BREAKING NEWS

Minggu, 22 Desember 2019

Seorang Pria Hilang Diduga Terpeleset ke Bendungan Leuwi Kuray Bandung


(Foto: Istimewa) Seorang pria terpeleset jatuh ke Bendungan Leuwi Kuray, Kabupaten Bandung. 
(Foto: Istimewa) Seorang pria terpeleset jatuh ke Bendungan Leuwi Kuray, Kabupaten Bandung.
Bandung - Seorang warga yang belum diketahui identitasnya diduga jatuh di Bendungan Leuwi Kuray, Desa Parungserab, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung. Korban diduga terpeleset saat melintas di atas bendungan.

"Berdasarkan laporan yang kami terima dari pihak BPBD Kabupaten Bandung, waktu kejadian yaitu pada pukul 8.00 WIB," kata Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor SAR Bandung Rudi via pesan singkat, Senin (23/12/2019).

Baca juga:Setya Novanto Dikabarkan Belum Pulang ke Sukamiskin, Kalapas: Hoaks!

Dari informasi sejumlah saksi, korban diduga terpeleset dan terjatuh ketika sedang menyeberang di Bendungan Leuwi Kuray.

"Korban terjatuh ketika sedang menyeberang sekitar pukul 08.00 WIB di Bendungan Leuwi Kuray. Menerima info, Kami memberangkatkan satu Tim Rescue menuju lokasi kejadian," ujar Rudi.

Baca juga:Kisah 'Lubang Jarum' di Gua Lele Tempat 3 Mahasiswa Unsika Tewas

Untuk membantu pencarian, pihaknya menerjunkan 1 Unit Rescue Carrier, 1 Set Pal SAR Air, 2 Set Palsar Selam, 1 Set Pal Alkom dan 1 Set Pal Medis

"Data korban sementara belum diketahui, tim sedang dalam perjalanan," ujar Rudi.
Diposting oleh Ustadz Yachya Yusliha di 22.57 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

11 Rumah di Nyengsered Astanaanyar Bandung Ludes Terbakar

11 Rumah di Nyengsered Astanaanyar Bandung Ludes Terbakar


Minggu, 22 Des 2019 13:19 WIB
(Foto: Istimewa) 11 rumah hangus terbakar di Nyengsered Astanaanyar, Kota Bandung. 
(Foto: Istimewa) 11 rumah hangus terbakar di Nyengsered Astanaanyar, Kota Bandung.
Bandung - Sebanyak 11 rumah hangus terbakar di kawasan Astana Anyar, Kota Bandung. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

Rumah yang terbakar itu berada di Jalan Astana Anyar, Gang Pajagalan, RT 05 dan RT 06 RW 3, Kelurahan Nyengsered, Kecamatan Astana Anyar, Kota Bandung. Kebakaran terjadi pada Minggu (22/12/2019) sekitar pukul 08.37 WIB.

"Total ada 11 rumah terbakar yang dihuni total 31 orang," ujar Kabid Pemadaman Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Kota Bandung A Kurnia via pesan singkat.

Baca juga:Diberondong 10 Tembakan, 2 Peluru Bersarang di Kepala Pedagang Kopi

Berdasarkan keterangan saksi, kebakaran berawal dari salah satu rumah warga. Saat api muncul warga mencoba melakukan pemadaman namun tidak berhasil.

"Menurut Bapak RT yang sedang di luar tiba-tiba melihat api sudah besar di rumah Ibu Fanni di lantai 2. Kemudian warga memadamkan dengan alat sederhana dan beberapa warga minta batuan ke Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana," katanya.

11 Rumah di Nyengsered Astanaanyar Bandung Ludes TerbakarFoto: Istimewa
Menerima laporan warga, pihaknya langsung menerjunkan tim ke lapangan. Total ada 14 unit kendaraan terdiri dari 2 unit pancar UPT Selatan, 3 unit tanki, 2 unit pancar dari pusat, 1 unit pancar UPT timur, 1 panca UPT barat, 1 unit quick respon, 1 unit komando PB dan kendaraan pemadam lainnya.

Baca juga:Sejarah Hari Ibu di Indonesia, Seperti Apa Ya?

Selain itu, pihaknya juga dibantu 1 unit ambulans dinas kesehatan, 2 unit ambulans PMI, 1 unit mobil Satpol PP Bandung dan 1 unit Inafis Polrestabes Bandung. "Sekarang pemadaman usai, (tim) balik ke mako," katanya.

