zaman jahiliyah dan 60 tahun di zaman Islam. 

Yang lebih panjang lagi umurnya adalah Salmân al-Fârisi, konon beliau hidup selama 250 tahun, ada yang mengatakan hidup selama 350 tahun, namun yang awal lebih benar”. [Tuhfatul Ahwadzi, 9/376-377]

Karena rata-rata umur umat ini antara 60-70 tahun, maka barangsiapa telah mencapai usia ini dan sudah datang padanya dakwah, namun dia tetap tidak beriman, maka alasannya tidak akan diterima oleh Allâh Azza wa Jalla . Sebagaimana hadits :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ : أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَى امْرِئٍ أَخَّرَ أَجَلَهُ حَتَّى بَلَّغَهُ سِتِّينَ سَنَةً

Allâh meniadakan hujjah atau alasan seseorang yang Dia telah memanjangkan ajalnya (umurnya) sehingga Dia memberinya umur enam puluh tahun. [HR. Bukhâri, no. 6419]

Dan inilah jawaban Allâh Azza wa Jalla kepada orang-orang kafir penghuni neraka ketika mereka memohon untuk dikembalikan ke dunia, sebagaimana firman-Nya :

وَالَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ نَارُ جَهَنَّمَ لَا يُقْضَىٰ عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا وَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمْ مِنْ عَذَابِهَا ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي كُلَّ كَفُورٍ﴿٣٦﴾وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ ۚ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ ۖ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ

Dan orang-orang kafir bagi mereka neraka jahannam. 

Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya.

 Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir. 

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu , “Ya Rabb kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang shaleh berbeda dengan yang telah kami kerjakan”. 

Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zhalim seorang penolongpun. [Fâthir/35: 36-37]

Yang dimaksud dengan “memanjangkan umurmu” di dalam firman Allâh “Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir”, adalah umur 60 tahun sebagaimana hadits di atas. 

Oleh karena itu, orang yang telah berumur 60 ke atas hendaklah waspada, kematian bisa datang secara tiba-tiba, dan menamatkan hidupnya di dunia.

Inilah tulisan ringkas semoga menggugah kita untuk selalu berbenah diri menyiapkan bekal menuju esok hari (akhirat). 

Dan semoga Allâh selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada kita sehingga meraih kebahagiaan disisi-Nya.


  SEMOGA BERMANFAAT ....

Jumat, 16 November 2018

Puluhan Santri di Garut Keracunan Diduga Usai Santap Seblak

Puluhan Santri di Garut Keracunan Diduga Usai Santap Seblak

Keracunan massal di Garut (Foto: Istimewa)

Garut - Puluhan santri salah satu pondok pesantren di Kabupaten Garut keracunan massal diduga usai mengkonsumsi makanan seblak. Para santri hingga kini masih menjalani perawatan di sejumlah Puskesmas.

Keracunan massal terjadi Jumat (16/11/2018) malam, di salah satu ponpes yang terletak di Desa Ciburuy, Kecamatan Bayongbong.

"Keracunan makanan. Korban ada 37 orang," ujar Kepala Puskesmas Bayongbong Selain Elan Suherlan, saat dihubungi wartawan, Jumat (16/11/2018).

Para santri merasakan mual dan muntah. Data terbaru yang dihimpun, santri yang menjadi korban berjumlah 37 orang. Mereka rata-rata berusia 13-16 tahun.

"Umumnya santri mengalami gejala muntah, pusing, serta diare," katanya.

Para santri sendiri telah mendapat pertolongan. Mereka masih menjalani perawatan intensif. Mereka dirawat di Puskesmas Bayongbong, Puskesmas Samarang, dan Puskesmas Cisurupan.

Penyebab pasti keracunan masih diselidiki polisi. Informasi yang beredar, para santri diduga keracunan setelah menyantap jajanan seblak.

