Kamis, 30 Agustus 2018

Lirik Euis ke antosan heula

Euis, ke antosan heula, 
Aeh aeh saha eta, 
Abdi sobat nu baheula, 
Euleuh euleuh saur saur saha, 

Euis teuing ku lucuna, 
Idih idih paribasa, 
Estu ku matak kayungyun, 
Ah pameget eta mah biasa, 

Ibu, bapa, dieu geura, 
Sok aya jajaka, 
Nu ngangkentresna, 
Ku ngararewa, 
Estu ku seueur gogoda, 
Nu jangkung jalmina, 
Kandel kumisna, 
Sesah hilapna, 

Euis, ke antosan heula, 
Aeh aeh saha eta, 
Abdi sobat nu baheula, 
Euleuh euleuh saur saur saha, 

Euis teasih ku lucuna , 
Idih idih paribasa, 
Estu ku matak kayungyun, 
Ah pameget eta mah biasa, 

Ibu, bapa, dieu geura,
Sok aya jajaka, 
Nu ngangkentresna, 
Ku ngararewa, 
Estu ku seueur gogoda, 
Nu jangkung jalmina, 
Kandel kumisna, 
Sesah hilapna, 
Sesah hilapna, 
Sesah hilapna, 
Sesah hilapna,

YD1JNI

Selasa, 28 Agustus 2018

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 11 – 12

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 11 – 12

 untungsugiyarto

4 tahun yang lalu

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

“Dan bila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi’. Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan’. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (QS.2: 11-12)

Dalam tafsirnya, as-Suddi menceritakan, dari Abu Malik dan dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas, dari Murrah ath-Thabib al-Hamdani, dari Ibnu Masud, dari beberapa sahabat Nabi , mengenai firman Allah: wa idzaa qiila laHum laa tufsiduu fil ardli qaaluu innamaa nahnu mush-lihuun (“Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi “. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”) ia mengatakan: “Mereka itu adalah orang-orang munafik. Sedangkan kerusakan yang dimaksud adalah kekufuran dan kemaksiatan.”

Mengenai firman-Nya, wa idzaa qiila laHum laa tufsiduu fil ardli; dan jika dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi,”) Abu Ja’far menceritakan, dari ar-Rabi’ bin Anas, dari Abu al-‘Aliyah, ia mengatakan: “Artinya, janganlah kalian berbuat maksiat di muka bumi ini. Kerusakan yang mereka buat itu berupa kemaksiatan kepada Allah, karena barangsiapa yang berbuat maksiat kepada Allah atau memerintahkan orang lain untuk bermaksiat kepada-Nya, maka ia telah berbuat kerusakan di bumi, karena kemaslahatan langit dan bumi ini terletak pada ketaatan.”
Hal senada juga dikatakan oleh ar-Rabi’ bin Anas, Qatadah, dan Ibnu Juraij, dari Mujahid, mengenai firman-Nya, wa idzaa qiila laHum laa tufsiduu fil ardli (“dan jika dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi,”) ia mengatakan: Mereka sedang berbuat maksiat kepada Allah, lalu dikatakan kepada mereka, “Janganlah kalian melakukan ini dan itu.” Maka mereka pun menjawab, “Sesungguhnya kami berada pada jalan hidayah dan kami pun sebagai orang yang mengadakan perbaikan.”

Ibnu Jarir mengatakan, dengan demikian, orang-orang munafik itu memang pelaku kerusakan di muka bumi ini, dengan bermaksiat kepada Allah melanggar larangan-Nya serta mengabaikan kewajiban yang dilimpahkan kepadanya. Mereka ragu terhadap agama Allah di mana seseorang tidak diterima amalnya kecuali dengan membenarkannya dan meyakini hakikatnya. Mereka juga mendustai orang-orang mukmin melalui pengakuan kosong mereka, padahal keyakinan mereka dipenuhi oleh kebimbangan dan keraguan. Serta dukungan dan bantuan mereka terhadap orang-orang yang mendustakan Allah, kitab-kitab, dan rasul-rasul-Nya atas para wali Allah jika mereka mendapatkan jalan untuk itu.

Demikian itulah kerusakan yang dilakukan oleh orang-orang munafik di muka bumi ini, sementara mereka mengira telah mengadakan perbaikan. Al-Hasan al-Bashri mengatakan, di antara bentuk kerusakan yang dilakukan di muka bumi ini adalah mengangkat orang kafir sebagai wali-wali (pemimpin atau pelindung), sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala: adapun orang-orang kafir , sebagian mereka menjadi pelindung sebagian yang lain. Jika kalian (wahai kaum muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. ” (QS. Al-Anfal: 73).

Dengan demikian, Allah telah memutuskan perwalian di antara kaum muslimin dengan orang-orang kafir, sebagaimana firman-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang kafir menjadi wali/pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kalian mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksa kalian). ” (QS.An-Nisaa’: 144).

Kemudian Dia berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu berada di tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kalian sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (QS. An-Nisaa’: 145).

Dengan keadaannya (orang-orang munafik) yang secara lahiriyah adalah beriman, hal ini sangat membingungkan orang-orang mukmin. Seolah-olah kerusakan itu adanya dari arah orang munafik itu berada, karena ialah yang menipu orang-orang mukmin melalui ucapannya yang sama sekali tidak benar serta menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin bagi orang-orang
mukmin. Kalau saja perbuatan mereka hanya sebatas yang pertama (yaitu sebagai orang kafir) masih lebih ringan kejahatannya. Dan andai saja ia ikhlas beramal karena Allah swt. serta menyesuaikan ucapannya dengan perbuatannya, niscaya ia akan benar-benar beruntung.

Oleh karena itu Allah berfirman: “Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.’Mereka menjawab: `Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.”‘ Artinya, kami ingin mendekati kedua belah pihak baik kaum beriman maupun kaum kafir dan kami berdamai dengan keduanya.

Kemudian Dia berfirman: alaa innaHum Humul mufsiduuna walaa kil laa yasy’uruun (“Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” Melalui ayat tersebut Allah swt. memberitahukan, “Ketahuilah bahwa yang mereka katakan sebagai perbaikan itu adalah kerusakan itu sendiri, namun karena kebodohan mereka, mereka tidak menyadari bahwa hal itu sebagai kerusakan.”

&

Kategori: Tafsir Al-Qur'an

Tag: 11-12al-baqarahAl-qur'analbaqarahalquranayatibnu katsirsurahsurattafsir


alqur'anmulia

Kembali ke atas

Senin, 27 Agustus 2018

Tafsir Surat Al-Baqarah, ayat 8-9


Terjemah Al Qur'an, Tafsir Al Qur'an, Ilmu Al Qur'an, Software Al Qur'an, Ebook Al Qur'an, Tilawah Al Qur'an, Murattal Al Qur'an


Tafsir Surat Al-Baqarah, ayat 8-9

Al-Baqarah, ayat 8-9

{وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ (8) يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (9) }