Untuk kerugian dan penyebab kebakaran, pihaknya belum bisa memastikan. Saat ini petugas masih melakukan pemeriksaan untuk mengetahui penyebab kebakaran. Sampai saat ini tidak ada laporan korban jiwa akibat kejadian tersebut.
Diposting oleh Ustadz Yachya Yusliha di 03.50 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Jumat, 20 Desember 2019

FOTO: Musim Libur Tiba, Jalur Puncak Bogor Macet Parah


Sistem one way telah diberlakukan, sabar ya yang ke Puncak~
  • Sistem one way telah diberlakukan, sabar ya yang ke Puncak~

Jakarta, IDN Times - Jelang Hari Raya Natal dan Perayaan Tahun Baru 2020, masyarakat Jakarta dan sekitarnya menyerbu kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat untuk berlibur. Meningkatnya arus kendaraan ke kawasan tersebut membuat jalur Puncak macet total sejak Sabtu (21/12) pagi.

Polres Bogor telah menerapkan sistem buka tutup lalu lintas dan contraflow, namun antrean panjang kendaraan tak terelakkan. Hingga akhirnya sistem one way atau satu arah untuk kendaraan yang menuju jalur Puncak pun diterapkan.

1. Situasi lalu lintas menuju Ciawi, Puncak, Bogor terpantau padat merayap. Wah, kendaraan seperti lagi parkir di jalanan, ya!

FOTO: Musim Libur Tiba, Jalur Puncak Bogor Macet ParahJalur Puncak Bogor macet parah di musim liburan Natal dan Tahun Baru 2020. Polres Bogor memberlakukan rekayasa lalu lintas sistem buka tutup serta contraflow di Tol Jagorawi untuk mengurai kemacetan. (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)

2. Lihat saja, saking macetnya pengemudi tampak memilih keluar dari kendaraannya masing-masing. Hal ini lantaran macet parah sudah terjadi selama berjam-jam sejak pagi tadi

FOTO: Musim Libur Tiba, Jalur Puncak Bogor Macet ParahJalur Puncak Bogor macet parah di musim liburan Natal dan Tahun Baru 2020. Polres Bogor memberlakukan rekayasa lalu lintas sistem buka tutup serta contraflow di Tol Jagorawi untuk mengurai kemacetan. (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)

3. Kemacetan parah di exit tol Puncak sudah terjadi sejak pukul 06.30 WIB

FOTO: Musim Libur Tiba, Jalur Puncak Bogor Macet Parah(Kemacetan di jalur Puncak Bogor) Twitter.com/@RadioElshinta/Ipung
Diposting oleh Ustadz Yachya Yusliha di 23.53 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Rabu, 18 Desember 2019

TUJUAN PIP


Sasaran Program Indonesia Pintar (PIP) Anak Usia 6-21 Tahun   10 Juni 2015  ← Back

Jakarta, Kemendikbud --- Sasaran Program Indonesia Pintar (PIP) adalah anak-anak berusia 6-21 tahun. Tujuannya untuk meningkatkan akses bagi mereka guna mendapatkan layanan pendidikan sampai tamat satuan pendidikan menengah dalam rangka mendukung pelaksanaan Pendidikan Menengah Universal/Rintisan Wajib Belajar 12 Tahun.

Selain itu, PIP bertujuan mencegah peserta didik dari kemungkinan putus sekolah (drop out) atau tidak melanjutkan pendidikan akibat kesulitan ekonomi. Program yang diluncurkan oleh Presiden Joko Widodo pada akhir 2014 ini juga untuk menarik siswa putus sekolah atau tidak melanjutkan agar kembali mendapatkan layanan pendidikan di sekolah/Sanggar Kegiatan belajar (SKB)/Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)/Lembaga Kursus Pelatihan (LKP)/satuan pendidikan nonformal lainnya dan Balai Latihan Kerja (BLK).

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 12 Tahun 2015 tentang Program Indonesia Pintar Pasal 4, ada enam kriteria sasaran PIP. Pertama, siswa/anak dari keluarga pemegang Kartu Perlindungan Sosial/Kartu Keluarga Sejahtera (KPS/KKS). Kedua,  siswa/anak dari keluarga peserta Program Keluarga Harapan (PKH). Ketiga, siswa/anak yang berstatus yatim piatu/yatim/piatu dari panti sosial/panti asuhan. Keempat, siswa/anak yang tidak bersekolah (drop out) yang diharapkan kembali bersekolah. Kelima, siswa/anak yang terkena dampak ekonomi akibat bencana alam. Keenam, siswa dari keluarga miskin/rentan miskin yang terancam putus sekolah.

Pelaksana PIP, masih berdasarkan peraturan tersebut, adalah direktorat jenderal terkait, dinas pendidikan provinsi, dinas pendidikan kabupaten/kota, dan satuan pendidikan. Kemendikbud menyediakan Kartu Indonesia Pintar (KIP) berdasarkan Basis Data Terpadu (BDT) yang dikeluarkan oleh Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K). Sementara pembiayaan pencetakan KIP dibebankan kepada anggaran direktorat jenderal terkait sesuai dengan kuota nasional masing-masing.

Presiden Joko Widodo menerbitkan Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Program Simpanan Keluarga Sejahtera, Program Indonesia Pintar, dan Program Indonesia Sehat untuk Membangun Keluarga Produktif pada 3 November 2014. Sejumlah kementerian mendapatkan instruksi khusus, salah satunya Kemendikbud. Untuk menjabarkan instruksi tersebut, Mendikbud Anies Baswedan kemudian menerbitkan Permendikbud tentang PIP. Permendikbud ini akan dijelaskan lebih rinci dalam peraturan direktur jenderal terkait. (Billy Antoro)



Diposting oleh Ustadz Yachya Yusliha di 13.24 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Senin, 16 Desember 2019

Hidup Ulfa yang Viral Dinikahi Syekh Puji, Makin Dewasa & Bergelimang Harta: Omset 300 Juta Perbulan

Hidup Ulfa yang Viral Dinikahi Syekh Puji, Makin Dewasa & Bergelimang Harta: Omset 300 Juta Perbulan


Hidup Ulfa yang Viral Dinikahi Syekh Puji, Makin Dewasa & Bergelimang Harta: Omset 300 Juta Perbulan

Hidup Ulfa yang Viral Dinikahi Syekh Puji, Makin Dewasa & Bergelimang Harta: Omset 300 Juta Perbulan 
SURYAMALANG.COM - Masih ingatkah dalam ingatan sosok Lutfiana Ulfa gadis 12 tahun yang dulu viral karena dinikahi oleh Syekh Puji di tahun 2008 silam? 

Sudah 11 tahun berlalu, kehidupan Lutfiana Ulfa sebagai istri Syekh Puji pun berubah drastis. 

Kini, Ulfa yang sudah berusia 23 tahun terlihat semakin dewasa dengan kehidupan rumah tangga penuh dengan gelimang harta.

Hidup Ulfa yang Viral Dinikahi Syekh Puji, Makin Dewasa & Bergelimang Harta: Omset 300 Juta Perbulan
Hidup Ulfa yang Viral Dinikahi Syekh Puji, Makin Dewasa & Bergelimang Harta: Omset 300 Juta Perbulan (Tribunnews.com)

Seiring berjalannya waktu, kini kabar tentang kehidupan Syekh Puji dan istrinya yang masih di bawah umur tersebut tak lagi dibicarakan.


Bak menghilang dari muka bumi, Syekh Puji dan istrinya kini justru menjalani hidup damai di luar mata tajam awak media.

Pujiono Cahyo Widianto atau yang dikenal sebagai Syekh Puji ini merupakan seorang pimpinan pondok pesantren Muftahul Jannah di Semarang, Jawa Tengah.

Namanya viral lantaran diketahui menikah dengan gadis berusia 12 tahun yang dijadikan sebagai istri keduanya.

Sejak saat itu Syekh Puji terus menjadi pembicaraan.

Syekh Puji menyebut menjadi suami anak di bawah umur sah-sah saja dan tidak melanggar hukum Islam.

Syekh Puji juga sempat heboh lantaran menyerahkan zakat di tahun 2008 hingga 1,3 miliar rupiah

Diposting oleh Ustadz Yachya Yusliha di 22.21 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Sabtu, 14 Desember 2019

Wanita di Cimahi Tewas Dibacok Pria Saat Pulang dari Gereja

Wanita di Cimahi Tewas Dibacok Pria Saat Pulang dari Gereja

Yudha Maulana - detikNews
Minggu, 15 Des 2019 14:08 WIB
(Foto: Yudha Maulana) Seorang wanita di Cimahi tewas usai dibacok pria yang diduga pacarnya 
(Foto: Yudha Maulana) Seorang wanita di Cimahi tewas usai dibacok pria yang diduga pacarnya
Cimahi - Dua orang jemaat Gereja Santo Immanuel diserang membabi buta oleh seorang pria di Kompleks Baros Indah, Cimahi Selatan, Kota Cimahi pada Sabtu (14/12/2019) sekitar pukul 22.30 WIB.

Yori Yance (29) salah seorang korban meninggal dunia pada insiden tersebut. Ia mendapatkan 12 sabetan dari pria yang diduga merupakan pacarnya.