Ayat ayat sajadah


 

Ayat-Ayat Sajdah dan Tata Cara Sujud Tilawah

Sujud tilawah hukumnya sunnah ketika mendengar ayat-ayat sajadah dibacakan

Sujud tilawah hukumnya sunnah ketika mendengar ayat-ayat sajadah dibacakan, baik ketika shalat maupun di luar shalat. Disebut dengan ayat sajadah karena ayat tersebut menjelaskan kata sujud dan disunnahkan untuk bersujud. Adapun ayat sajadah ada pada 14 tempat dalam Al-Quran, yaitu:

Q.S. Al-A’rof: 206,

إِنَّ الَّذِينَ عِنْدَ رَبِّكَ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيُسَبِّحُونَهُ وَلَهُ يَسْجُدُونَ


Islami.co dihidupi oleh jaringan penulis dan tim editor yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. 


Jika kamu ingin agar kami bisa terus melahirkan artikel atau video yang mengedukasi publik dengan ajaran Islam yang ramah, toleran dan mencerahkan, silakan sisihkan sedikit donasi untuk kelangsungan kami.

ayat sajdah Belajar Islam sujud tilawah tata cara sujud


PREVNarendra Modi Menjadi Perdana Menteri India Pertama yang Kunjungi Palestina

NEXTBenarkah Terjadi Perang di Syam Pada Akhir Zaman?

AMIN NUR HAKIMMahasantri Darus Sunnah International Institute for Hadith Sciences

BACA JUGA

1Enam Kitab Maulid Populer di Nusantara

2Kalau Mau Ziarah Kubur, Perhatikan Adab Berikut Ini

3Doa Agar Terhindar dari Penyakit Hati

4Ketika Berdakwah, Mengapa Kita Dilarang Mencaci?

5Nasihat Gus Dur Ini Sesuai dengan Kaidah Fikih

6Al-Muhasiby, Sufi Produktif Abad ke-3

7Benarkah Rasulullah Pernah Menikah Saat Ihram?

8Bolehkah Shalat Sunnah Karena Gempa Bumi

9Ini Kiat Mudah Menjaga Hafalan Al-Quran!

10Doa Menghilangkan Rasa Malas

ARTIKEL LAINNYA

IBADAH

Manfaat Baca ‘La Ilaha Illallah’ Setelah Shalat Shubuh

Ada banyak dzikir dan doa yang dianjurkan setelah shalat. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa membaca dzikir dan doa tertentu setelah …

KISAH

Kisah Ulama Yaman Belajar Nahwu-Sharaf kepada Ulama Indonesia

Kisah ini begitu mendebarkan, tentang ulama yang belajar kepada ulama tradisional di Indonesia

HUKUM

Bolehkan Perempuan Ikut Shalat Jumat?

Jika salat Jumat diwajibkan bagi laki-laki, lalu bagaimanakah hukum salat Jumat bagi perempuan?

HUKUM

Hukum Beda Pilihan Politik antara Suami-Istri dalam Pemilu, Bagaimana Islam Mengaturnya?

Beda pilihan politik dalam islam untuk suami istri sering terjadi, bagaimana islam mengaturnya?

VIDEO

Empat Hal yang Membuat Islam Begitu Kokoh

Apa saja sik empat hal itu, Yuk langsung belajar dari ahlinya

IBADAH

Sholat dan Jadi Makmum Masbuq

Sholat dan menjadi makmum masbuq, kita tentu sering kan mengalaminya

HUKUM

Batalkah Shalat Makmum yang Tidak Ikut Sujud Tilawah Imam?

Salah satu yang disunnahkan adalah sujud saat dibaca atau membaca ayat sajdah, yaitu ayat-ayat tertentu dalam Al-Qur’an yang dianjurkan sujud …

IBADAH

Ini Keutamaan Sujud Tilawah

Ketika kita membaca atau mendengarkan ayat sajdah, maka kita disyariatkan untuk melakukan sujud tilawah. Sujud tilawah memiliki banyak keutamaan yang akan didapatkan oleh …

KOLOM

Al-Qur’an Mengkritik Hoaks

Bagaimana Al-Qur’an jauh-jauh hari justru mengingatkan kita tentang bahaya hoaks dan kita tidak memahaminnya

TELA'AH

Kalau Kamu Ingin Belajar Islam Online, Ini Lima Website Keislaman Terbaik

Perkembangan minat umat Islam untuk belajar ajaran Islam lebih dalam mulai meningkat. Portal-portal Islam pun begitu banyak kita jumpai di …

