Jumat, 02 Agustus 2019

Gempa Banten Merusak 10 Rumah di Bandung Raya

Foto: Istimewa


Kabupaten Bandung - Pasca gG
"Dua rumah rusak akibat guncangan gempa di Kampung Junti Hilir, Desa Sangkanhurip, Kecamatan Katapang," kata Kabid Kedaruratan Bencana BPBD Kabupaten Bandung Sudrajat via pesan singkat, Sabtu (3/8/2019).

BPBD sudah berada di lokasi untuk mengecek rumah warga yang rusak yaitu milik Imas Deni dan Ica. 

"Rumah Ibu Imas mengalami kerusakan bagian atap belakang. Sedangkan rumah semi permanen milik Bapak Ica mengalami kerusakan di bagian belakang, tertimpa atap rumah Ibu Imas," ujarnya.

Baca juga: Pascagempa Banten, Pantai Anyer Sepi Pengunjung

Sementara itu di Pangalengan, satu unit rumah rusak. "Kejadian di Kampung Lebe RW 11 Pangalengan. Korban nihil, kerusakan tembok," ujar Yoga, warga Pangalengan.


Selain itu dari informasi yang diterima, satu rumah warga di Kampung Bojong sayang, Desa Rancamanyar, Kecamatan Baleendah mengalami retak di bagian dinding. Dengan demikian untuk sementara rumah warga yang rusak di Kabupaten Bandung ada empat unit.

Di Bandung Barat, dilaporkan enam rumah rusak. Rinciannya empat rumah rusak ringan, satu rumah rusak sedang dan satu rumah rusak berat.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KBB Duddy Prabowo mengatakan rumah yang masuk kategori rusak berat tersebut ambruk. Dinding rumahnya roboh berikut rangka atapnya.

Rumah ambruk tersebut milik Emi berada di Kampung Bloktalang RT 02 RW 03, Sirnagalih, Kecamataman Cipeundeuy. "Sekarang korban sudah dievakuasi ke kerabat terdekat, korban jiwa nihil di Bandung Barat," kata Duddy saat dihubungi detikcom, Sabtu (3/8/2019).

Baca juga: BNPB: 200 Bangunan Rusak Akibat Gempa Banten, 2 Orang Tewas

Sementara itu lima rumah terdampak lainnya tersebar di dua kecamatan lainnya, yakni di Kecamatan Cililin dan Cipatat.

"Di Cililin ada tiga rumah yang terdampak, semuanya rusak ringan, ada yang dinding dapur sebagian roboh, kemudian ada yang gongsol dan atap depan rumahnya roboh," kata Duddy.

Saat ini, kata Duddy, pihaknya masih menyisir ke setiap kecamatan di KBB untuk mencari kemungkinan adanya rumah rusak atau korban lainnya yang terdampak.

Gempa yang berpusat di Banten itu terjadi di kedalaman 10 km. Getaran gempa juga dirasakan di Jakarta, Bogor, Bandung hingga Bali

Bikin Panik, Pemotor Peneriak 'Air Naik' Dicari Warga Palabuhanratu

Bikin Panik, Pemotor Peneriak 'Air Naik' Dicari Warga Palabuhanratu naik dan sebagainya di pesisir pantai. Itu hanya isu yang disebar oleh orang tidak bertanggung jawab, waspada harus tapi tidak diiringi kepanikan tetap tenang dan tunggu kabar resminya," tutur Nasriadi.


Baca juga: BMKG: Peringatan Tsunami Pascagempa Banten Berakhir

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencabut peringatan tsunami pascagempa Banten. Peringatan tsunami sebelumnya diterbitkan setelah terjadi gempa Magnitudo 7,4.

"Peringatan dini tsunami yang disebabkan oleh gempa M 7,4 dinyatakan telah berakhir," tulis situs BMKG, Jumat (2/8/ddetikN

Assalamualaikum 🙏 Informasi gempa malam ini


Jakarta, CNN Indonesia - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG ) menyebut ada 10 wilayah yang masuk dalam Zona Duga Aktifkan  gempa bumi dan 52 gempa signifikan dengan magnitudo di atas 5,0 sepanjang Agustus 2019.

Wilayah Zona Duga Aktif itu terdiri dari Bengkulu Nias Mentawai, Selat Sunda dan Selatan Jawa Barat, Selatan Jawa Timur-Bali, Sumbawa Selatan-Sumba, Laut Banda (Gempa Menengah), Ambon, Sulawesi Tengah, Halmahera Selatan, Laut Maluku Utara, dan Papua Utara.