Korban lainnya merupakan anak di bawah umur. Korban berinisial K (4), mendapatkan luka tusuk di perut bagian kiri dan saat ini dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.

Ketua RW 03 Tri, mengatakan kejadian ini berawal saat kedua korban baru pulang menunaikan ibadah di gereja. Terduga pelaku sudah menunggu kepulangan korban di dekat posko kamling di ujung Komplek Baros Indah.

Begitu turun dari mobil, korban langsung disergap pelaku dengan menggunakan senjata tajam berupa celurit. "Kebetulan di pos satpam itu sedang sepi. Pas dengar ada ribut-ribut, saya sama anak langsung turun mau cek kejadiannya," ujar Tri saat ditemui, Minggu (15/12/2019).

Ia melihat Yori sudah tergeletak bersimbah darah, sedangkan korban lainnya K juga tergeletak berlumuran darah.

"Pas saya datang Yori ini sudah tergeletak. Kalau anak tetangganya, itu udah posisi digendong bapaknya. Saya langsung bawa ke rumah sakit dua-duanya," katanya.

Pantauan wartawan pada Minggu (15/12/2019), garis polisi telah melintang di sekitar lokasi pembacokan. Terlihat ceceran tanah menutupi bercak darah.

Dari informasi yang dihimpun, jenazah korban tengah diautopsi di RS Sartika Asih. Sementara itu, pihak kepolisian masih enggan memberikan keterangan terkait kejadian ini
Diposting oleh Ustadz Yachya Yusliha di 23.52 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Kamis, 21 November 2019

Sebut Ahok Kelas Glodok, Rizal Ramli Beri Penjelasan: Sebetulnya Itu Istilah Bercanda

Sebut Ahok Kelas Glodok, Rizal Ramli Beri Penjelasan: Sebetulnya Itu Istilah Bercanda
21 Nov. 2019 12:10
 
Tribun Wow
Author
+ IKUTI

Mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Rizal Ramli memberikan tanggapan soal wacana penunjukan Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sebagai petinggi BUMN. - Capture YouTube/tvOneNews

TRIBUNWOW.COM - Mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Rizal Ramli  memberikan tanggapan soal wacana penunjukan Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sebagai petinggi BUMN.

Dilansir TribunWow.com, hal itu disampaikan Rizal Ramli dalam program Apa Kabar Petang yang diunggah kanal YouTube tvOneNews, Rabu (20/11/2019).

Mulanya, pembawa acara menanyakan soal maksud Rizal Ramli yang mengistilahkan Ahok sebagai kelas Glodok.


Menanggapi hal itu, Rizal Ramli menerangkan istilah itu diciptakannya semata-mata untuk bercanda.

Menurutnya, Glodok memiliki banyak pengusaha yang bagus hingga hebat.

"Sebetulnya istilah itu (Glodok) istilah bercanda, kelasnya kelas Glodok, di Glodok itu banyak pengusaha bagus-bagus, hebat, ulet, tapi dalam transaksi bisnisnya biasanya saling percaya cukup tanda tangan sedikit, sudah oke semua," jelas Rizal Ramli.

Lebih lanjut, Rizal Ramli mengatakan perusahaan kelas besar seperti BUMN memiliki prosedur yang perlu diikuti.

"Nah di perusahaan skala besar, seperti BUMN dan internasional tidak bisa transaksi itu hanya dengan secarik kertas dan tanda tangan harus ikuti prosedur. Kalau tidak nanti ada masalah," ungkap Rizal Ramli.

Rizal Ramli lantas membeberkan masalah-masalah yang pernah menjerat Ahok.

Masalah Ahok, kata Rizal Ramli, berpengaruh penting bagi peran Ahok di BUMN nanti.

"Ahok masih punya banyak masalah hukum, kasus rumah sakit Sumber Waras, beli bus rongsokan, beli tanah sendiri di Cengkareng DKI," kata Rizal Ramli.

"Nah yang lain adalah Ahok pernah jadi gubernur di DKI, di bawahnya ada 30 BUMN Daerah, waktu dia masuk dia bikin heboh, dia jelek-jelekin BUMD, sebagai kacau, managementnya tidak bagus, dia ganti dengan 30 orang, anak-anak muda, konco-konconya (teman-temannya) Ahok."

"Tapi ternyata tidak ada hasilnya, setelah berapa tahun tidak ada perbaikan kinerja yang bagus, kalau Ahok punya pengalaman eksekutif pasti dari pergantian perubahan yang dilakukan terjadi perbaikan," imbuh dia.