JADWAL SHOLAT

Sabtu, 17 Nopember 2018

AbepuraAmbarawaAmbonAtambuaBabatBalikpapanBanda AcehBandar LampungBandungBangkalanBanjarmasinBantulBanyumasBanyuwangiBatamBekasiBengkuluBiakBimaBinjaiBireunBlitarBloraBogorBojonegoroBojong GedeBondowosoBoneBontangBoyolaliBrebesBuaranBukit TinggiBumiayuCepuCianjurCikarangCilacapCilegonCirebonDemakDenpasarDepokDumaiEndeGarutGombongGorontaloGresikIndramayuJakartaJambiJayapuraJemberJeparaKarangasemKebumenKediriKendariKlatenKualakapuasKuala SimpangKudusKutaLamonganLangsaLhokseumaweLubuk LinggauLumajangMadiunMagelangMagetanMajalengkaMakassarMalangManadoManokwariMartapuraMataramMaumereMedanMeraukeMeulabohMojokertoNabireNganjukPadangPalangka RayaPalembangPaluPamekasanPandaanPangkal PinangPasuruanPekanbaruPematang SiantarPolewaliPonorogoPontianakPosoPrigenProbolinggoSabangSamarindaSampangSampitSemarangSerangSibolgaSigliSingkawangSitubondoSurabayaSurakartaTabananTangerangTarakanTasikmalayaTernateTidoreTrenggalekTubanUbudUngaranWaingapuWonosoboYogyakarta

Imsak

03:55 WIB

Subuh

04:05 WIB

Dhuhur

11:40 WIB

Ashar

15:02 WIB

Maghrib

17:52 WIB

Isya

19:06 WIB

ARTIKEL TERBARU

HIKMAH

Kisah Keberkahan Marayakan Maulid Nabi SAW

Moh. Juriyanto17 November 2018

KISAHKOLOM

Air Mata Gadis Kecil yang Membuat Malaikat Menangis

Ust. Ahmad Z. El-Hamdi16 November 2018

TAFSIR

Tafsir yang Tak Pernah Selesai

Nadirsyah Hosen16 November 2018

SEJARAH

Bukti-bukti Sejuknya Rasulullah Menyiarkan Islam

Edi AH Iyubenu16 November 2018

TOKOH

Keistimewaan Ibn Ma’in, Guru Besar Para Ulama Hadis

M. Alvin Nur Choironi16 November 2018

TELA'AH

Sekali Lagi Tentang Hanum Rais dan Jejaknya dalam Film, Kenapa Dirisak?  

Wahyudi Akmaliah16 November 2018

KOLOM

Umat Islam Digital Enggan Toleransi

Supriansyah16 November 2018

MUAMALAH

Fiqih Muamalah: Mengambil Hasil dari Barang Gadaian

Redaksi16 November 2018

KOLOM

Islam Cepat Saji dan Mengapa Felix Siauw Lebih Cepat Tenar Dibanding Ustadz Lain

Rika Iffati Farihah16 November 2018

Beranda Redaksi Kirim Artikel Kontributor Tentang Islami Kontak Kami Kerjasama

e-mail: redaksi@islami.co

Copyright © 2018. All rights reserved.

Sujud tilawah


Tampilkan semua

Dalam sujud tilawah membaca bacaan sujud tilawah.

Dari posisi berdiri, langsung menuju sujud dengan membaca takbir tanpa disertai rukuk.

Dalam sujud membaca bacaan sujud tilawah.

Kemudian berdiri dari sujud dengan membaca takbir dan boleh memilih apakah ingin menyambung bacaan surah dari ayat sajdah ataukah tidak.

Sambut Pagimu Dengan Do’a Yang Selalu Di amalkan Nabi Muhammad Saw

Sambut Pagimu Dengan Do’a Yang Selalu Di amalkan Nabi Muhammad Saw

 17 Nopember 2018/ 9 Robiul awal 1440 H

Pagi hari adalah awal dari kegiatan manusia, inilah do'a yang selalu diamalkan Nabi Muhammad SAW dipagi hari agar mendapat ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik serta amal yang selalu diterima...

Pagi adalah waktu yang tepat untuk kita ingin memanjatkan do'a kepada Allah karena dipagi hari adalah awal dari kegiatan manusia, tahukan kalian kalau Nabi Muhammad SAW selalu mengamalkan do'a ini dipagi hari agar mendapat ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik serta amal yang selalu diterima...