Di antara manusia ada yang mengatakan, "Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian" padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri, sedangkan mereka tidak sadar.
Nifaq atau munafik ialah menampakkan kebaikan dan menyembunyikan kejahatan. Sifat munafik itu bermacam-macam, ada yang berkaitan dengan akidah; jenis ini menyebabkan pelakunya kelak di dalam neraka. Ada yang berkaitan dengan perbuatan, jenis ini merupakan salah satu dari dosa besar, rinciannya akan disebutkan pada bagian tersendiri, insya Allah.
Menurut Ibnu Juraij, orang munafik ialah orang yang ucapannya bertentangan dengan perbuatannya, keadaan batinnya bertentangan dengan sikap lahiriahnya, bagian dalamnya bertentangan dengan bagian luarnya, dan penampilannya bertentangan dengan kepribadiannya.
Sesungguhnya sifat orang munafik diterangkan di dalam surat-surat Madaniyah, karena di Mekah tidak ada sifat munafik, bahkan kebalikannya. Di antara orang-orang dalam periode Mekah ada yang menampakkan kekufuran karena terpaksa, padahal batinnya adalah orang mukmin tulen. Ketika Nabi Saw. hijrah ke Madinah, padanya telah ada kaum Ansar yang terdiri atas kalangan kabilah Aus dan kabilah Khazraj. Dahulu di masa Jahiliah, mereka termasuk penyembah berhala sebagaimana kebiasaan kaum musyrik Arab. Di Madinah terdapat orang-orang Yahudi dari kalangan ahli kitab yang memeluk agama menurut nenek moyang mereka.
Orang-orang Yahudi Madinah terdiri atas tiga kabilah, yaitu Bani Qainuqa' (teman sepakta kabilah Khazraj), Bani Nadir, dan Bani Quraizah (teman sepakta kabilah Aus).
Ketika Rasulullah Saw. tiba di Madinah dan orang-orang Ansar dari kalangan kabilah Aus dan kabilah Khazraj telah masuk Islam, tetapi sedikit sekali dari kalangan orang-orang Yahudi yang masuk Islam, bahkan hanya satu orang, yaitu Abdullah ibnu Salam r.a. Pada saat itu (periode pertama Madinah) masih belum terdapat nifaq, mengingat kaum muslim masih belum mempunyai kekuatan yang berpengaruh, bahkan Nabi Saw. hidup rukun bersama orang-orang Yahudi dan kabilah-kabilah Arab yang berada di sekitar kota Madinah, hingga terjadi Perang Badar Besar, dan-Allah memenangkan kalimah-Nya dan memberikan kejayaan kepada Islam serta para pemeluknya.
Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul adalah seorang pemimpin di Madinah, berasal dari kabilah Khazraj. Dia adalah pemimpin kedua kabilah di masa Jahiliah, mereka bertekad akan menjadikannya sebagai raja mereka. Kemudian datanglah kebaikan (agama Islam) kepada mereka, dan mereka semua masuk Islam, menyibukkan dirinya dengan urusan Islam, sedangkan Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul tetap pada pendiriannya seraya memperhatikan perkembangannya Islam dan para pemeluknya. Akan tetapi, ketika terjadi Perang Badar (dan kaum muslim beroleh kemenangan), dia berkata, "Ini merupakan suatu perkara yang benar-benar telah mengarah (kepada kekuasaan)." Akhirnya dia menampakkan lahiriahnya masuk Islam, dan sikapnya ini diikuti oleh orang-orang yang mendukungnya, juga oleh orang lain dari kalangan ahli kitab.
Sejak itulah muncul nifaq (kemunafikan) di kalangan sebagian penduduk Madinah dan orang-orang Badui yang berada di sekitar kota Madinah. Adapun kaum Muhajirin, tidak ada seorang munafik pun di kalangan mereka karena tiada seorang pun yang berhijrah karena dipaksa, bahkan setiap Muhajirin berhijrah meninggalkan harta benda dan anak-anaknya karena mengharapkan pahala di sisi Allah kelak di hari kemudian.
Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: Di antara manusia ada yang mengatakan, "Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian" padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. (Al-Baqarah: 8) Yang dimaksud adalah orang-orang munafik dari kalangan kabilah Aus dan kabilah Khazraj serta orang-orang yang mengikuti mereka. Hal yang sama ditafsirkan oleh Abul Aliyah, Al-Hasan, Qatadah, dan As-Saddi, yaitu "mereka adalah orang-orang munafik dari kabilah Aus dan kabilah Khazraj".
Melalui ayat ini Allah memperingatkan kaum mukmin agar jangan terbujuk oleh lahiriah sikap mereka, yaitu dengan menerangkan sifat-sifat dan ciri khas orang-orang munafik, karena hal tersebut akan mengakibatkan timbulnya kerusakan yang luas sebagai akibat tidak bersikap waspada terhadap mereka; dan sebagai akibat meyakini keimanan mereka, padahal kenyataannya mereka adalah orang-orang kafir. 
Hal ini merupakan larangan besar, yaitu menduga baik pada orang-orang yang ahli dalam kemaksiatan. Untuk itulah Allah Swt. berfirman: Di antara manusia ada yang mengatakan, "Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian," padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. (Al-Baqarah: 8)
Dengan kata lain, mereka katakan hal tersebut hanya dengan lisannya saja, padahal di balik itu tiada satu iman pun yang terdapat di hati mereka, sebagaimana yang dijelaskan di dalam firman-Nya:

إِذا جاءَكَ الْمُنافِقُونَ قالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ

Apabila orang-orang munqfik datang kepadamu, mereka berkata, "Kami mengakui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah." Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya. (Al-Munafiqun: 1)
Dengan kata lain, sesungguhnya mereka mengatakan demikian bila datang kepadamu saja, padahal kenyataannya tidak demikian. Karena itu, mereka mengukuhkan kesaksiannya dengan inna dan lam taukid pada khabar-nya. Mereka mengukuhkan perkataannya pula, seperti yang disitir oleh firman-Nya, "Mereka mengatakan, 'Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian'," padahal kenyataannya tidaklah demikian. Allah mendustakan kesaksian dan kalimat berita mereka, yang hal ini berkaitan dengan akidah mereka, yaitu melalui firman-Nya:

وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنافِقِينَ لَكاذِبُونَ

Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. (Al-Munafiqun: 1)

{وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ}

padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. (Al-Baqarah: 8)

**********


Firman Allah Swt. mengatakan, "Yukhadi unallaha wal lazina amanu" mereka hendak menipu Allah dan orang-orang beriman karena mereka hanya menampakkan keimanannya pada lahiriahnya saja, sedangkan batin mereka memendam kekufuran. Karena kebodohan mereka sendiri, mereka menduga bahwa diri mereka menipu Allah Swt. dengan sikap tersebut, dan hal tersebut menghasilkan manfaat di sisi-Nya, dapat mengelabui Allah Swt. sebagaimana mereka dapat mengecoh sebagian kalangan kaum mukmin, seperti yang dinyatakan di dalam firman-Nya:

يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ جَمِيعاً فَيَحْلِفُونَ لَهُ كَما يَحْلِفُونَ لَكُمْ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ عَلى شَيْءٍ أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْكاذِبُونَ

(Ingatlah) hari (ketika) mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu mereka bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka bukan orang musyrik) sebagaimana mereka bersumpah kepada kalian; dan mereka menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan memperoleh suatu (manfaat). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya merekalah orang-orang pendusta. (Al-Mujadilah: 18)
Karena itulah Allah membantah apa yang mereka yakinkan itu melalui firman-Nya:

وَما يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَما يَشْعُرُونَ

Padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri, sedangkan mereka tidak menyadari. (Al-Baqarah: 9)
Dengan kata lain, mereka tidak mengelabui melalui perbuatannya yang demikian itu; tidak pula menipu, melainkan hanya diri mereka sendiri, sedangkan diri mereka tidak merasakan hal itu, sebagaimana yang disebutkan dalam firman lainnya:

إِنَّ الْمُنافِقِينَ يُخادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خادِعُهُمْ

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. (An-Nisa: 142)
Di antara ahli qiraah ada yang membaca wama yakhda'una illa an-fusahum menjadi wama yukhadi' una illa anfusahum yang artinya "tiada lain diplomasi yang mereka lakukan itu melainkan terhadap diri mereka sendiri". Akan tetapi, kedua Qira’ah tersebut mempunyai makna yang sama.
Ibnu Jarir mengatakan, jika ada seseorang mengatakan mengapa orang yang munafik kepada Allah dan kepada kaum mukmin dapat dikatakan sebagai seorang penipu, sedangkan orang yang munafik itu tidak sekali-kali mengatakan apa yang bertentangan dengan batinnya hanyalah karena taqiyyah semata? Sebagai jawabannya dapat dikatakan bahwa orang-orang Arab menamakan ucapan yang bertentangan dengan hati sebagai sikap taqiyyah untuk menyelamatkan diri dari hal yang ditakutkan dengan nama mukhadi'. Demikian pula halnya dengan orang munafik, dia dinamakan mukhadi' (orang yang menipu) Allah dan orang-orang mukmin dengan mengucapkan kata-kata yang dapat menyelamatkan dirinya dari pembunuhan, penahanan, dan siksaan yang segera, padahal di balik penampilan luarnya dia memendam kebencian. Yang demikian itu adalah salah satu dari sikap orang munafik; sekalipun dia menipu orang-orang mukmin dalam kehidupan di dunia ini, tetapi dia dengan perbuatannya itu sama saja menipu dirinya sendiri. Dikatakan demikian karena perbuatan yang ditampakkannya itu menurutnya dapat memberikan apa yang dicita-citakannya dan kebahagiaan, padahal kenyataannya justru merupakan sumber kejatuhannya dan berakibat siksaan di hari kemudian serta murka Allah dan azab-Nya yang amat pedih tiada bandingannya. Tipuan yang ia lancarkan tersebut diduganya sebagai perbuatan yang baik buat dirinya, padahal sesungguhnya dia berbuat jahat terhadap dirinya sendiri bagi kehidupannya di akhirat nanti, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya, "Tiadalah yang mereka tipu muslihatkan melainkan diri mereka sendiri, sedangkan mereka tidak merasakannya."
Ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, bahwa orang-orang munafik telah mencelakakan dirinya sendiri karena perbuatan mereka membuat Tuhan murka, yaitu kekufuran, keraguan, dan kedustaan yang mereka lakukan tanpa mereka rasakan dan tanpa mereka ketahui hingga membuat mereka buta dan menetapi perbuatannya itu.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Mubarak dalam suratnya yang ditujukan kepadaku, bahwa telah menceritakan kepadanya Zaid ibnul Mubarak, telah menceritakan kepadanya Muhammad ibnu Saur, dari Ibnu Juraij, sehubungan dengan firman-Nya: Mereka hendak menipu Allah. (Al-Baqarah: 9) Makna yang dimaksud ialah bahwa mereka menampakkan kalimat tauhid dengan tujuan agar darah dan harta benda selamat, padahal di dalam hati mereka terdapat hal yang bertentangan dengan kalimat tauhid itu.
Sa'id telah mengatakan dari Qatadah sehubungan dengan firman-Nya: Di antara manusia ada yang mengatakan, "Kami beriman kepa-da Allah dan hari kemudian," padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri, sedangkan mereka tidak menyadari. (Al-Baqarah: 8-9) Bahwa ciri khas orang munafik pada umumnya ialah berakhlak rendah, percaya dengan lisan tetapi ingkar dengan hati, dan berbeda dengan perbuatan serta sepak terjangnya; di pagi hari berada dalam satu keadaan, sedangkan di petang harinya dalam keadaan lain; begitu pula kebalikannya, di petang hari dalam satu sikap, sedangkan di pagi harinya bersikap lain; ia terombang-ambing bagaikan perahu yang ditiup angin kencang dan hanya bersikap mengikuti arah angin.

Juz 1 Madaniyah Tafsir Surat Al Baqarah

Popular posts from this blog

RUQYAH SYAR'IYYAH - PANDUAN SYARA' DAN BATASAN-BATASANNYA

May 10, 2017

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'alayang telah menciptakan manusia kemudian memuliakannya dengan derajat yang tiada terhingga. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad Shalallahu alaihi wasallam. Beliau dengan segala pengorbanan dan tanggung jawabnya menunaikan tugas dan menyampaikan amanah dengan sempurna, telah mendidik kita ke jalan yang lurus. Doa dan salam semoga pula senantiasa tercurahkan kepada keluarga, shahabat, dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. Modul Daurah Ruqyah Syar'iyyah bersama Syaikh Abual-Barra` yang terdiri dalam 4 bab yang telah disusun dan diterjemahkan tim dari Ruqyah Learning Center Indonesia ini telah memberikan kontribusi yang sangat besar bagi para Peruqyah Syar’iyyah di Indonesia pada era saat ini. Materi Ruqyah Syar’iyyah telah dijadikan panduan yang mengarahkan para Peruqyah pada jalan yang lurus dalam memahami dan mengimplementasikan praktek-praktek ruqyah dalam kehidupan. Karena itu, bebera…

BACA SELENGKAPNYA »

Tafsir Surat Luqman, ayat 13-15

September 05, 2015

{وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13) وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14) وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (15) }Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ib…

BACA SELENGKAPNYA »

Tafsir Surat Fathir, ayat 32

September 29, 2015

{ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ (32) } Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih cepat berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. Allah Swt. berfirman, "Kemudian Kami jadikan orang-orang yang mengamalkan Kitab yang Besar yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya adalah orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami," Mereka adalah umat Nabi Muhammad Saw. Kemudian mereka terbagi menjadi tiga golongan, untuk itu Allah Swt. berfirman: {فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ} lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri. (Fathir: 32) Dia ad…

BACA SELENGKAPNYA »


Theme images by Michael Elkan

Radio RLC Online

Archive

Labels

Report Abuse


Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 7

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 7

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat


“Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (QS. 2:7)

Mengenai Firman-Nya: khatamallaaHu, as-Suddi mengatakan artinya: bahwa Allah Tabaraka wa Ta ala telah mengunci-mati.

Masih berkaitan dengan ayat ini, Qatadah mengatakan, “Syaitan telah menguasai mereka karena mereka telah menaatinya. Maka Allah mengunci-mati hati, dan pendengaran, serta pandangan mereka ditutup, sehingga mereka tidak dapat melihat petunjuk, tidak dapat mendengarkan, memahami, dan berfikir.”

Ibnu Juraij menceritakan, Mujahid mengatakan, Allah mengunci-mati hati mereka. Dia berkata: “ath-thab’u” artinya melekatnya dosa di hati, maka dosa-dosa itu senantiasa mengelilingnya dari segala arah sehingga berhasil menemui hati tersebut. Pertemuan dosa dengan hati itu merupakan kunci mati. Lebih lanjut Ibnu Juraij mengatakan, kunci mati dilakukan terhadap hati dan pendengaran mereka.

Ibnu Juraij juga menceritakan, Abdullah bin Katsir memberitahukan kepadaku bahwa ia pernah mendengar Mujahid mengatakan, ar-raanu (penghalangan) lebih ringan daripada ath-thab’u (penutupan dan pengecapan), dan lebih ringan daripada “al-iqfaalu” (penguncian).