Lihat videonya mulai menit awal:



Rizal Ramli Sindir Ahok sebagai 'Kelas Glodok'

Rizal menyindir mengecap Ahok kelas Glodok karena ia anggap tak miliki pengalaman korporasi yang bagus.

Glodok sendiri merupakan pasar elektronik yang terletak di Jakarta Barat.

Mulanya Rizal menjelaskan masalah-masalah yang dimiliki oleh Ahok.

Rizal mengatakan Ahok memiliki banyak kasus keuangan.

"Ahok punya banyak kasus keuangan," jelas Rizal seperti dikutip TribunWow.com dari video acara Dua Sisi yang diunggah kanal Youtube Talk Show tvOne, Sabtu (16/11/2019).

Ia kemudian menyebut beberapa masalah yang dimiliki oleh Ahok.

Pertama ia membahas kasus pembelian Rumah Sakit Sumber Waras.

dalam pembelian RS Sumber Waras diduga ada kasus korupsi yang mengindikasikan kerugian keuangan negara sebesar Rp 191 miliar.

"Pembelian Rumah Sakit Sumber Waras," kata Rizal.

Kemudian Rizal lanjut membahas soal pembelian lahan di Cengkareng.

Kasus tersebut berawal ketika Dinas Perumahan DKI membeli lahan seharga Rp 648 miliar dari pemilik bernama Toeti Noezlar Soekarno.

Namun penjual rumah kemudian mengaku hanya menerima Rp 448 miliar.

"Beli tanah di Cengkareng dari DKI," imbuhnya.

Lalu terakhir Rizal mengungkit pembelian bus import dari Tiongkok yang digunakan untuk Transjakarta.

"Kasus bus import dari Tiongkok," tambah Rizal.

Rizal menyimpulkan dari kasus-kasus tersebut, Ahok tidak memiliki kualitas untuk bekerja dengan jujur dan baik.

"Kasus-kasus itu menunjukkan dia tidak biasa dengan Good Governance," jelas Rizal.

Alasan kedua, Rizal menjelaskan penunjukkan Ahok untuk menjadi petinggi BUMN hanya akan mengundang masalah.

"Yang kedua, hari ini Indonesia sudah banyak masalah," kata Rizal.

Rizal mengatakan dahulu saat pemilihan gubernur, situasi sempat memanas karena Ahok.

Saat itu Ahok sempat tersandung kasus penistaan agama yang menyebabkan dirinya dibui selama dua tahun.

"Bangsa kita nyaris terpecah gara-gara Ahok, pemilihan gubernur," terang Rizal.

Ia kemudian menyindir Jokowi yang memilih Ahok untuk dijadikan bos BUMN.

"Kok Pak Jokowi ciptakan masalah baru," tambahnya.

Rizal kemudian melanjutkan mengapa dirinya meledek Ahok dengan sebutan kelas Glodok.

Menurut RIzal, Ahok tidak memiliki pengalaman dalam mengurus korporasi yang besar.

"Dia tidak punya corporate experience," kata Rizal.

"Saya ledek kelas Glodok, maksudnya itu enggak punya pengalaman corporate yang bagus," tambahnya.

Video dapat dilihat di menit awal:


(TribunWow.com/Vintoko/Anung Malik)
Diposting oleh Ustadz Yachya Yusliha di 05.33 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Mengenai Saya

Foto saya
Ustadz Yachya Yusliha
Lihat profil lengkapku

Arsip Blog

  • ▼  2023 (1)
    • ▼  Januari (1)
      • ANGGOTA BARAYA KULTUM
  • ►  2021 (69)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (21)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (26)
    • ►  Januari (17)
  • ►  2020 (292)
    • ►  Desember (30)
    • ►  November (35)
    • ►  Oktober (49)
    • ►  September (18)
    • ►  Juli (4)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (46)
    • ►  April (57)
    • ►  Maret (14)
    • ►  Februari (11)
    • ►  Januari (27)
  • ►  2019 (114)
    • ►  Desember (14)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  Agustus (14)
    • ►  Juli (12)
    • ►  Juni (64)
    • ►  Mei (5)
  • ►  2018 (271)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (70)
    • ►  Oktober (30)
    • ►  September (16)
    • ►  Agustus (61)
    • ►  Juli (26)
    • ►  Juni (30)
    • ►  Mei (22)
    • ►  April (5)
    • ►  Januari (5)
  • ►  2017 (295)
    • ►  Desember (21)
    • ►  November (18)
    • ►  Oktober (36)
    • ►  September (59)
    • ►  Agustus (22)
    • ►  Juli (51)
    • ►  Juni (30)
    • ►  April (27)
    • ►  Maret (31)
Tema Sederhana. Diberdayakan oleh Blogger.