Kegiatan dipagi hari sebaiknya diawali dengan do'a supaya apa yang kita lakukan hari itu menjadi berkah dan mendapatkan  Ridha Allah..

Termasuk do’a yang selalu diamalkan Nabi Muhammad Saw pada Pagi Hari yaitu yang terdapat dalam Musnad Imam Ahmad dan Sunan Ibnu Majah dari hadits Ummu Salamah R.ha, bahwa Rasulullah Saw ketika selesai salam dalam sholat shubuh beliau membaca;

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

Allaahumma inniy as-aluka ‘ilman naafi’an warizqon thoyyiban wa’amalan mutaqobbalan

“Yaa Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal dan baik serta amalan yang diterima oleh-Mu.”
{Musnad Imam Ahmad,6/322. Sunan Ibnu Majah,no.925. Dan shohih Ibnu Majah,no.753.}

Baca juga : Doa Berdagang Agar Jualan Laris Ajaran Nabi Muhammad SAW

Siapa yang merenungkan do’a yang agung ini, niscaya dia tahu bahwa mengamalkannya pada waktu tersebut sangat tepat, karena pagi merupakan permulaan hari, dan bagi seorang muslim, tidak ada obsesi apapun pada hari itu selain merealisasikan tujuan-tujuan mulia tersebut.

Yaitu ILMU YANG BERMANFAAT, RIZKI YANG BAIK, dan AMAL YANG SELALU DITERIMA-NYA.

Ketika dia membuka harinya dengan tiga permintaan ini seakan-akan dia membatasi harapan dan tujuannya.

Dan tidak diragukan lagi, hal ini akan membuat hati manusia semakin lapang dan tujuan hidupnya semakin terarah dengan baik.

Berbeda dengan mereka yang memulai paginya tanpa mengetahui tujuan hidup yang dia harap untuk dijalankan dalam hidupnya.

Para praktisi pendidikan menyarankan agar setiap orang menentukan tujuan pada setiap aktivitas yang dilakukan agar tujuan lebih mudah dicapai, lebih terhindar dari kekacauan, dan lebih terarah.

Sekali lagi tidak diragukan lagi jika seseorang yang menentukan tujuan hidupnya dengan tujuan tertentu akan lebih sempurna dibandingkan dengan yang tidak melakukannya.

Baca juga : Anak Bandel, Berikut Do'a yang Dicontohkan Rasulullah Agar Anak Berbudi Pekerti Baik

Bagi seorang muslim dalam menjalankan hari-harinya tidak boleh meremehkan hal itu bahkan dia harus memiliki tujuan-tujuan hidup agar mendapatkan tiga hal di atas dan menyempurnakannya dalam kehidupan dan mendapatkannya dengan cara yang terbaik.

Oleh karena itu, betapa indahnya hari yang diawali dengan menentukan tiga tujuan hidup kita ini.

Yang dengannya kehidupan akan lebih terarah dengan baik.

Kemudian seseorang yang di awal harinya menentukan tiga hal ini bukan berarti ia membatasi tujuan hidupnya, namun dia bermaksud untuk merendahkan diri kepada Allah Swt, memohon perlindungan-Nya agar senantiasa diberi karunia oleh Allah Swt untuk mendapatkan tiga tujuan yang mulia tersebut.

Karena tiada daya dan kekuatan, tiada kemampuan baginya untuk mendatangkan kebaikan atau menolak bahaya kecuali atas izin Allah ‘Azza wajalla, maka kepada-Nya dia memohon perlindungan, pertolongan dan juga kepada-Nya dia menyerahkan diri dan tawakkal.

Menyambut pagi dengan do'a adalah pilihan yang tepat seperti do'a diatas yang selalu diamalkan Nabi Muhammad, silahkan bagi kalian untuk mencoba mengamalkan do'a diatas

Semoga betmanfaat ...

Penerima Dana Hibah Hanya Terima Rp 12 Juta dari Rp 150 juta

Kasus Korupsi Sekda Tasikmalaya

Penerima Dana Hibah Hanya Terima Rp 12 Juta dari Rp 150 juta

Tasikmalaya - Sekda Kabupaten Tasikmalaya Abdul Qodir ditahan karena dugaan korupsi dana hibah Rp 3,9 miliar. Abdul diduga menyunat dana hibah para penerima.