Lihat juga:

LIPI Jelaskan Sebab Jakarta Diguncang Gempa Banten

"Jadi ada beberapa yang masuk Zona Duga Aktif selama Agustus 2019 ini," kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono di Gedung BNPB, Jakarta Timur, Rabu (31/7).

Indonesia sendiri, kata Daryono, memang memiliki enam zona subduksi lempeng aktif. Dari enam zona itu ada 16 segmen zona Megathrust yang tersebar di seluruh Indonesia.

Selain zona Megathrust, Indonesia juga masuk dalam wilayah dengan zona sumber gempa yang berasal dari sesar aktif. Saat ini untuk zona sesar aktif telah memilih sebanyak 295 segmen.

"Dan itu masih banyak yang belum teridentifikasi," kata dia.

Lihat juga:

Banten Diguncang Gempa M 5,2, Tak Berpotensi Tsunami

Dalam kesempatan itu, Daryono juga menjelaskan sepanjang Juli 2019 telah terjadi 841 aktivitas gempa bumi di seluruh Indonesia. Dengan persentase wilayah tingkat gempa bumi yang terjadi di wilayah Indonesia Timur.

"Jumlah ini juga meningkat dari bulan Juni lalu yang hanya terjadi sebanyak 735 kali," katanya.

Meski begitu, kata Daryono, aktivitas gempa bumi yang terjadi sepanjang Juli ini dilakukan oleh gempa dengan magnitudo kecil atau kurang dari 5.0.

Lihat juga:

Gempa 4,9 SR Guncang Pangandaran, Tak Berpotensi Tsunami

"Kalau signifikan di atas 5,0 magnitudo terjadi sebanyak 52 kali, memang terjadi peningkatan dari bulan sebelumnya yang terjadi sebanyak 35 kali," kata dia.

Untuk gempa yang terjadi terjadi selama bulan Juli ini mencapai 84 kali atau sama dengan terjadi peningkatan dari bulan sebelumnya yaitu 65 kali.

Untuk bulan Juli sendiri terjadi empat kali gempa yang merusak empat kali lipat di Maluku Utara, Sumbawa, Halmahera Selatan, dan Gempa Bali Selatan

BMKG Catat 52 Kali Gempa di Atas 5 Magnitudo selama Agustus


Nasional


Rumah


Kanal

Nasional


Teknologi


Internasional


Hiburan


Ekonomi


Gaya Hidup


Olahraga


Lainnya

Infografis


Fokus


Foto


Kolom


Video


TV CNN


Aku & Jakarta


Musik di Ruang Berita


Indeks


Unduh Aplikasi


Ikuti Kami

Rumah Nasional Internasional Ekonomi Olahraga Teknologi Hiburan Gaya Hidup infografis Foto Video Fokus Kolom Terpopuler Indeks

Beranda Nasional Berita Peristiwa

BMKG Catat 52 Kali Gempa di Atas 5 Magnitudo selama Agu

Ilustrasi gempa. (Istockphoto / Petrovich9)

Jakarta, CNN Indonesia - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG ) menyebut ada 10 wilayah yang masuk dalam Zona Duga Aktifkan  gempa bumi dan 52 gempa signifikan dengan magnitudo di atas 5,0 sepanjang Agustus 2019. 

Wilayah Zona Duga Aktif itu terdiri dari Bengkulu Nias Mentawai, Selat Sunda dan Selatan Jawa Barat, Selatan Jawa Timur-Bali, Sumbawa Selatan-Sumba, Laut Banda (Gempa Menengah), Ambon, Sulawesi Tengah, Halmahera Selatan, Laut Maluku Utara, dan Papua Utara.

Lihat juga:

LIPI Jelaskan Sebab Jakarta Diguncang Gempa Banten

"Jadi ada beberapa yang masuk Zona Duga Aktif selama Agustus 2019 ini," kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono di Gedung BNPB, Jakarta Timur, Rabu (31/7). 

Indonesia sendiri, kata Daryono, memang memiliki enam zona subduksi lempeng aktif. Dari enam zona itu ada 16 segmen zona Megathrust yang tersebar di seluruh Indonesia. 

Selain zona Megathrust, Indonesia juga masuk dalam wilayah dengan zona sumber gempa yang berasal dari sesar aktif. Saat ini untuk zona sesar aktif telah memilih sebanyak 295 segmen. 

"Dan itu masih banyak yang belum teridentifikasi," kata dia.

Lihat juga:

Banten Diguncang Gempa M 5,2, Tak Berpotensi Tsunami

Dalam kesempatan itu, Daryono juga menjelaskan sepanjang Juli 2019 telah terjadi 841 aktivitas gempa bumi di seluruh Indonesia. Dengan persentase wilayah tingkat gempa bumi yang terjadi di wilayah Indonesia Timur. 

"Jumlah ini juga meningkat dari bulan Juni lalu yang hanya terjadi sebanyak 735 kali," katanya. 

Meski begitu, kata Daryono, aktivitas gempa bumi yang terjadi sepanjang Juli ini dilakukan oleh gempa dengan magnitudo kecil atau kurang dari 5.0.

Lihat juga:

Gempa 4,9 SR Guncang Pangandaran, Tak Berpotensi Tsunami

"Kalau signifikan di atas 5,0 magnitudo terjadi sebanyak 52 kali, memang terjadi peningkatan dari bulan sebelumnya yang terjadi sebanyak 35 kali," kata dia. 

Untuk gempa yang terjadi terjadi selama bulan Juli ini mencapai 84 kali atau sama dengan terjadi peningkatan dari bulan sebelumnya yaitu 65 kali. 

Untuk bulan Juli sendiri terjadi empat kali gempa yang merusak empat kali lipat di Maluku Utara, Sumbawa, Halmahera Selatan, dan Gempa Bali Selatan

Kamis, 01 Agustus 2019

Informasi terbaru 🙏 Tangkuban Perahu Kembali Erupsi, BPBD Cek Ada atau Tidak Korban Jiwa

Gunung Tangkuban Perahu (Foto: Yudha Maulana)


Bandung Barat - Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengecek ada atau tidaknya korban jiwa berkaitan Gunung Tangkuban Perahu yang erupsi kembali pada Kamis malam ini. Sejauh ini, BPBD belum mendapatkan laporan adanya korban akibat dampak erupsi tersebut.

Baca juga: Gunung Tangkuban Perahu Kembali Erupsi

Kepala Pelaksana BPBD Duddy Prabowo melalui Petugas Lapangan, Rudi Wibiksana mengatakan, kemungkinan adanya korban minim. Sebabnya, zona wisata Kawah Ratu sudah steril dari wisatawan sejak pukul 17.00 WIB.

"Insyaallah besok pagi kalau situasi memungkinkan kita akan melakukan penyisiran. Kemungkinan ada korban minim, karena lokasi wisata sudah sepi," ujar Rudi saat dihubungi , Kamis (1/8/2019).

Erupsi pada Kamis malam terpantau memiliki tinggi kolom abu 180 meter dari dasar kawah. Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah utara dan timur.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat , berdasarkan alat seismogram, terekam gempa pada amplitudo maksimum 50 mm dengan durasi 11 menit 23 detik. Durasi itu lebih lama dibandingkan erupsi yang terjadi pekan lalu.

Baca juga: Durasi Erupsi Tangkuban Perahu Lebih Lama Dibanding Pekan Lalu

Relawan Potensi SAR Pasundan Jabar, Asep Koswara mengaku, pihaknya belum mengetahui dampak lanjutan dari erupsi freatik ini.

"Sekarang saya lagi menuju ke pos pemantauan Tangkuban Parahu," kata Asep.

Senada dengan Rudi, Asep mengatakan kemungkinan besar tidak ada korban jiwa dan luka karena objek wisata sudah ditutup sejak sore tadi. Namun begitu, BPBD dan relawan tetap turun tangan mengecek.

"Pengecekan menunggu kondisi aman," ujar Asep.

Pada erupsi yang terjadi Jumat (26/7) pekan lalu, sedikitnya 15 orang wisatawan harus mendapatkan perawatan di klinik terdekat karena mengalami sesak nafas dan iritasi mata akibat abu vulkanik.

Truk Terperosok ke Jurang Tanjakan Panganten Garut Sedalam 100 Meter

Truk terperosok ke jurang di Tanjakan Panganten Garut. (Foto: Istimewa)


Garut - Truk pengangkut keramik terjun ke jurang di Tanjakan Panganten, Kabupaten Garut. Truk rusak parah, sedangkan sopir dan satu orang penumpang selamat.

Peristiwa tersebut terjadi Kamis (1/8/2019) pagi sekitar pukul 09.30 WIB, di Tanjakan Tagogan atau yang sering disebut Ranjakan Panganten tepatnya di Kampung Cisandaan, Desa Pananjung, Kecamatan Pamulihan.

"Terjadi kecelakaan tunggal yang melibatkan sebuah truk. Para penumpang selamat," ujar Kapolsek Pamulihan Ipda Saep Balya dalam keterangan tertulis.


Baca juga: Tak Sengaja Bacok Mati Anaknya, Ayah di Garut Ditahan Polisi

Saep mengatakan, kendaraan truk ekspedisi jenis dengan nopol B 9965 BYV tersebut dikemudikan Yaya (56) bersama seorang penumpang. Truk melaju dari arah Garut menuju Bungbulang. Saat melintas di lokasi, diduga truk mengalami rem blong.

"Saat melintasi jalan menurun dan berbelok ke kanan, truk diduga mengalami rem blong," katanya.

Truk kemudian terjun ke jurang sedalam 100 meter yang berada di sebelah kiri jalan. Polisi yang mengetahui hal tersebut langsung meluncur ke lokasi dan melakukan olah tempat kejadian perkara.

Baca juga: Dianggap Tak Jelas, Warga Tetap Tolak Pembangunan Rudet Deret Bandung

Polisi menemukan mobil di dasar jurang dalam keadaan rusak parah. Namun kedua penumpang berhasil selamat.

"Penumpang mengalami luka, namun berhasil selamat," ucap Saep.

Kedua korban kemudian langsung dilarikan ke Puskesmas Cisandaan untuk diberikan tindakan medis. Polisi mengimbau pengendara yang melintasi Tanjakan Panganten untuk berhati-hati.

"Kami imbau pengendara untuk waspada saat melintas jalur Tanjakan Panganten. Medan jalan di lokasi tersebut menurun dan berbelok tajam," ujar Saep.

370 Dokter Hewan Dikerahkan Sambut Idul Adha di Jabar

Pengecekan hewan kurban. (Foto: Mukhlis Dinillah)


Bandung - Sebanyak 370 dokter hewan dikerahkan untuk memeriksa kelaikan dan kesehatan hewan kurban di Jabar menyambut Idul Adha. Pemeriksaan dilakukan sebelum dan sesudah hewan kurban disembelih.

Ratusan tenaga medis itu berasal dari Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Jabar I. Mereka diterjunkan untuk membantu tim dari Dinas Peternakan di beberapa daerah Jabar.

Baca juga: Kebutuhan Hewan Kurban di Jabar Meningkat Jadi 275 Ribu Ekor

Ketua PDHI Jabar I Pranyata mengatakan seluruh dokter hewan ini bakal dilibatkan dalam pemeriksaan antemortem dan postmortem. Artinya, sebelum dan sesudah hewan kurban disembelih.

"Untuk antemortem memastikan tubuh hewan tersebut harus sehat dan memenuhi syarat. Dari mulai bulu, temperatur badan, kotoran dan performanya," kata Prayanta di Gedung Sate, Kota Bandung, Kamis (1/8/2019).

Menurutnya, pada hari H Idul Adha, sejumlah dokter hewan menitikberatkan pemeriksaan postmorten. Mereka akan memberikan pemahaman kepada panitia kurban mengenai daging yang laik disebarkan mustahik.

"Kita lihat mana yang ada perubahan, kalau ada organ yang tidak layak dimakan disingkirkan," ucap Pranyata.

Baca juga: Hewan Tak Layak Kurban di Kota Cirebon Diberi Tanda Cat Biru

Ia menuturkan ada beberapa hal yang mesti diperhatikan ketika proses penyembelihan hewan kurban. Salah satunya mencegah hewan tersebut mengalami stres yang akan berpengaruh kepada kualitas daging. 

"Jadi hewan tersebut tidak boleh melihat temannya saat akan dipotong. Karena hewan ternak ini memiliki insting kesakitan," katanya. 

Selain itu, kata Pranyata, pemisahan daging dengan organ dalam hewan kurban juga wajib dilakukan. Sebab, sambung dia, khususnya organ usus merupakan tempat pertumbuhan bakteri.

"Atau disebut media bakteri, kalau disatukan dengan daging itu juga otomatis bakteri akan cepat tumbuh," ujar Pranyata.

Baca juga: Jelang Idul Adha, Pemprov Jabar Siapkan 800 Pemotong Hewan Kurban

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jabar, Koesmayadi Tatang Padmadinata mengatakan hewan kurban yang sehat akan diberikan tanda khusus. Pihaknya sudah menyiapkan 160 ribu kalung sehat hewan kurban.

"Kita menyiapkan 160 ribu kalung sehat untuk hewan kurban yang sudah diperiksa," kata Koesmayadi.