Al-A’masy mengatakan, Mujahid mengisyaratkan kepada kami dengan tangannya, lalu ia menuturkan, mereka mengetahui bahwa hati itu seperti ini, yaitu telapak tangan. Jika seseorang berbuat dosa, maka dosa itu menutupinya, sambil membengkokkan jari kelingkingnya, ia (Mujahid) mengatakan, “Seperti ini.” Jika ia berbuat dosa lagi, maka dosa itu menutupinya, Mujahid membengkokkan jarinya yang lain ke telapak tangannya. Demikian selanjutnya hingga seluruh jari-jarinya menutup telapak tangannya. Setelah itu Mujahid mengatakan, “Hati mereka itu terkunci mati.”

Mujahid mengatakan, mereka memandang bahwa hal itu adalah (kotoran; dosa). Hal yang sama juga diriwayatkan Ibnu Jarir, dari Abu Kuraib, dari Waki’, dari al-A’masy, dari Mujahid.

Al-Qurthubi mengatakan, umat ini telah sepakat bahwa Allah swt. menyifati diri-Nya dengan menutup dan mengunci mati hati orang-orang kafir sebagai balasan atas kekufuran mereka itu, sebagaimana yang difirmankan-Nya: bal thaba’allaaHu ‘alaiHaa bikufriHim (“Sebenarnya Allah telah mengunci-mati hati mereka karena kekafirannya.”) (QS. An-Nisaa’: 155).

Dan al-Qurthubi juga menyebutkan hadits Hudzaifah yang terdapat di dalam kitab as-Shahih, dari Rasulullah bersabda yang artinya: “Fitnah-fitnah itu menimpa hati bagaikan tikar dianyam sehelai demi sehelai. Hati mana yang menyerapnya, maka digoreskan titik hitam padanya. Dan hati mana yang menolaknya, maka digoreskan padanya titik putih. Sehingga hati manusia itu terbagi pada dua macam; hati yang putih seperti air jernih, dan ia tidak akan dicelakakan oleh fitnah selama masih ada langit dan bumi. Dan yang satu lagi berwarna hitam kelam seperti tempat minum yang terbalik, tidak mengenal kebaikan dan tidak pula mengingkari kemungkaran.”

Ibnu Jarir mengatakan, yang shahih menurutku dalam hal ini adalah apa yang bisa dijadikan perbandingan, yaitu hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah saw. “Sesungguhnya seorang mukmin, jika ia mengerjakan suatu perbuatan dosa, maka akan timbul noda hitam dalam hatinya. Jika ia bertaubat, menarik diri dari dosa itu, dan mencari ridha Allah, maka hatinya menjadi jernih. Jika dosanya bertambah, maka bertambah pula noda itu sehingga memenuhi hatinya.

Itulah ar-raan (penutup), yang disebut oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. ”

Hadits di atas diriwayatkan Imam at-Tirmidzi dan an-Nasa’i dari Qutaibah, al-Laits bin Sa’ad. Serta Ibnu Majah, dari Hisyam bin Ammar, dari Hatim bin Ismail dan al-Walid bin Muslim. Ketiganya dari Muhammad bin Ajlan. Imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, Rasulullah memberitahukan melalui sabdanya bahwa dosa itu jika sudah bertumpuk-tumpuk di hati, maka ia akan menutupnya, dan jika sudah menutupnya, maka didatangkan padanya kunci mati dari sisi Allah Ta’ala, sehingga tidak ada lagi jalan bagi iman untuk menuju ke dalamnya, dan tidak ada jalan keluar bagi kekufuran untuk lepas darinya. Itulah kunci mati yang disebutkan Allah ` dan firman-Nya yang artinya “Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka”.

Perbandingannya adalah sebagiamana kunci mati terhadap sesuatu yang dapat kita lihat dengan mata, tidak dapat dibuka dan diambil isinya kecuali dengan memecahkan dan membongkar kunci mati dari barang itu. Demikian halnya dengan iman, ia tidak akan sampai ke dalam hati orang yang telah terkunci mati hati dan pendengarannya, kecuali dengan membongkar dan melepas kunci mati tersebut dari hatinya.

Perlu diketahui bahwa waqaf taam (berhenti sempurna saat membacanya) adalah pada firman-Nya: khatamallaaHu a’laa quluubiHim wa ‘alaa sam’iHim (“Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka.”) Dan juga pada firman-Nya, wa ‘alaa abshaariHim ghisyaawatun (“Serta penglihatan mereka ditutup,”) (ayat-ayat di atas) merupakan kalimat sempurna, dengan pengertian bahwa kunci mati itu dilakukan terhadap hati dan pendengaran. Sedangkan ghisyaawatun; hadap pandangan. Sebagaimana yang dikatakan as-Suddi dalam tafsirnya, dan Ibnu Masud, dari beberapa orang sahabat Rasulullah mengenai firman-Nya: khatamallaaHu a’laa quluubiHim wa ‘alaa sam’iHim (“Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka.”) ia mengatakan, “Sehingga dengan demikian itu mereka (orang-orang kafir) tidak dapat berfikir dan mendengar. Dan dijadikan penutup pada pandangan mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.”

Setelah menyifati orang-orang mukmin pada empat ayat pertama surat al-Baqarah, lalu memberitahukan keadaan orang-orang kafir dengan kedua ayat di atas, kemudian Allah ft- menjelaskan keadaan orang-orang munafik, yaitu mereka yang menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekufuran.

Ketika keberadaan mereka semakin samar di tengah-tengah umat manusia, Allah semakin gencar menyebutkan berbagai sifat kemunafikan mereka, sebagaimana Allah telah menurunkan surat Bara’ah dan Munafiqun tentang mereka serta menyebutkan mereka di dalam surat an-Nur dan surat-surat lainnya guna menjelaskan keadaan mereka agar orang-orang menghindarinya dan juga menghindarkan diri dari terjerumus kepadanya.

KAJIAN TENTANG TIGA WASIAT NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM – KITAB TA’DHIM ASH SHALAH

KAJIAN TENTANG TIGA WASIAT NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM – KITAB TA’DHIM ASH SHALAH


Allah subhanahu wa ta’ala mengkaruniakan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebuah jawami’ul kalim (kata-kata yang ringkas namun mencakup makna yang sangat luas). Maka barangsiapa memperhatikan hadits-hadits dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia akan beruntung di dunia dan di akhirat. Dan pada kajian ini dibahas sebuah wasiat yang ringkas yang disampaikan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang mana wasiat ini mencakup segala kebaikan.


Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Majah, juga diriwayatkan oleh Imam yang lain dari Abu Ayub Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:


جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي وَأَوْجِزْ قَالَ إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ وَأَجْمِعْ الْيَأْسَ عَمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ


“Seorang laki-laki menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: “Ya Rasulullah. Berilah aku nasehat yang ringkas.” Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalau Engkau mengerjakan shalat, maka shalatlah seperti shalatnya orang yang hendak meninggalkan (dunia). Jangan berbicara dengan satu kalimat yang esok hari kamu akan meminta udzur karena ucapan itu. Dan perbanyaklah rasa putus asa terhadap apa yang ditangan orang lain.”


Dalam hadits ini Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallammengumpulkan tiga wasiat yang sangat agung. Tiga wasiat ini mencakup tiga kebaikan. Siapa yang memahami dan mengamalkannya, maka dia akan mendapatkan kebaikan di dunia dan diakhirat. Adapun tiga wasiat itu adalah:


MENJAGA SHALAT


Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak orang yang ingin mengerjakan shalat untuk melakukan shalatnya seperti orang yang sebentar lagi hendak meninggal dunia. Orang yang merasa sebentar lagi hendak meninggal dunia, tentu dia akan memperbaiki shalatnya sebaik-baiknya. Ini seperti orang yang ingin berpindah dari satu daerah ke daerah yang lain dan tidak ingin kembali lagi. Oleh karena itu diperintahkan dan dianjurkan bagi orang yang ingin melakukan shalat, hendaklah menghadirkan wasiat ini setiap dia ingin melakukan shalat. Seakan-akan dia tidak akan mengerjakan shalat lagi setelah shalat tersebut.


Seorang yang menghadirkan keadaan seperti ini tentu dia akan berusaha menyempurnakan shalatnya. Dan barang siapa yang memperbaiki shalat, shalat tersebut akan mengajak dia kepada segala kebaikan dan kemuliaan. Shalat juga akan menghalagi dari segala keburukan dan perbuatan-perbuatan dosa. Shalat juga akan memenuhi hatinya dengan keimanan. Jika hal tersebut telah dia lakukan, dia akan merasakan manisnya iman. Shalat akan menjadi penyejuk baginya, serta kebahagiaan dan ketenangan hatinya.

Bandung, 28 Agustus 2018

Pengertian surat Al-Baqarah ayat 1 sampai 5

 

                                                                            

                                 Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah, lagi Maha Pengasih. ,

الم 
(1) Alif Laam Miim

ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ 
(2) Inilah Kitab itu; tidak ada sebarang keraguan padanya, satu petunjuk bagi orang-orang yang hendak bertakwa.

الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُوْنَ 
(3) Yang percaya kepada yang ghaib , dan yang mendirikan sembahyang dan dari apa yang Kami anugerahkan kepada mereka, mereka dermakan.

وَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَ مَا أُنْزِلَ مِن قَبْلِكَ وَ بِالْآخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ 
(4) Dan orang-orang yang percaya kepada apa yang di­turunkan kepada engkau dan apa yang diturunkan sebelum engkau, dan kepada akhirat mereka yakin.

أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ وَ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ 
(5) Mereka itulah yang berada atas petunjuk dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang 
beroleh kejayaan.

                                       Takwa dan Iman

Alif - Laam - Miim
Di dalam al-Qur'an kita akan berjumpa dengan beberapa Surat yang dimulai dengan huruf-huruf seperti ini :

الم المص المر
Alif-laam-miim : Alif-laam-miim-shaad : Alif-laam-miim-raa: 

كهٰيٰعص َ حم طٰهٰ َ
Kaaf-haa-yaa-'ain-shaad: Haa-miim: `Ain-siin-qaaf: Thaa-haa: 

طٰسم طٰس يٰس ص ق ن
Thaa-siin-miim: Thaa-siin: Yaa-siin: Shaad: Qaaf: Nuun:

Baik penafsir lama, ataupun penafsir jaman-jaman akhir membicarakan tentang huruf-huruf ini menurut cara mereka sendiri­ sendiri, tetapi kalau disimpulkan terdapatlah dua golongan. Pertama ialah golongan yang memberikan arti sendiri daripada huruf-huruf itu. Yang banyak memberikan arti ialah penafsir sahabat yang terkenal, Abdullah bin Abas. 

Sebagai Alif-lam-mim ini satu tafsir dari Ibnu Abbas menerangkan bahwa ketiga huruf itu adalah isyarat kepada tiga nama: Alif untuk nama Allah; Lam untuk Jibril dan Mim untuk Nabi Muhammad s.a.w. Dan tafsir Ibnu Abbas juga mengatakan arti Alif-­Lam-Ro ialah Alif berarti Ana, yaitu aku, Lam berarti Allah dan Ra berarti Ara menjadi (Anal-Lahu-Ara): Aku adalah Allah, Aku melihat. Demikianlah setiap huruf-huruf itu ada tafsirnya belaka menurut riwayat yang dibawakan orang daripada Ibnu Abbas.

Menurut riwayat dari al-Baihaqi dan Ibnu Jarir yang diterima dari sahabat Abdullah bin Mas'ud, beliau inipun pernah menyatakan bahwa huruf-huruf Alif-Lam-Mim itu adalah diambil dari nama Allah, malahan dikatakannya bahwa itu adalah dari Ismullahi al A'zham, nama Tuhan Yang Maha Agung. Rabi' bin Anas (sahabat Rasulullah) mengatakan bahwa Alif-Lam-Mim itu adalah tiga kunci : Alif kunci dari namaNya Allah, Lam kunci dari namaNya Lathif , Mim kunci dari namaNya Majid. 

Lantaran itu maka tafsir semacam ini pun pernah dipakai oleh Tabi'in, yaitu Ikrimah, as-Sya'bi, as-Suddi, Qatadah, Mujahid dan al-Hasan al-Bishri.

Tetapi pendapat yang kedua berkata bahwa huruf-huruf di pangkal Surat itu adalah rahasia Allah, termasuk ayat mutasyabih yang kita baca dan kita percayai, tetapi Tuhan yang lebih tahu akan artinya. Dan kita baca tiap-tiap huruf itu menurut bunyi ucapannya dalam lidah orang Arab serta dipanjangkan.

Riwayat kata ini diterima dari Saiyidina Abu Bakar as-Shiddiq sendiri, demikian juga dari Ali bin Abu Thalib. Dan menurut riwayat dari Abul Laits as Samarqandi, bahwa menurut Umar bin Khatab dan Usman bin Affan dan Abdullah bin Mas'ud, semuanya berkata : "Di dalam al-Qur'an kita tidak mendapat huruf-huruf, melainkan dipangkal beberapa Surat, dan tidaklah kita tahu apa yang dikehendaki Allah dengan dia".

Sungguhpun demikian, masih juga ada ahli-ahli tafsir yang tertarik membuat pengertian sendiri tentang rahasia-rahasia huruf-huruf itu. Abdullah bin Mas'ud, dari kalangan sahabat Rasulullah s.a.w di satu riwayat, berpendapat bahwa beliau sepaham dengan Umar bin Khathab dan Usman bin Affan tadi, yaitu menyatakan tak usah huruf ­huruf itu diartikan. 

Tetapi riwayat yang lain pernah beliau menyatakan bahwa ALIFLAMMIM adalah mengandung ismullahi al A'zham (Nama Allah Yang Agung). As Sya'bi, Tabi'in yang terkenal, di satu riwayat tersebut bahwa beliau berkata huruf-huruf itu adalah rahasia Allah belaka. Tetapi di lain riwayat terdapat bahwa beliau pernah memberi arti Alif .Lam Mim itu dengan Alllahu, Lathifun, Majidun (Allah Maha Halus, Maha Utama).

Ada pula segolongan ahli tafsir menyatakan bahwasanya huruf­huruf di awal Surat itu adalah sebagai pemberitahuan atau sebagai panggilan untuk menarik perhatian tentang ayat-ayat yang akan turun mengiringinya.

Riwayat yang terbanyak memberinya arti ialah daripada Ibnu Abbas. Adapun perkataan yang shahih daripada Nabi s.a.w sendiri tentang arti huruf-huruf itu tidak ada. Kalau ada tentu orang sebagai Abu Bakar as-Shiddiq, Umar bin Khathab, Usman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib tidak akan mengeluarkan pendapat bahwa huruf-huruf itu tidak dapat diartikan, sebagai kita sebutkan di atas.

Nyatalah bahwa huruf-huruf itu bukan kalimat bahasa, yang bisa diartikan. Kalau dia suatu kalimat yang mengandung arti, niscaya tidak akan ragu-ragu lagi seluruh bangsa Arab akan artinya. Oleh sebab itu maka lebih baiklah kita terima saja huruf-huruf itu menurut keadaannya.

Dan jika kita salinkan arti-arti atau tafsir yang dikemukakan oleh Ibnu Abbas atau yang lain-lain, hanyalah semata­ mata menyalin riwayat saja, dan kalau kita tidak campur tangan tidaklah mengapa. Sebab akan mendalami isi al-Qur'an tidaklah bergantung daripada mencari-cari arti dari huruf huruf itu. Apatah lagi kalau sudah dibawa pula kepada arti rahasia-rahasia huruf, angka­ angka dan tahun, yang dijadikan semacam ilmu tenung yang dinamai simiaa', sehingga telah membawa al-Qur'an terlampau jauh daripada pangkal aslinya.

ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ 
"Inilah Kitab itu; tidak ada sebarang keraguan padanya; satu petunjuk bagi orang-orang yang hendak bertaqwa. " (ayat 2).

Inilah dia kitab Allah itu. Inilah dia al-Qur'an, yang meskipun seketika ayat ini diturunkan belum merupakan sebuah naskah atau mushhaf berupa buku, namun setiap ayat dan Surat yang turun sudah mulai beredar dan sudah mulai dihapal oleh sahabat-sahabat Rasulullah; tidak usah diragukan lagi, karena tidak ada yang patut diragukan. Dia benar-benar wahyu dari Tuhan, dibawa oleh Jibril, bukan dikarang-karang saja oleh Rasul yang tidak pandai menulis dan membaca itu. Dia menjadi petunjuk untuk orang yang ingin bertakwa atau Muttaqin.

Kita baru saja selesai membaca al-Fatihah. Di sana kita telah memohon kepada Tuhan agar ditunjuki jalan yang lurus jalan orang ­orang yang diberi nikmat, jangan jalan orang yang dimurkai atau orang yang sesat. Baru saja rnenarik napas selesai membaea surat itu, kita langsung kepada Surat al-Baqarah dan kita langsung kepada ayat ini.

Permohonan kita di Surat al-Fatihah sekarang diperkenankan. Kamu bisa mendapat jalan yang lurus, yang diberi nikmat, bukan yang dimurkai dan tidak yang sesat, asal saja kamu suka memakai pedoman kitab mi. Tidak syak lagi, dia adalah petunjuk. bagi orang yang suka bertakwa.

Apa arti takwa ? Kalimat takwa diambil dari rumpun kata wiqayah artinya memelihara. Memelihara hubungan yang baik dengan Tuhan.

Memelihara diri jangan sampai terperosok kepada suatu perbuatan yang tidak di ridhai oleh Tuhan. Memelihara segala perintahNya supaya dapat dijalankan. Memelihara kaki jangan terperosok ke tempat yang lumpur atau berduri. 

Sebab pernah ditanyakan orang kepada sahabat Rasulullah, Abu Hurairah (ridha Allah untuk beliau), apa arti takwa ? Beliau berkata :"Pernahkah engkau bertemu jalan yang banyak duri dan bagaimana tindakanmu waktu itu ? " Orang itu menjawab : "Apabila aku melihat duri, aku mengelak ke tempat yang tidak ada durinya atau aku langkahi, atau aku mundur."Abu Hurairah menjawab:"Itulah dia takwa !" (Riwayat dari Ibnu Abid Dunya).

Maka dapatlah dipertalikan pelaksanaan jawaban Tuhan dengan ayat ini atas permohonan kita terakhir pada Surat al-Fatihah tadi. Kita memohon ditunjuki jalan yang lurus, Tuhan memberikan pedoman kitab ini sebagai petunjuk dan menyuruh hati-hati dalam perjalanan, itulah takwa. Supaya jalan lurus bertemu dan jangan berbelok di tengah jalan.

Ketika pada akhir Desember 1962 kami mengadakan Konferensi Kebudayaan Islam di Jakarta, dengan beberapa teman telah kami bicarakan pokok isi dari Kebudayaan Islam. Akhirnya kami mengambil kesimpulan, ialah bahwa Kebudayaan Islam ialah kebudayaan takwa. Dan kamipun sepakat mengambil langsung kalimat takwa itu, karena tidak ada kata lain yang pantas menjadi artinya. Jangan selalu diartikan takut, sebagai yang diartikan oleh orang yang terdahulu. Sebab takut hanyalah sebagian kecil dari takwa. 

Dalam takwa terkandung cinta, kasih, harap, cemas, tawakal, ridha, sabar dan lain-lain sebagainya. Takwa adalah pelaksanaan dari iman dan amal shalih. Meskipun di satu-satu waktu ada juga diartikan dengan takut, tetapi terjadi yang demikian ialah pada susunan ayat yang cenderung kepada arti yang terbatas itu saja. Padahal arti takwa lebih mengumpul akan banyak hal. Bahkan dalam takwa terdapat juga berani! Memelihara hubungan dengan Tuhan, bukan saja karena takut, tetapi lebih lagi karena ada kesadaran diri, sebagai hamba.

Dia menjadi petunjuk buat orang yang suka bertakwa, apatah lagi bagi orang yang telah bertakwa. Sama irama ayat ini dengan ayat di dalam Surat al-Waqi'ah (Surat 56, ayat 79)

لا يَمَسُّهُ إِلاَّ الْمُطَهَّرُونَ 
"Tidaklah akan menyentuh kepadanya, melainkan makhluk yang telah dibersihkan. "

Sehingga kalau hati belum bersih, tidaklah al-Qur'an akan dapat menjadi petunjuk.
Lalu diterangkan sifat atau tanda-tanda dari orang yang bertakwa itu, yang kita dapat menilik diri kita sendiri supaya memenuhinya. dengan sifat-sifat itu:

الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُوْنَ 
"Mereka yang percaya kepada yangghaib, dan mereka yang mendirikan sembahyang, dan dari apa yang Kami anrcgerahkan kepada mereka, mereka dermakan. " (ayat 3)

Inilah tiga tanda pada taraf yang pertama.

Percaya pada yang ghaib. Yang ghaib ialah yang tidak dapat disaksikan oleh pancaindera; tidak nampak oleh mata, tidak terdengar oleh telinga, yaitu dua indera yang utama dari kelima (panca) indera kita. Tetapi dia dapat dirasa adanya oleh akal. Maka yang pertama sekali ialah percaya kepada Allah, zat yang menciptakan sekalian alam, kemudian itu percaya akan adanya hari kemudian, yaitu kehidupan kekal yang sesudah dibangkitkan dari maut.

Iman yang berarti percaya , yaitu pengakuan hati yang terbukti dengan perbuatan yang diucapkan oleh lidah rnenjadi keyakinan hidup. Maka iman akan yang ghaib itulah. tanda pertama atau syarat pertama dari takwa tadi.

Kita sudah sama tahu bahwa manusia itu dua juga coraknya; pertama orang yang hanya percaya kepada benda yang nyata, dan tidak mengakui bahwa ada pula di balik kenyataan ini sesuatu yang lain. Mereka tidak percaya ada Tuhan atau Malaikat, dan dengan sendirinya mereka tidak percaya akan ada lagi hidup akhirat itu. Malahan terhadap adanya nyawapun, atau roh, mereka tidak percaya. Orang yang seperti ini niscaya tidak akan dapat mengambil petunjuk dari al-Qur'an. Bagi mereka koran pembungkus gula sama saja dengan al-Qur'an.

Kedua ialah orang-orang yang percaya bahwa dibalik benda yang nampak ini, ada lagi hal-hal yang ghaib. Bertambah banyak pengalaman dalam arena penghidupan, bertambah mendalamlah kepercayaan mereka kepada yang ghaib itu.

Kita kaum Muslimin yang telah hidup empat belas abad sesudah wafatnya Rasulullah s.a.w dan keturunan-keturunan kita yang akan datang dibelakangpun Insya Allah, bertambah lagi keimanan kepada yang ghaib itu, karena kita tidak melihat wajah beliau.

Itupun termasuk iman kepada yang ghaib. Maka tersebutlah pada sebuah hadits yang dirawikan oleh Imam Ahmad, ad-Darimi, al­Baqawardi dan Ibnu Qani di dalam Majma' ush Shahabah, dan ikut juga merawikan Imam Bukhari di dalam Tarikhnya, dan At Thabarani dan al-Hakim, mereka meriwayatkan daripada Abi Jum'ah al-Anshari:

"Berkata dia (Abu Jum 'ah al-Anshari) : Aku bertanya ; ya Rasulu­llah ! Adakah suatu kaum yang lebih besarpahalanya daripada kami, padahal kami beriman kepada engkau dan kami mengikuti akan engkau ?Berkatalah beliau : Apalah akan halangannya bagi kamu (buat beriman kepadaku), sedang Rasulullah ada di hadapan kamu, dan datang kepada kamu wahyu (langsung) dari langit. Tetapi akan ada lagi suatu kaum yang akan datang sesudah kamu, datang kepada mereka Kitab Allah yang ditulis di antara dua Luh, maka merekapun beriman kepadaku dan mereka amalkan apa yang tersebut di dalamnya. Mereka itu adalah lebih besar pahalanya daripada kamu. "

Dan mengeluarkan pula at-Thayalisi, Imam Ahmad, dan Bukhari di dalam Tarikhnya, at-Thabarani dan al-Hakim, mereka riwayatkan daripada Abu Umamah al-Baihili.

"Berkata dia (Abu Umamah), berkata Rasulullah s. a. w : "Bahagialah bagi siapa yang melihat aku dan beriman kepadaku; dan bahagia (pulalah) bagi siapa yang beriman kepaadaku, padahal dia tidak melihat aku (tujuh kali). "

Hadist ini dikuatkan lagi oleh yang dirawikan Imam Ahmad, Ibnu Hibban dari Abu Said al-Khudri.

"Bahwasanya seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah s.a.w. Bahagialah bagi siapa yang melihat engkau dan berimun kepada engkau. Beliaupun menjawab: Bahagialah bagi siapa yang melihat aku dan beriman kepadaku; dan berbahagialah bagi siapa yang beriman kepadaku, padahal dia tidak melihat aku. "

Kita tidak melihat wajah beliau. Bagi kita beliau adalah ghaib. Kita hanya mendengar berita dan sejarah beliau atau bekas-bekas tempat beliau hidup di Mekkah, namun bagi setengah orang yang beriman, demikian cintanya kepada Rasulullah, sehingga dia merasa seakan-akan Rasulullah itu tetap hidup, bahkan kadang-kadang titik air matanya karena terkenang akan Rasulullah dan ingin hendak menjadi umatnya yang baik dan patuh, ingin mengerjakan sunnahnya dan memberikan segenap hidup untuk melanjutkan agamanya.

Maka orang beginipun termasuk orang yang mendalam keimanannya kepada yang ghaib.
Maka keimanan kepada yang ghaib dengan sendirinya diturutinya dengan mendirikan sembahyang.

Tegasnya kalau mulut telah tegas mengatakan iman kepada Allah, Malaikat, Hari Kemudian, Rasul yang tidak pernah dilihat dengan mata, maka bila panggilan sembahyang datang, bila azan telah terdengar, diapun bangkit sekali buat mendirikan sembahyang. Karena hubungan di antara pengakuan hati dengan mulut tidak mungkin putus dengan perbuatan.

Waktu datang panggilan sembahyang itulah ujian yang sangat tepat buat mengukur iman kita. Adakah tergerak hati ketika mendengar azan ? Atau timbulkah malas atau seakan-akan tidak tahu ?

Kelak kita akan sampai kepada ayat 45 dari Surat ini, yang diterangkan disana memohon pertolonganlah kepada Allah dengan sabar dan sembahyang, tetapi dijelaskan lagi bahwa sembahyang itu amat berat kecuali bagi orang yang khusyu hatinya. Dan kita akan bertemu lagi di dalam Surat Thaha, (Surat 2.0, ayat 132), yang menyuruh kita mendidik anak istri sembahyang dan memperkuat kesabaran di dalam mengerjakannya, sebab cobaan mengerjakan sembahyang itu banyak pula.

Maka jika waktu sembahyang telah datang dan kita tidak genser (tidak perduli) juga, tandanya iman belum ada, tandanya tidak ada kepatuhan dan ketaatan. Dan itu diujikan kepada kita lima kali sehari semalam.

Kadang-kadang sedang kita asyik mengobrol, kadang­kadang sedang asyik berapat; bagaimanakah rasanya pada waktu itu: kalau tidak ada getarnya ke dalam hati, tandanya seluruh yang kita mintakan kepada Tuhan telah percuma belaka. Petunjuk yang kita harapkan tidaklah akan masuk ke dalam hati kita. Sebab :

"Iman ialah kata dan perbuatan, lantaran itu dia bisa bertambah dan bisa kurang. "
Dan sembahyang itu bukan semata dikerjakan. Di dalam al­Qur'an atau di dalam hadits tidak pernah tersebut suruhan mengerjakan sembahyang, melainkan mendirikan sembahyang.

Tandanya sembahyang itu wajib dikerjakan dengan kesadaran, bukan sebagai mesin yang bergerak saja. Dan yang menarik hati lagi, ialah 27 kali lipat pahala sembahyang berjama'ah daripada sembahyang sendiri. sehingga orang yang berumah dekat masjid atau Ianggar, sernbahyangnya di masjid lebih diutamakan daripada sembahyangnya menyendiri di rumah. 

Malahan ada hadits yang mengatakan bahwa jiran masjid hendaklah sembahyang di masjid. Nantipun akan berjumpa kita dengan ayat 38 dan Surat as Syura (Surat 53), bahwa mukmin sejati itu ialah yang segera mengabulkan panggilan Tuhan, lalu bersembahyang dan segala urusan mereka, mereka musyawarahkan di antara mereka. Tandanya sembahyang itupun hendaklah menimbulkan masyarakat yang baik dan musyawarah yang baik pula .

Keterangan tentang sembahyang akan berkali-kali berjumpa dalam al-Qur°an kelak. Dan setelah mereka buktikan iman dengan sembahyang, merekapun mendermakan rezeki yang diberikan Allah kepada mereka.

Itulah tingkat ketiga atau syarat ketiga dari pengakuan iman. Ditingkat pertama percaya kepada yang ghaib dan kepercayaan kepada yang ghaib dibuktikan dengan sembahyang, sebab hatinya dihadapkannya kepada Allah yang diimaninya. Maka dengan kesukaan memberi, berderma, bersedekah, membantu dan menolong, imannya telah dibuktikannya pula kepada masyarakat. Orang mukmin tidak mungkin hidup nafsi-nafsi dalam dunia. Orang mukmin tidak mungkin menjadi budak dari benda, sehingga dia lebih mencintai benda pemberian Allah itu daripada sesamanya rnanusia. Orang yang mukmin apabila dia ada kemampuan, karena imannya sangatlah dia percaya bahwa dia hanya saluran saja dari Tuhan untuk membantu hamba Allah yang lemah.

وَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ 
"Dan Orang-orang yang percaya kepada apa yang diturunkan kepada engkau. " (Pangkal ayat 4).

Niscaya baru sempurna iman itu kalau percaya kepada apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s. a.w sebagai iman dan ikutan. Percaya kepada Allah dengan sendirinya pastilah menimbulkan percaya kepada peraturan-peraturan yang diturunkan kepada Utusan Allah, lantaran itu percaya kepada Muhammad s.a.w itu sendiri, percaya kepada wahyn dan percaya kepada contoh-contoh yang beliau bawakan dengan sunahnya, baik kata-katanya, atau perbuatannya ataupun perbuatan orang lain yang tidak dicelanya. Dengan demikianlah baru iman yang telah tumbuh tadi terpimpin dengan baik.

وَ مَا أُنْزِلَ مِن قَبْلِكَ
" Dan apa yang diturunkan sebelum engkau . "

Yakni percaya pula bahwa sebelum Nabi Muhammad s. a.w tidak berbeda pandangan kita kepada Nuh atau Ibrahim, Musa atau Isa dan Nabi-nabi yang lain. Semua adalah Nabi kita!. Lantaran itu pula tidak berbeda pandangan orang mukmin itu terhadap sesama manusia. Bahkan adalah manusia itu umat yang satu. 

Dengan demikian, kalau iman kita kepada Allah telah tumbuh, tidaklah mungkin seorang mukmin itu hanya mementingkan golongan, lalu memandang rendah golongan yang lain. Mereka mencari titik-titik pertemuan dengan orang yang berbeda agama, dalam satu kepercayaan kepada Allah Yang Tunggal tidak terbilang. 

Dan tidaklah mungkin mereka mengaku beriman kepada Allah, tetapi peraturan hidup tidak mereka ambil dari apa yang diturunkan Allah. Bahkan kitab-kitab suci yang manapun yang mereka baca, entah Taurat maupun Injil, atau Upanishab dan Reg Veda, mukmin yang sejati akan bertemu di dalamnya mana yang mereka punya, sebab kebenaran hanyalah satu. Dan demikian memancarlah Nur atau cahaya daripada iman mereka itu, dan mencahayai kepada yang lain. Sebab pegangan mereka adalah pegangan yang pokok. Dan sebagai kunci ayat, Tuhan bersabda : 

وَ بِالْآخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ 
Dan kepada akhirat mereka yakin " (ujung ayat 4 )

Inilah kunci penyempurna iman. Yaitu keyakinan bahwa hidup tidaklah selesai hingga hari ini, melainkan masih ada sambungannya. Sebab itu maka hidup seorang mukmin terus dipenuhi oleh harapan bukan oleh kemuraman; terus optimis, tidak ada pesimis. Seorang mukmin yakin Ada Hari Esok!

Kepercayaan akan Hari Akhirat mengandung :

1. Apa yang kita kerjakan di dunia irii adalah dengan tanggungjawab yang penuh. Bukan tanggungjawab kepada manusia, tetapi kepada Tuhan yang selalu melihat kita, walaupun sedang kita berada sendirian. Semuanya akan kita pertanggungjawabkan kelak di akhirat. Tanggungjawab bukan jawab yang tanggung.

2.. Kepercayaan kepada akhirat meyakinkan kita bahwa apa-apapun peraturan atau susunan yang berlaku dalam alam dunia ini tidaklah akan kekal; semuanya bergantian, semuanya berputar, dan yang kekal hanyalah peraturan kekal dari Allah, sampai dunia itu sendiri hancur binasa.

3. Setelah hancur alam yang ini; `I'uhan akan menciptakan alam yang lain, langimya lain, buminya lain, dan manusia dipanggil buat hidup kembali di dalam alazn yang baru dicipta itu dan akan ditentukan tempatnya sesudah penyaringan dan perhitungan amal. didunia.

4. Surga untuk yang lebih beraa amal baiknya. Neraka untuk yang lebih berat amal jahatnya. Dan semuanya dilakukan dengan adil.

5. Kepercayaan akan Hari Akhirat memberikan satu pandangan khas tentang menilai bahagia atau celaka manusia. Bukan orang yang hidup mewah dengan harta benda, yang gagah berani dan tercapai apa yang dia inginkan, bukan itu ukuran orang yang jaya. Dan bukan pula karena seorang hidup susah, rumah gubuk dan menderita yang menjadi ukuran untuk menyatakan bahwa seorang celaka. Tetapi kejayaan yang hakiki adalah pada nilai iman dan takwa disisi Allah, dihari kiamat. Yang semulia-mulia kamu disisi Allah ialah yang setakwa-takwa kamu kepada Allah. Sebab itu tersimpullah semua kepada ayat yang berikutnya :

أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ وَ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

"Mereka itulah yang herada alas petunjuk dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yarsg beroleh kejayaan. " (ayat 5)

Berjalan menempuh hidup, di atas jalan Shirothol Mustaqim, dibimbing selalu oleh Tuhan, karena dia sendiri memohonkanNya pula, bertemu taufik dengan hidayat, sesuai kehendak diri dengan ridha Allah, maka beroleh kejayaan yang sejati, menempuh suatu jalan yang selalu terang benderang, sebab pelitanya terpasang dalam hati sendiri; pelita iman yang tidak pernah padam.

Sebagai telah kita sebutkan di atas tadi, dari ayat 1 sampai ayat 5, adalah memperlakukan permohonan kita di dalam al-Fatihah, me­mohon diberi petunjuk jalan yang lurus. Asal ini dipegang , petunjuk jalan yang lurus pasti tercapai.
 

Selasa, 28 Agustus 2018.

  


Minggu, 26 Agustus 2018

Pengertian basmalah



Basmalah

Kaligrafi Arab bertuliskan Basmalah

Basmalah (bahasa Arab: بسملة) adalah ucapan pembukaan Bismillah (بسم الله, "Dengan nama Allah"), lengkapnya adalah bismi-llāhi ar-raḥmāni ar-raḥīmi. Kalimat ini tertera dalam setiap awalan Surat di dalam Al-Qur'an, kecuali Surat At-Taubah. Juga diucapkan setiap kali seorang Muslim melakukan salat, juga memulai kegiatan harian lainnya, dan biasanya digunakan sebagai pembuka kalimat (Mukadimah) dalam konstitusi atau piagam di negara-negara Islam.

Kalimat Basmallah juga pernah ditulis pada zaman Nabi Sulaiman untuk Ratu Bilqissesuai dengan informasi dalam Al Qur'an yaitu di surat 27 (An-Naml) ayat 30.

بسم الله الرحمن الرحيمbismi-llāhi ar-raḥmāni ar-raḥīmi"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang"

Bacaan ini disebut Tasmiyah dan bagi orang Islam sangat dianjurkan membacanya untuk memulai setiap kegiatannya. Sehingga apa yang dikerjakan diniatkan atas nama Allahdan semoga mendapatkan restu atas pekerjaan tersebut.