Salahsatu penerima adalah Ade Riyatna (58), pengelola Yayasan Al-Ikhlas di Dusun Selaawi Panjang, Desa Sukamenak, Kecamatan Sukarame. 

Ade mengaku menerima dana hibah sebesar Rp 150 juta, namun setelah diterima dari Bank lalu dipotong Rp 135 juta. Dari Rp 135 juta itu, ada pemotongan lagi menjadi Rp 15 juta.

"Uang hibah Rp 15 juta kemudian dipotong lagi jadi hanya Rp 12 juta," ujarnya saat ditemui dikediamannya di Dusun Selaawi Panjang, Desa Sukamenak, Kecamatan Sukarame. Jumat sore (16/11/2018).

Ade menjelaskan saat ini pembangunan madrasah sudah selesai. Namun yang rencananya akan dibangun dua lantai kini hanya satu lantai saja. 

"Sekarang kan kasusnya sudah ditangani oleh Polda Jawa Barat, jadi sudah serahkan semuanya kepada petugas penegak hukum," ungkapnya.

Menurutnya, bantuan hibah dari pemerintah untuk pembangunan sarana umum sangat dibutuhkan. Karena sejauh ini pembangunan yang dilakukan secara swadaya masyarakat tidak terlalu besar.

"Bantuan itu sangat dibutuhkan, karena dari swadaya itu terbatas. Harapannya, kalau ada hibah atau bantuan-bantuan itu jangan ada potongan-potongan untuk ini itu, semuanya saja diberikan kepada masyarakat untuk pembangunan. Kejadian ini ambil hikmahnya, mudah-mudahan ke depannya tidak terjadi lagi adanya pemotongan atau hal lainnya," pungkasnya.

Diketahui, Polda Jawa Barat membongkar praktik korupsi dana hibah yang melibatkan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Tasikmalaya dan sejumlah pejabat serta PNS pegawai negeri sipil (PNS) Pemkab Tasikmalaya. Kerugian negara berkaitan dugaan korupsi itu mencapai Rp 3,9 miliar.

Selain Abdul Qodir, Polda Jabar menetapkan 8 orang lainnya, di mana tiga orang merupakan warga biasa. Sisanya PNS Pemkab Tasik.

Baca juga: Kasus Korupsi Tasikmalaya, Polda: Niat Jahat Semua di Sekda

Dalam kasus ini, Abdul Kodir memegang peranan penting. Dia menyuruh kepada PNS Kabupaten Tasikmalaya mencari dana dan sejumlah yayasan penerima hibah. Setelah ditemukan, tersangka Mulyana memerintahkan Setiawan membuat proposal pengajuan serta memotong dana hibah yang cair.

Hasil pemotongan dana dengan nilai kerugian negara mencapai Rp 3,9 miliar itu dibagi-bagi kepada para tersangka. Mereka mendapat pembagian uang yang beragam.

Kamis, 15 November 2018

SEBAB SEBAB SUJUD SAHWI




Sebab Adanya Sujud Sahwi

Pertama: Karena adanya kekurangan.

Rincian 1: Meninggalkan rukun shalat[1] seperti lupa ruku’ dan sujud.

Jika meninggalkan rukun shalat dalam keadaan lupa, kemudian ia mengingatnya sebelum memulai membaca Al Fatihah pada raka’at berikutnya, maka hendaklah ia mengulangi rukun yang ia tinggalkan tadi, dilanjutkan melakukan rukun yang setelahnya. Kemudian hendaklah ia melakukan sujud sahwi di akhir shalat.Jika meninggalkan rukun shalat dalam keadaan lupa, kemudian ia mengingatnya setelah memulai membaca Al Fatihah pada raka’at berikutnya, maka raka’at sebelumnya yang terdapat kekurangan rukun tadi jadi batal. Ketika itu, ia membatalkan raka’at yang terdapat kekurangan rukunnya tadi dan ia kembali menyempurnakan shalatnya. Kemudian hendaklah ia melakukan sujud sahwi di akhir shalat.Jika lupa melakukan melakukan satu raka’at atau lebih (misalnya baru melakukan dua raka’at shalat Zhuhur, namun sudah salam ketika itu), maka hendaklah ia tambah kekurangan raka’at ketika ia ingat. Kemudian hendaklah ia melakukan sujud sahwi sesudah salam.[2]

Rincian 2: Meninggalkan wajib shalat[3] seperti tasyahud awwal.

Jika meninggalkan wajib shalat, lalu mampu untuk kembali melakukannya dan ia belum beranjak dari tempatnya, maka hendaklah ia melakukan wajib shalat tersebut. Pada saat ini tidak ada kewajiban sujud sahwi.Jika meninggalkan wajib shalat, lalu mengingatnya setelah beranjak dari tempatnya, namun belum sampai pada rukun selanjutnya, maka hendaklah ia kembali melakukan wajib shalat tadi. Pada saat ini juga tidak ada sujud sahwi.Jika ia meninggalkan wajib shalat, ia mengingatnya setelah beranjak dari tempatnya dan setelah sampai pada rukun sesudahnya, maka ia tidak perlu kembali melakukan wajib shalat tadi, ia terus melanjutkan shalatnya. Pada saat ini, ia tutup kekurangan tadi dengan sujud sahwi.

Keadaan tentang wajib shalat ini diterangkan dalam hadits Al Mughirah bin Syu’bah. Ia mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ فَلَمْ يَسْتَتِمَّ قَائِمًا فَلْيَجْلِسْ فَإِذَا اسْتَتَمَّ قَائِمًا فَلاَ يَجْلِسْ وَيَسْجُدْ سَجْدَتَىِ السَّهْوِ

Jika salah seorang dari kalian berdiri dari raka’at kedua (lupa tasyahud awwal) dan belum tegak berdirinya, maka hendaknya ia duduk. Tetapi jika telah tegak, maka janganlah ia duduk (kembali). Namun hendaklah ia sujud sahwi dengan dua kali sujud.” (HR. Ibnu Majah no. 1208 dan Ahmad 4/253)

Rincian 3: Meninggalkan sunnah shalat[4].

Dalam keadaan semacam ini tidak perlu sujud sahwi, karena perkara sunnah tidak mengapa ditinggalkan.

Kedua: Karena adanya penambahan.

Jika seseorang lupa sehingga menambah satu raka’at atau lebih, lalu ia mengingatnya di tengah-tengah tambahan raka’at tadi, hendaklah ia langsung duduk, lalu tasyahud akhir, kemudian salam. Kemudian setelah itu, ia melakukan sujud sahwi sesudah salam.Jika ia ingat adanya tambahan raka’at setelah selesai salam (setelah shalat selesai),  maka ia sujud ketika ia ingat, kemudian ia salam.

Pembahasan ini dijelaskan dalam hadits Ibnu Mas’ud,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – صَلَّى الظُّهْرَ خَمْسًا فَقِيلَ لَهُ أَزِيدَ فِى الصَّلاَةِ فَقَالَ « وَمَا ذَاكَ » . قَالَ صَلَّيْتَ خَمْسًا . فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ بَعْدَ مَا سَلَّمَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan shalat Zhuhur lima raka’at. Lalu ada menanyakan kepada beliau, “Apakah engkau menambah dalam shalat?” Beliau pun menjawab, “Memangnya apa yang terjadi?” Orang tadi berkata, “Engkau shalat lima raka’at.” Setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud dua kali setelah ia salam tadi.” (HR. Bukhari no. 1226 dan Muslim no. 572)

Ketiga:  Karena adanya keraguan.

Jika ia ragu-ragu –semisal ragu telah shalat tiga atau empat raka’at-, kemudian ia mengingat dan bisa menguatkan di antara keragu-raguan tadi, maka ia pilih yang ia anggap yakin. Kemudian ia nantinya akan melakukan sujud sahwi sesudah salam.Jika ia ragu-ragu –semisal ragu telah shalat tiga atau empat raka’at-, dan saat itu ia tidak bisa menguatkan di antara keragu-raguan tadi, maka ia pilih yang ia yakin (yaitu yang paling sedikit). Kemudian ia nantinya akan melakukan sujud sahwi sebelum salam.

Mengenai permasalahan ini sudah dibahas pada hadits Abu Sa’id Al Khudri yang telah lewat. Juga terdapat dalam hadits ‘Abdurahman bin ‘Auf, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

إِذَا سَهَا أَحَدُكُمْ فِى صَلاَتِهِ فَلَمْ يَدْرِ وَاحِدَةً صَلَّى أَوْ ثِنْتَيْنِ فَلْيَبْنِ عَلَى وَاحِدَةٍ فَإِنْ لَمْ يَدْرِ ثِنْتَيْنِ صَلَّى أَوْ ثَلاَثًا فَلْيَبْنِ عَلَى ثِنْتَيْنِ فَإِنْ لَمْ يَدْرِ ثَلاَثًا صَلَّى أَوْ أَرْبَعًا فَلْيَبْنِ عَلَى ثَلاَثٍ وَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ

Jika salah seorang dari kalian merasa ragu dalam shalatnya hingga tidak tahu satu rakaat atau dua rakaat yang telah ia kerjakan, maka hendaknya ia hitung satu rakaat. Jika tidak tahu dua atau tiga rakaat yang telah ia kerjakan, maka hendaklah ia hitung dua rakaat. Dan jika tidak tahu tiga atau empat rakaat yang telah ia kerjakan, maka hendaklah ia hitung tiga rakaat. Setelah itu sujud dua kali sebelum salam.” (HR. Tirmidzi no. 398 dan Ibnu Majah no. 1209. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 1356)

Yang perlu diperhatikan: Seseorang tidak perlu memperhatikan keragu-raguan dalam ibadah pada tiga keadaan:

Jika hanya sekedar was-was yang tidak ada hakikatnya.Jika seseorang melakukan suatu ibadah selalu dilingkupi keragu-raguan, maka pada saat ini keragu-raguannya tidak perlu ia perhatikan.Jika keraguan-raguannya setelah selesai ibadah, maka tidak perlu diperhatikan selama itu bukan sesuatu yang yakin.

Demikian serial pertama mengenai sujud sahwi dari muslim.or.id. Adapun mengenai tatacara sujud sahwi, bacaan di dalamnya dan permasalahan-permasalahn seputar sujud sahwi, akan kami bahas pada kesempatan selanjutnya insya Allah. Semoga Allah mudahkan.

[1] Yang dimaksud dengan rukun shalat adalah setiap perkataan atau perbuatan yang akan membentuk hakikat shalat. Jika salah satu rukun ini tidak ada, maka shalat pun tidak teranggap secara syar’i dan juga tidak bisa diganti dengan sujud sahwi.

Meninggalkan rukun shalat ada dua bentuk.

Pertama: Meninggalkannya dengan sengaja. Dalam kondisi seperti ini shalatnya batal dan tidak sah dengan kesepakatan para ulama.

Kedua: Meninggalkannya karena lupa atau tidak tahu. Di sini ada tiga rincian,

–          Jika mampu untuk mendapati rukun tersebut lagi, maka wajib untuk melakukannya kembali. Hal ini berdasarkan kesepakatan para ulama.

–          Jika tidak mampu mendapatinya lagi, maka shalatnya batal menurut ulama-ulama Hanafiyah. Sedangkan jumhur ulama (mayoritas ulama) berpendapat bahwa raka’at yang ketinggalan rukun tadi menjadi hilang.

–          Jika yang ditinggalkan adalah takbiratul ihram, maka shalatnya harus diulangi dari awal lagi karena ia tidak memasuki shalat dengan benar. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/313-314)

[2] Keadaan semacam ini sudah dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah tentang Dzul Yadain yang telah lewat.

[3] Yang dimaksud wajib shalat adalah perkataan atau perbuatan yang diwajibkan dalam shalat. Jika wajib shalat ini lupa dikerjakan, bisa ditutup dengan sujud sahwi. Namun jika wajib shalat ini ditinggalkan dengan sengaja, shalatnya batal jika memang diketahui wajibnya. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/328)

[4] Yang dimaksud sunnah shalat adalah perkataan atau perbuatan yang dianjurkan untuk dilakukan dalam shalat dan yang melakukannya akan mendapatkan pahala. Jika sunnah shalat ini ditinggalkan tidak membatalkan shalat walaupun dengan sengaja ditinggalkan dan ketika itu pun tidak diharuskan sujud sahwi. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/336)

Sahabat muslim, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira