Senin, 03 September 2018

CIRI CIRI KIAMAT

DalamIslam.com

9 Tanda-Tanda Kiamat Besar Menurut Islam

Sebagai seorang muslim kita harus mengimani adanya hari kiamat atau hari akhir. Iman kepada Hari Kiamat adalah rukun iman babak dan merupakan bagian dari rukun iman yang ada enam (baca kotak iman kepada Allah SWT ).Kiamat atau yaumul qiyamah atau yang juga dikenal sebagai hari akhir adalah ahri dimana manusia akan dibangkitkan dari kubur dan dihisab amal perbuatannya.

Iman kepada hari akhir adalah pertanda seorang muslim yang baik.Meskipun demikian, kiamat sendiri menjadi sesuatu yang mirip kiamat kecil atau kiamat sughra, kiamat sedang atau kiamat wustha dan kiamat besar atau kiamat kubra. Yang suka dengan kiamat kecil dan kiamat sedang adalah kejadian meninggalnya manusia dan kejadian bencana alam yang menewaskan banyak jiwa. Sedangkan kiamat kubra adalah kiamat yang sebenarnya, dimana Allah SWT menghancurkan dunia dan menusnahkan seluruh kehidupan di dalamnya.

Tanda-tanda Kiamat

Kiamat besar seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah, tidak akan terjadi sebelum menjadi tanda-tanda yang besar. Adapun hearts kiamat Terdapat Tanda-Tanda Kecil ATAU Tanda-Tanda Akhir Zaman yakni seperti kerasulan nabi muhammad SAW, wafatnya Rasullullah, Semakin maraknya Perbuatan zina, khamer, Perbuatan keji, riba Dan kekikiran Serta Masih Banyak Tanda-Tanda Akhir Zaman ATAU kiamat Kecil lainnya.Termasuk yang terbalik dalam hadits berikut (baca tanda-tanda kiamat)

“(Jarak) diutusnya aku DENGAN Hari Kiamat seperti doa (jari) inisial.” Beliau memberikan isyarat DENGAN kedua jarinya (jari Telunjuk Dan jari tengahnya), Lalu merenggangkannya. ”(HR Bukhari)

Tanda-tanda Kiamat Besar

Arti tanda-tanda kiamat besar adalah peristiwa yang terjadi menjelang Hari Kiamat dan merupakan hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Ada beberapa tanda datangnya hari kiamat dari yang diriwayatkan dari Hudzaifah bin Asid sejati Rasul bersabda

“Sesungguhnya Kiamat tidak akan pernah terjadi sebelum menghasilkan tanda tanda (sebelumnya);penenggelaman yang terjadi di barat, penenggelaman yang terjadi di timur, dan (penenggelaman yang terjadi) di Jazirah Arab, secepatnya, Dajjal, hewan bumi, Ya-juj dan Ma-juj, terbitnya matahari dari barat, api yang keluar dari jurang Adn yang menggiring manusia, (dan yang) kesepuluh turunya Isa bin Maryam (HR Muslim)

“Tanda-tanda (Kiamat) bagaikan mutiara yang terangkai pada seutas benang. Jika benang tersebut putus, maka sebagiannya akan mempertimbangkan sebagian yang lain (nya). (HR Ahmad)

Munculnya Dajjal

Tanda yang pertama dari datangnya hari kiamat adalah kemunculan Dajjal. Diantara seluruh kejadian yang terjadi sejak kenabian Adam hingga Hari Kiamat, tidak ada hal yang lebih besar dibandingkan kemunculan Dajjal itu sendiri. Disebut diriwayatkan dari Imran bin Husain mengatakan, sesungguhnya aku mendengarkan Rasulullah bersabda;

”Di antara peristiwa Adam  hingga Hari Kiamat, (tidak ada) peristiwa yang lebih besar dari Dajjal.” (HR Muslim)

Ciri-ciri Dajjal


Dajjal atau dikejutkan sebagai makhluk raksasa bermata satu akan keluar dari tempat-tempat diantara negeri Syam dan Irak. Ia akan tinggal di bumi selama empat puluh hari.  Disebutkan juga ciri-ciri dajjal adalah bertubuh besar, mata satu pada dahi, dan memiliki banyak pengikut kaum wanita dan yahudi (baca sejarah yahudi dansejarah islam dunia ) hingga jumlah pengikutnya mencapai 70000 orang. Termasuk yang dalam hadits berikut

"Pada saat hari Rasulullah menyebutkan tentang Dajjal kepada manusia dan beliau bersabda, " Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta ‟ala tidak buta, ketahuilah bahwa Al-Masih Dajjal buta mata kanan (nya) seperti anggur yang muncul." (HR Bukhari)

Tempat Munculnya Dajjal


”Dia akan keluar diantara Syam dan Iraq dan akan membuat kerusakan ke kanan dan ke kiri. Wahai hamba Allah teguhlah kalian.” Kami bertanya, ”Wahai Rasulullah, berapa lama ia tinggal di bumi?” Beliau bersabda, ”Empat puluh hari; sehari seperti satu tahun, sehari seperti satu bulan, sehari seperti satu Jum‟at, dan hari-hari lainnya seperti hari-hari (biasa) kalian.” (HR Muslim)

Turunnya Nabi Isa As

Setelah Dajjal muncul di muka bumi sebagai tanda datangnya hari kiamat maka selanjutnya Allah akan mengutus kembali Nabi Isa As ke bumi. Sebagaimana umat muslim ketahui bahwa nabi Isa As tidak pernah meninggal sebelumnya, ia diangkat ke langit sebelum para kafir ingin membunuhnya dengan cara menyalibnya. Dan akhirnya muridnya yang berkhianat yakni Yudas Iskariot lah yang disalib. Disebutkan bahwa pada hari kiamat Nabi Isa As akan turun di menara putih yang terletak sebelah timur kota Damaskus di negeri Syam. (baca sejarah peradaban islamdan peninggalan sejarah islam)

Nabi Isa akan membunuh Dajjal


Ia akan datang dengan memakai dua helai pakaian yang sebelumnya telah dimasukkan dalam minyak ja‟faran (baca hukum minyak wangi beralkohol dan hukum memakai parfum beralkohol). Disebutkan pula bahwa Nabi Isa As akan meletakkan tangannya di atas sayap dua Malaikat dan rambutnya akan turun apabila ia menundukkan kepalanya, sedangkan jika ia mengangkat kepalanya maka butiran keringatnya akan jatuh seperti mutiara. Nabi Isalah yang akan membunuh dajjal dan membunuh para kafir yang masih hidup di dunia dengan nafasnya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini

“Ketika (telah) demikian keadaan Dajjal, tiba-tiba Allah mengutus Isa bin Maryam yang akan turun pada menara putih di timur Damaskus, di antara dua sayap malaikat. Jika ia menundukkan kepalanya, (maka) turunlah (rambutnya). Dan jika ia mengangkatnya, (maka) mengalirlah (keringatnya) bagaikan butir mutiara. Maka tidak ada seorang kafir pun yang mendapatkan bau nafasnya, melainkan ia (akan) mati (seketika itu) dan nafasnyaadalah sejauh pandangannya. Maka ia akan mencari Dajjal hingga di dapatkannya di pintu Ludd, maka Dajjal akan dibunuh (disana). Kemudian Nabi Isa pergi kepada kaum yang telah dipelihara Allah dari gangguan (Dajjal) dan mengusap wajah-wajah mereka serta menyebutkan kedudukan mereka di Surga.” (HR Muslim)

Nabi Isa As akan menghancurkan salib dan memerangi kaum kafir


Selain itu Nabi Isa As juga akan menghancurkan salib para umat nasrani dan menyuruh manusia untuk masuk islam serta membunuh babi yang banyak dikonsumsi oleh kaum nasrani (baca makanan haram dalam islam dan akibat makan makanan haram). Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits berikut ini

 “Nabi Isa jakan memerangi manusia untuk masuk ke dalam Islam. Ia akan menghancurkan salib dan membunuh babi-babi, dan menghapus jizyah (upeti). Allah akan menghancurkan seluruh agama pada masa tersebut, kecuali Islam. Pada zamannya Allah akan menghancurkan Al-Masih Dajjal. Akhirnya amanah pun terjaga di muka bumi hingga harimau dapat hidup dengan unta, singa dengan sapi, srigala dengan kambing dan anak-anak pun bermain dengan ular tanpa membahyakan mereka. Ia akan hidup selama empat puluh tahun, kemudian ia meninggal dunia lalu orang muslim menshalatkannya.”(HR Abu Ahmad)

Munculnya Yajuj dan Majuj

 Ya-juj dan Ma-juj adalah kaum manusia yang berpostur tidak biasa. Dahulu, Raja Zulkarnain yang berasalh dari masa kenabian Ibrahim, dan menggantikan raja Namrud, membangun sebuah dinding agar yajuj dan Majuj tidak dapat melewatinya dan mengganggu kaum yang tinggal disekitarnya. Hingga kini mereka dipercaya masih hidup dan berusaha menembus dinding tersebut dengan cara melubanginya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut .

“(Yajuj dan Majuj) melubanginya setiap hari hingga ketika mereka hampir saja melubanginya, maka (pemimpin) di antara mereka berkata, “Kembalilah, kalian akan (kembali) melubanginya besok.” Kemudian Allah mengembalikannya kokoh seperti semula hingga ketika telah tiba waktunya dan Allah berkehendak untuk mengutus mereka kepada manusia, maka (pemimpin) mereka berkata, “Kembalilah, kalian akan (kembali) melubanginya besok, insya Allah (jika Allah menghendaki).” Iamengucapkan istitsna (insya Allah). Maka keesokan harinya mereka kembali dan mendapati dinding tersebut dalam tetap keadaan seperti ketika mereka tinggalkan. Akhirnya mereka dapat melubanginya dan keluar di tengah-tengah manusia, lalu mereka meminum air dan manusia lari dari mereka.” (Hr Tirmidzi)

 Robohnya Dinding penghalang yajuj dan majuj


Pada hari kiamat dinding tersebut akan roboh dan kaum Yajuj dan Majuj akan menuruni gunung dan menghancurkan segala yang mereka lewati termasuk membubuh manusia yang tersisa terutama kaum kafir. Disebutkan bahwa yajuj dan Majuj akan mati dililit ular yang merupakan doa dari Nabi Isa As. Sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut

“Nabi Allah Isa dan para sahabatnya berdoa kepada Allah, maka Allah mengirimkan ulat ke leher-leher mereka (yajuj dan majuj), maka mereka mati seperti kematian satu jiwa.” (HR Muslim)

Terjadinya Tiga Penenggelaman Bumi

Pada hari kiamat akan terjadi penenggelaman daratan dimuka bumi yang meliputi bagian bumi bagian barat, timur serta jazirah arab (baca sejarah islam di Arab Saudi dan jazirah islam). Meskipun hal tersebut belum terjadi hingga saat ini

“Telah ditemukan penenggelaman di berbagai tempat, akan tetapi mungkin saja bahwa yang dimaksud dengan tiga penenggelaman adalah sesuatu yang lebih dahsyat dari yang telah ditemukan, seperti ukurannya dan tempatnya yang lebih besar.”

Munculnya Asap atau kabut

Tanda-tanda kiamat selanjutnya adalah munculnya asap dan asap tersebut telah ditunggu-tunggu sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah SWT dalam yata berikut

فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍيَغْشَى النَّاسَ ۖ هَٰذَا عَذَابٌ أَلِيمٌ

 “Maka tunggulah hari ketika langit membawa asap yang nyata. Yang meliputi manusia, inilah siksa yang pedih.” (QS. Ad-Dukhan : 10 – 11)

Terbitnya matahari dari arah barat

Matahari biasanya akan terbit dari bagian sebelah timur namun pada hari kiamat matahari akan terbit dari arah sebaliknya yakni dari arah barat, dan jika hal itu terjadi maka tertutup sudahlah pintu taubat bagi umat manusia (baca taubatan nasuha dan cara bertaubat nasuha dalam islam). Sebagaimana hadits rasulullah SAW berikut ini

Tidak akan terjadi Hari Kiamat hingga matahari terbit dari barat. Ketika (manusia) menyaksikan matahari terbit dari barat, (maka) semua manusia akan beriman. Pada hari tersebut tidak bermanfaat lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu atau ia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya (HR Bukhari)

Keluarnya Binatang dari Perut Bumi

 Tanda datangnya hari kiamat yang lain adalah keluarnya binatang dari tanah Mekah. Binatang tersebut akan menandai wajah orang-orang beriman dan orang kafir untuk membedakan keduanya.  Adapun orang beriman akan ditandai wajahnya sementara orang kafir akan mendapatkan tanda hidung mereka sebagai lambang dari kekufuran sebagaimana disebutkan dalam hadits.

“Binatang tersebut akan keluar dan akan memberikan tanda pada hidung-hidung mereka.”

Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami. (QS. An-Naml:82)

Munculnya Api yang Mengumpulkan Manusia

Tanda-tanda selanjutnya dari peristiwa hari kiamat besar adalah keluarnya api yang akan mengumpulkan seluruh manusia di negeri Syam. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits berikut ini

 “Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Rasulullah menjawab, “Hendaklah kalian berkumpul di Syam.”

Ditiupnya Sangkakala

Pada hari kiamat, malaikan Israfil akan membunyikan terompet atau sangkakala. Tiupan sangkakala yang pertama akan mengejutkan manusia selanjutnya yang kedua akan membinasakan manusia dan tiupan yang ketiga akan membangkitkan seluruh manusia dari liang kubur atau kematiannya. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits berikut ini

“Israfil meniup sangkakala tiga tiupan. Tiupan yang pertama adalah yang mengejutkan. Tiupan yang kedua adalah yang mematikan. Sedangkan tiupan ketiga adalah yang membangkitan (makhluk) menghadap Rabbul ‘alamin.”

Demikianlah tanda-tanda besar Kiamat yang dapat kita ketahui sebagai umat muslim. Dengan mengetahui tanda-tanda tersebut maka hendaknya kita mengimani hari akhir dan mempersiapkan bekal kita untuk menjelangnya. Selain itu hendaknya kita sesalu memohon ampunan dan perlindungan dari Allah SWT agar kelak kita dibangkitkan dalam keadaan beriman dan tidak mengalami siksa atau melihat terjadinya hari kiamat yang mengerikan.

Categories:Pengetahuan Dasar Islam

Tags: hari kiamatislammakhluk hiduptanda kiamattanda tanda kiamat

anggi rosalia

2 years ago

Related Post

Hukum Tidur Tengkurap dalam Islam

Tidur merupakan salah satu kebutuhan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Tidur berfungsi sebagai sarana istirahat dan…


8 Amalan Saat Terjadi Gerhana Bulan

Salah satu keajaiban Allah Swt, adalah Gerhana Bulan. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG),…


Larangan Mencela Orang Muslim yang Sudah Bertaubat

Manusia, fitrahnya merupakan makhluk Allah yang tidak sempurna, yang tidak bisa luput dari kesalahan dan dosa.…


Larangan Membuka Aib Suami dalam Islam

Dalam berumah tangga, pastinya tidak bisa terlepas dari masalah yang melibatkan konflik antar pasangan. Ada begitu…


Keutamaan Shalat Jenazah Dalam Islam

Ada serangkaian kegiatan yang wajib dilakukan ketika seorang muslim meninggal dunia. Salah satunya ialah sholat…



 

Adchoices


 

Tentang kami


Term Of Use


 

Disclaimer


 

Hubungi Kami


 

Kebijakan Privasi


DalamIslam.com

© DalamIslam.com - All Rights Reserved - Hak Cipta di lindungi Undang Undang

Top View Desktop Version

     



 



Teks asli

Sumbangkan terjemahan yang lebih baik

Kebakaran Pasar Gedebage Bandung Berhasil Dipadamkan Petugas



Kebakaran Pasar Gedebage Bandung Berhasil Dipadamkan Petugas

Kebakaran di Pasar Gedebage Bandung.

Bandung - Setelah hampir empat jam, tim gabungan berhasil mengendalikan kobaran api yang meludeskan ratusan kios pedagang di Pasar Gedebage, Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung. 

"Sekarang sudah masuk overhaul(pemeriksaan), pendinginan," ujar Kadiskar PB Kota Bandung Ferdi Ligaswara kepada wartawan di lokasi, Senin (3/9/2018).

Baca juga: Kebakaran Pasar Gedebage Bandung, 600 Kios Hangus

Ferdi mengatakan proses tersebut akan berlangsung cukup lama karena petugas harus teliti memeriksa setiap sudut lokasi kebakaran. Sebab bukan tidak mungkin api yang tersisa dapat kembali berkobar. 

Sebelumnya tim menerima laporan dari warga melalui 113 pada Senin sore sekitar pukul 16.55 WIB. Sebanyak 21 unit mobil pemadam dari Kota/Kabupaten Bandung dan Bintang Agung dikerahkan untuk memadamkan api.

Baca juga: Kebakaran Pasar Gedebage Bandung, 21 Mobil Pemadam Diterjunkan

Petugas cukup kesulitan untuk memadamkan api karena kondisi angin kencang ditambah struktur bangunan yang saling menyatu antara satu dan lainnya. 

"Tadi tim kita bagi dua yang satu fokus memadamkan, satu pemblokiran agar api tidak meluas. Sekarang sudah pendinginan," katanya. 

Pantauan wartawanintensitas mobil pemadam yang keluar masuk ke lokasi kebakaran berangsur menurun. Sebelumnya hampir setiap 30 menit mobil pemadam silih berganti menyuplai air untuk memadamkan api.(tz Bandung)

kebakaran pasar gedebage pasar gedebage bandung bandung


AKIBAT MEREMEHKAN SHOLAT



Memurnikan Aqidah, Menebarkan Sunnah

AKIBAT MEREMEHKAN SHALAT


Apakah ada di antara kita yang pernah merasa sempitnya dunia? Semuanya terasa susah? Selalu gagalnya kerja dan usaha? Waktu yang selalu maju ke depan dan bahkan tidak pernah berhenti barang setengah detikpun, terasa selalu terbuang dengan sia-sia tanpa adanya hasil yang memuaskan dada? Sempit, susah, sia-sia, bingung, karena masalah datang silih berganti, bertubi-tubi seolah tiada hari tanpa masalah yang menghampiri.

Begitupula, ada seseorang yang ia mengetahui ia seringkali berbuat maksiat, ia sadar namun tak kuasa untuk menahannya.  Maksiat itu selalu diulanginya, meskipun setelah melakukannya ia merasa menyesal namun setelahnya ia mengulanginya lagi. Hatinya bergejolak melawan dan selalu tumbang dengan kemaksiatan.

Barangkali…. karena sering meremehkan shalat…

 

Minta Tolonglah Kepada Allah

Maka ketahuilah, bahwa yang pertama, akar dari semua pertolongan, adalah mintalah selalu pertolongan dari Allah subhanahu wata’ala. Semua kesulitan dan kesempitan, hanya Allah-lah yang mampu menolong dan menghilangkannya. Sebagaimana firman-Nya :

Dan mohonlah pertolongan ( kepada Allah ) dengan sabar dan shalat.  Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu”. ( QS. Al Baqarah : 45)

Ibnu Katsir dalam tafsir Al Quranul ‘Azhim, 1/255, memaparkan, bahwa shalat adalah ibadah yang paling agung untuk menjadikan penolong dan memperteguh dalam suatu perkara. 

Allah Subhanahu wa ta’alajuga berfirman :

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan – perbuatan) keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya daripada ibadah – ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan ( QS. Al Ankabut : 45 )

Dan tidaklah dikatakan orang telah shalat dengan benar bila dia masih melakukan berbagai kemaksiatan. Sungguh mudah tolak ukurnya, maka pikirkanlah, cara melepaskan diri dari perbuatan maksiat? Perbaikilah shalat.

Demikian juga, baik dan jeleknya hasil usaha, seringkali bisa dilihat dari bagaimana seseorang itu menjalankan shalat.  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Perkara yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya baik maka seluruh amalnya pun baik. Apabila shalatnya buruk maka seluruh amalnya pun akan buruk.” (HR. Ath-Thabrani, dinilai shahih oleh Syekh Al-Albani daam kitab Shahih Al-Jamu’ish Shaghir ).

 

Perbaiki Shalatmu

Tidaklah mengherankan, orang yang memperbaiki shalatnya, kemudian ia mendapatkan perbaikan dalam masalah dan kehidupannya.  Ia dimampukan Allah untuk mengatasi kesulitan dan kesempitan, dan ia di lapangkan hatinya sehingga hidup ini terasa lebih mudah dan nikmat.  Betapa banyak orang kaya yang kepikiran dalam mengelola hartanya, dan betapa banyak orang miskin yang bahagia dengan segala keterbatasannya, meskipun juga sebaliknya, banyak orang kaya yang ia baik shalat dan amalannya sehingga kehidupannya terasa memberikan manfaat bagi dirinya, keluarganya juga masyarakatnya.

Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan peringatan kepada orang-orang yang suka shalat di shaf belakang dengan mengatakan : “Apabila suatu kaum selalu berada di shaf belakang, maka Allah akan menjadikan mereka kaum yang terbelakang”.  Syaikh Utsaimin menjelaskan bahwa hal ini adalah hal yang sangat berbahaya.  Sebab, setiap kali seseorang suka mundur dari shaf pertama, shaf kedua, shaf ketiga ( bersengaja untuk tidak berusaha mendapatkan shaf terbaik dengan menunda-nunda ), maka Allah akan menjadikan hatinya untuk suka menunda dan memperlambat dalam melakukan amal shalih. ( Syarah Riyadhus Shalihin, 1/111 ).

Sungguh kita bisa melihat dari diri kita masing-masing, berada dimanakah shaf shalat kita selama ini?  Lalu bagaimana pula dengan semua urusan-urusan kita ? Suka terlambat, suka tertunda, terasa berat? Laa haula walaa quwwata illa billah. Perbaikilah shalat kita.

Banyak Masalah? Shalatlah

Ibnu Katsir mengatakan ( Tafsir Al Quran Al Azhim, I / 255 ), Imam Ahmad meriwayatkan, berkata Hudzaifah bin Yaman, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika ditimpa permasalahan (kesulitan, kesedihan, kesusahan, berat), beliau melakukan shalat” (H.R Abu Dawud).

Itulah kunci dari kunci-kunci kehidupan sebagaimana yang telah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam contohkan.  Lalu, bagaimana dengan shalat kita ? Apakah masih sekadarnya saja? Mari kita perbaiki shalat kita, yaitu dengan mempelajari hukum-hukum yang terkait di dalamnya, yaitu syarat sah shalat, rukun-rukun shalat, wajib dan Sunnah shalat.  Dan tentu saja, yang terkait dengan shalat adalah mempelajari bab berwudhu.  Karena wudhu yang tidak sah, maka shalatnya juga tidak sah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Allah tidak menerima shalat salah seorang di antara kalian apabila dia berhadats sebelum berwudhu.” (HR. Bukhari, dari hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu dalam Bab Wudhu)

Kesemuanya ini adalah satu hal yang wajib untuk dipelajari bagi orang-orang yang menginginkan kebaikan dan perbaikan dalam shalatnya.

Dihinakan Allah: Orang yang Meremehkan dan Melalaikan Shalat

Dan sebaliknya, sebagaimana telah kita singgung di awal pembahasan, orang yang meremehkan shalat, dia akan dihinakan Allah. Allahsubhanahu wata’ala berfirman : “Dan barangsiapa dihinakan Allah, maka tidak ada seorangpun yang bisa memuliakannya” ( QS Al Hajj : 40 ).

Syaikh Dr. Umar bin Abdullah bin Muqbil mengatakan, “Dan ketika sujud kepadaNya telah menjadi hal remeh bagi mereka, mereka bermudah-mudahan di dalamnya dan tidak melakukannya, maka Allah pun akan menghinakan mereka hingga tak ada seorangpun yang mampu memuliakannya setelah Allah hinakan” ( Qowaid Quraniyyah, hal 130 ).

Hal ini selaras dengan firman Allah yang mengancam umatNya dalam hal meremehkan shalat : “Kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu yang lalai dari shalatnya” ( QS Al Maa’uun 4-5 ).

Lalu, apakah yang dimaksud dengan orang yang lalai dalam shalat ?

Syaikh Utsaimin menjelaskan mengenai tafsir ayat ini, “Mereka adalah orang-orang yang shalatnya berjamaah atau sendiri tapi mereka lalai atas shalatnya, yaitu lupa terhadapnya, tidak menegakkan sebagaimana mestinya, mengakhirkan waktunya dari yang lebih utama, tidak lurus dalam rukuk, sujud, berdiri dan tidak membaca yang wajib dibaca, baik yang berupa bacaan quran atau dzikir, hatinya berkeliling ke kanan dan kekiri dan dia lalai akan shalatnya.  Dan termasuk orang yang lalai adalah orang yang meninggalkan shalat berjamaah”. ( Tafsir Juz Amma, 331 )

Ibnu Abbas, dalam Tafsir Al Quranul Azhim, 8/493, “Itu adalah orang-orang munafik yang mengerjakan shalat ketika ada orang banyak dan tidak mengerjakannya ketika dalam kesendirian.  Mereka rajin mengerjakannya, hanya saja di dalam mengerjakannya lalai pada waktu yang telah ditentukan sehingga keluar dari waktunya.  Baik lalai dari awal waktunya sehingga mereka mengerjakan di akhir waktu shalat secara terus menerus dan menjadi kebiasaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Itu adalah shalatnya orang munafik, Itu adalah shalatnya orang munafik, Itu adalah shalatnya orang munafik. Dia duduk menunggu matahari dan ketika matahari sudah berada di antara kedua tanduk setan (yakni akan tenggelam), maka ia berdiri (untuk shalat) lalu mematuk-matuk (shalat dengan sangat cepat) empat rakaat, tanpa berdzikir kepada Allah di dalamnya, melainkan hanya sangat sedikit.

 

Ia shalat dengan sangat cepat sekali, tidak tuma’ninah dan tidak khuyuk. Ia melakukan shalat hanya sekadar untuk pamer dan tidak mengharap ridho Allah.  Maka orang yang seperti ini sama kedudukannya dengan orang yang tidak mengerjakan shalat sama sekali. Allah azza wa jalla telah berfirman:

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di Hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (An-Nisa: 142)

Oleh karena itu, marilah kita bersemangat dalam mempelajari dan mengerjakan shalat. Shalat adalah tiang agama, shalat adalah amalan yang pertama kali dihisab pada hari kiamat kelak. Shalat merupakan amalan agama yang paling terakhir hilang, jika shalat hilang dari agama, maka tidak ada lagi yang tersisa dari agama. Shalat juga merupakan hal terakhir yang diwasiatkan Nabi kepada umatnya. Dari Ummu Salamah radhiyallahu anha, beliau berkata :

Jagalah shalat, jagalah shalat dan budak-budak yang kalian miliki” ( HR Ahmad, dan di shahihkan oleh Al Albani dalam Irwaul Ghalil ).

Allah juga memuji orang-orang yang mengerjakannya, dan mereka yang menyuruh keluarganya mengerjakannya.  Allah mencela orang-orang yang mengabaikan dan malas mengerjakannya.  Allah membuka berbagai amal perbuatan orang-orang yang beruntung dengan shalat dan mengakhirinya dengan shalat pula.

Lalu, apa alasan kita meremehkan shalat ?

Di antara tanda meremehkan adalah, kita sudah tahu hal-hal di atas, namun masih saja selalu melakukannya dan tidak ada perbaikan di dalam sholatnya. 


TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYA 24

tentang Al baqarah ayat 24

Surat Al-Baqarah Ayat 24

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

24. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) -- dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.

hadits Hadits Darimi Nomor 3249

surat Al Baqarah, ayat kursi, dua ayatsetelahnya dan tiga ayat terakhir dari surat al Baqarah, maka...] dari [Asy Sya'bi] dari [Ibnu Mas'ud] ia berkata; Barangsiapa yang membaca empat ayat dari awal... sesuatu pun yang ia benci (mendatangkan madharat baginya). Tidaklah dibacakan ayat-ayat tersebut kepada orang gila, kecuali ia pasti sadar.

tafsir Surat Al-Ahqaf Ayat 15

menyusui berlangsung selama dua tahun (24 bulan) Dalam dalam surat al-Baqarah ayat 233 disebutkan juga... diri kepada-Mu. "(1). (1) Berdasarkan ayat ini, dapat diketahui bahwa masa mengandung setidaknya... sapih) berlangsung selama 30 bulan. Sementara, dalam surat Luqmân ayat 14, disebutkan bahwa masa...--yaitu 30 bulan--itu dikurangi masa menyusui saja--yaitu 24 bulan--dapat diketahui bahwa masa

artikel Surat An-Nisa' Ayat 163

-deskripsi"> Lihat surat Al Baqarahayat 65 dan surat Al A'raaf ayat 163.

hadits Hadits Bukhari Nomor 4172

ayat yang terdapat dalam surah AlBaqarah yaitu: Dan orang-orang yang mati di antara kamu serta... meninggalkan istri-istri, -hingga ayat-; 'tanpa keluar rumah. (Al Baqarah; 234). Dia menjawab; Ayat itu...Telah menceritakan kepadaku [Abdullah bin Abu Al Aswad] Telah menceritakan kepada kami [Humaid bin... AlAswad] dan [Yazid bin Zurai'i] keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami [Habib bin Syahid... telah dinasakh dengan ayat yang lain. Lalu aku bertanya; kenapa kamu menulisnya? Dia menjawab; Wahai

hadits Hadits Nasai Nomor 935

pertama beliau membaca ayat dalam surat Al Baqarah, "Katakanlah (Hai orang-orang mukmin), 'Kami beriman... kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami." (Qs. AlBaqarah (2): 136) sampai akhir ayat... [Marwan bin Mu'awiyah Al Fazari] dia berkata; Telah menceritakan kepada kami [Utsman bin Hakim] dia..., Rasulullah Shallallallahu'alaihi wasallam membaca (ayat) pada dua rakaat shalat Subuh. Pada rakaat...) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patut (kepada seruanmu) (Qs. Al Maa'idah (5): 111)."

artikel Surat Az-Zukhruf Ayat 1

-deskripsi"> Lihat pembahasan tentangnya di awal ayat surah AlBaqarah.

hadits Hadits Tirmidzi Nomor 2883

." QS Al-Baqarah: 115. Ibnu Umar berkata; "Berkenaan dengan peristiwa itulah, ayat ini turun." Abu Isa... kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah." QS Al-Baqarah... Masjidil Haram." QS Al-Baqarah: 144 yaitu arahnya. Telah menceritakan kepada kami yang demikian itu... menghadap, di situlah wajah Allah." QS Al-Baqarah: 115, ia berkata; "Di sanalah kiblat Allah." Telah... menuju Madinah. Setelah itu Ibnu Umar membaca ayat ini: "Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat

artikel Surat An-Nisa' Ayat 49

menganggap diri mereka bersih. Lihat surat Al Baqarah ayat 80 dan ayat 111 dan surat Al Maa-idah ayat18... Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.(Terj. Al Baqarah: 112)

artikel Surat Fussilat Ayat 1

-deskripsi"> Lihat tafsirnya di ayatpertama surah Al Baqarah.

artikel Surat Ali 'Imran Ayat 136

-deskripsi"> Tafsir ayat ini lebih rincinya sudah disebutkan dalam surat Al Baqarah: 136.

hadits Hadits Ahmad Nomor 20237

dengan membaca fatihatul kitab (surat Al fatihah), empat ayatpermulaan surat Al Baqarah, dua ayat...: 163) dan ayat kursi. Lalu tiga ayat terakhir dari surat Al Baqarah. satu ayat dari surat Ali Imran... beriku ini: WA ILAAHUKUM ILAAHUW WAAHID (Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa) (QS. AlBaqarah... (yang berhak disembah) (Qs. Ali Imran: 18), satu ayat dari surat Al A'raaf: INNA RABBAKUMULLAAHUL... Maha Tinggi Allah, raja yang Sebenarnya) (Qs. Al Mukminun: 116), satu ayatdari surat Al Jin: WA ANNAHU

hadits Hadits Nasai Nomor 3488

) diberi nafkah hingga setahun lamanya dan tidak disuruh pindah (dari rumahnya) ' (Qs. Al Baqarah: 240... antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber'iddah) empat bulan sepuluh hari) ' (Qs. Al Baqarah: 234)....Telah mengabarkan kepada kami [Qutaibah] berkata; telah menceritakan kepada kami [Abu AlAhwash...). 'Ikrimah berkata, "Ayattersebut dihapus oleh ayat: '(Orang-orang yang meninggal dunia di

hadits Hadits Bukhari Nomor 439

[Masruq] dari ['Aisyah] berkata, "Ketika turun ayat-ayat dalam Surah Al Baqarah tentang masalah riba...Telah menceritakan kepada kami ['Abdan] dari [Abu Hamzah] dari [Al A'masy] dari [Muslim] dari..., Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar ke masjid lalu membacakan ayat-ayattersebut kepada manusia. Kemudian beliau mengharamkan perdagangan khamer."

hadits Hadits Darimi Nomor 3248

[Asy Sya'bi] ia berkata; [Abdullah] berkata; Barangsiapa yang membaca sepuluh ayat dari surat Al...Telah menceritakan kepada kami [Ja'far bin 'Aun] telah mengabarkan kepada kami [Abu Al 'Umais] dari... Baqarahpada malam hari, niscaya setan tidak akan masuk ke dalam rumahnya pada malam itu hingga pagi... hari. Yaitu empat ayat dari awal surat, ayatkursi dan dua ayat setelahnya, serta tiga ayat penutup... surat, yaitu mulai dari ayat: LILLAAHI MAA FIS SAMAAWAATI… (Kepunyaan Allahlah segala apa yang ada di langit…)

hadits Hadits Darimi Nomor 1061

YATHURNA" (Dan janganlah kalian dekati mereka (wanita yang sedang haid) hingga ia suci) -Qs. AlBaqarah..." (Dan apabila mereka telah suci) -Qs. Al Baqarah: 222-, ia berkata: "(maksudnya adalah) jika mereka telah mandi."... [seseorang yang menceritakan kepadanya] dari [Mujahid]: (Tentang ayat) "WA LAA TAQRABUUHUNNA HATTAA

artikel Surat Al-Hijr Ayat 87

-deskripsi"> Yang dimaksud tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang adalah surat Al... panjang, yaitu Al-Baqarah, Ali Imran, Al-Maaidah, An-Nissa', Al 'Araaf, Al An'aam dan Al-Anfaal bersama At Taubah.

...-Faatihah yang terdiri dari tujuh ayat. Sebagian ahli tafsir menafsirkan dengan tujuh surah yang

hadits Hadits Bukhari Nomor 4182

menampakkan apa yang ada dalam diri kalian atau menyembunyikannya" (Al Baqarah: 284). Ibnu Umar berkata; Ayat ini telah dinaskh oleh ayatsesudahnya.... mengabarkan kepada kami [Syubah] dari [Khalid Al Hadza] dari [Marwan Al Ashfar] dari salah seorang sahabat

hadits Hadits Bukhari Nomor 4652

bersabda: "Dua ayat terakhir dari surat Al Baqarah, siapa yang membacanya pada suatu malam, niscaya kedua ayat itu akan mencukupinya."... menceritakan kepada kami [Al A'masy] ia berkata; Telah menceritakan kepadaku [Ibrahim] dari ['Alqamah...] dan [Abdurrahman bin Yazid] dari [Abu Mas'ud Al Anshar] ia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam

hadits Hadits Darimi Nomor 3250

surat Al Baqarah. Sesungguhnya ayat-ayat tersebut termasuk perbendaharaan (rahmat Allah) di bawah 'Arasy.... mendengar] [Ali] berkata; Aku tidak melihat seorang berakal tidur hingga ia membaca ayat-ayat terakhir

hadits Hadits Bukhari Nomor 1942

['Aisyah radliallahu 'anha] berkata: "Ketika turun ayat-ayat terakhir dari surah Al Baqarah, Nabi... shallallahu 'alaihi wasallam menerima ayat-ayattersebut ketika sedang berada di masjid maka kemudian Beliau mengharamkan jual beli didalam masjid".

hadits Hadits Darimi Nomor 3251

dari surat Al Baqarah ketika hendak tidur, maka ia tidak akan lupa AlQur'an. Yaitu empat ayat dari... ayat-ayat Al Qur'an yang telah dihafalnya. Abu Muhammad berkata; Di antara mereka yang mengatakan adalah AlMughirah bin Sumai'....Telah menceritakan kepada kami [Ishaq bin Isa] dari [Abu Al Ahwash] dari [Abu Sinan] dari [Al... Mughirah bin Subai'], ia termasuk sahabat Abdullah, ia berkata; Barangsiapa yang membaca sepuluh ayat... awal surat, ayat kursi, dua ayat setelahnya dan tiga ayatterakhir. Ishaq berkata; Ia tidak akan lupa

hadits Hadits Bukhari Nomor 1469

, Maka turunlah ayat Al Qur'an AlBaqarah ayat 195). Dia ('Imran) bersabda: "Seseorang berpendapat sesuai kehendak Allah".

hadits Hadits Darimi Nomor 3131

] dari [Al Husain bin Waqid] dari [Yazid] dari [Ikrimah] dan [Al Hasan] tentang ayat: '(Jika ia... meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya) ' (Qs. Al Baqarah: 180...), begitulah wasiat dahulu hingga dihapus oleh ayat tentang harta warisan."

hadits Hadits Bukhari Nomor 2074

dari Surah Al Baqarah, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar lalu bersabda: "Telah diharamkan perdagangan khamar (minuman keras) "....Telah menceritakan kepada kami [Muslim] telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari [AlA'masy...] dari [Abu Adh-Dhuhaa] dari [Masruq] dari ['Aisyah radliallahu 'anha]; Ketika turun ayat-ayat akhir

hadits Hadits Darimi Nomor 1671

berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin) ' (Qs.?Al Baqarah: 184).) [Salamah... Mudlar- dari ['Amru bin Al Harits] dari [Yazid] mantan budak Salamah bin AlAkwa', bahwa ia berkata... ketika turun ayat ini: '(Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak... turunlah ayatyang setelahnya dan menghapus hukum ayat tersebut."

hadits Hadits Nasai Nomor 3498

. Al Baqarah: 106), dan firman Allah: '(Dan apabila kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain... merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah) ' (Qs. AlBaqarah: 228). Hal... (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik) ' (Qs. Al Baqarah: 229).... bin Ibrahim] ia berkata; telah menceritakan kepada kami [Ali bin AlHusain bin Waqid] berkata; telah... ['Ikrimah] dari [Ibnu Abbas] mengenai firman Allah: '(ayat mana saja yang kami nasakhkan atau kami

hadits Hadits Abu Daud Nomor 3028

terakhir Surat Al Baqarah turun Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar dan membacakannya kepada... [Sulaiman] dari [Abu Adl Dluha] dari [Masruq] dari [Aisyah] ia berkata, "Tatkala beberapa ayat... Abu Syaibah] telah menceritakan kepada kami [Abu Mu'awiyah] dari [AlA'masy] dengan sanad dan... maknanya, ia berkata, "Yaitu ayat-ayat terakhir mengenai riba."

hadits Hadits Darimi Nomor 1115

subhanallahu wa ta'ala perintahkan kepada kalian) ' (Qs. Al Baqarah: 223), yakni hendaklah kalian... sawah ladang kalian, maka datangilah sawah ladang kalian sesuai kehendak kalian) ' (Qs. AlBaqarah...Telah menceritakan kepada kami [Ubaidullah bin Musa] dari [Utsman bin Al Aswad] dari [Mujahid] ia... kalangan laki-laki, kemudian ia membaca ayat: '(Dan mereka bertanya kepada kamu tentang haid, maka... jauhi kemaluan mereka ketika sedang haid. Kemudian ia membaca ayat: '(Isteri-isteri kalian bagaikan

hadits Hadits Muslim Nomor 1340

kepadaku tentang dua ayat yang terdapat di dalam surat Al Baqarah." Abu Mas'ud berkata; Ya... dari surat Al Baqarah, niscaya keduanya akan memeliharanya dari bencana." Dan telah menceritakannya..., Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: "Siapa yang membaca kedua ayat itu, yakni akhir... menceritakan kepada kami [Muhammad bin Al Mutsanna] dan [Ibnu Basysyar] keduanya berkata, telah

tafsir Surat An-Najm Ayat 37

), lalu Ibrahim menunaikannya dengan lengkap." (Q.S. Al Baqarah, 124) Kemudian pengertian yang... menepati apa yang diperintahkan kepadanya,, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat yang lain, yaitu... terkandung di dalam lafal Maa pada ayat sebelumnya, dijelaskan oleh firman berikutnya,

Minggu, 02 September 2018

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 23-24

alqur'anmulia

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 23-24

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur’an itu dan ajaklah penolong penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang yang kafir.” (QS. 2:23-24)

Selanjutnya Allah menetapkan kenabian setelah Dia menetapkan bahwasannya tiada Ilah yang hak selain Allah, maka Dia pun berfirman yang ditujukan kepada orang-orang kafir: wa in kuntum fii raibim mimmaa nazzalnaa ‘alaa ‘abdinaa (“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’an yang kami wahyukan kepada hamba Kami.”)

Yang dimaksud adalah Muhammad saw. Artinya, buatlah satu surat yang serupa dengan surat dari kitab yang dibawa oleh Muhammad, jika kalian mengaku bahwa wahyu itu diturunkan dari selain Allah, lalu bandingkanlah surat itu dengan apa yang telah dibawa oleh Muhammad. Dan untuk melakukan itu mintalah bantuan kepada siapa saja yang kalian kehendaki selain Allah maka sesungguhnya kalian tidak akan pernah berhasil melakukannya.

Ibnu Abbas mengatakan, “syuHadaa-akum” berarti para penolong. Sedangkan as-Suddi menceritakan dari Abu Malik, ” syuHadaa-akum ” berarti kaum lain yang mau membantu kalian untuk melakukan hal tersebut. Dan mohonlah bantuan kepada sembahan-sembahan kalian yang engkau anggap dapat memberikan pertolongan.

Dan Mujahid mengatakan, berarti beberapa orang ahli bahasa yang dapat membantu hal itu. Dan mereka ini telah ditantang oleh Allah untuk melakukan hal tersebut pada surat yang lain dalam al-Qur’an: “Katakanlah datangkanlah sebuah kitab dari sisi Allah yang kitab itu lebih (dapat) memberi petunjuk daripada keduanya (Taurat dan al-Qur’an), niscaya aku akan mengikutinya, jika kamu sungguh orang-orang yang benar. ” (QS. Al-Qashash: 49).

Demikian juga firman-Nya yang terdapat dalam surat al-Israa’: “Katakanlah: `Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.”‘ (QS. Al-Israa’: 88).

Sedangkan dalam surat Hudd difirmankan-Nya:
“Tidaklah mungkin al-Qur’an ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (al-Qur’an itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Rabb semesta alam. Atau (patutkah) mereka mengatakan: ‘Muhammad membuat-buatnya.’ Katakanlah: `(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. “‘ (QS. Yunus: 37-38).

Semua ayat di atas diturunkan di Makkah. Selain itu, Allah juga menantang orang-orang kafir untuk melakukan hal tersebut di Madinah, dengan firman-Nya: “Dan jika kamu tetap dalam keraguan terhadap al-Qur an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surat yang serupa dengannya. ” (QS. Al-Baqarah: 23).

Yaitu yang serupa dengan al-Qur’an. Demikian itulah yang dikemukakan oleh Mujahid dan Qatadah serta menjadi pilihan Ibnu Jarir, ath-Thabari, az-Zamakhasyari, ar-Razi, dan dinukil dari Umar, Ibnu Masud, Ibnu Abbas, Hasan al-Bashri, dan mayoritas para muhaqqiq. Dan hal itu ditarjih (dinilai kuat) dengan beberapa pandangan, yang terbaik di antaranya adalah bahwa Allah swt menantang mereka secara keseluruhan, baik dalam keadaan sendiri-sendiri maupun kelompok, orang-orang yang buta huruf maupun yang ahli kitab. Yang demikian itu merupakan tantangan yang paling tegas dan sempurna daripada sekedar menantang satu per satu dari mereka yang tidak dapat menulis dan belum mendalami ilmu sedikit pun.

Juga dengan menggunakan dalil dari firman-Nya, “Sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya.” (QS. Huud: 13).
Juga firman-Nya, serupa dengan-nya.”Niscaya mereka tidak dapat membuat yang semisal dengannya.” (QS. Al-Israa’: 88).

Oleh karena itu Allah berfirman, wa il lam taf’aluu wa lan taf’aluu; (“Jika kamu tidak dapat membuatnya dan tidak akan pernah dapat melakukannya. “Kata “lan” untuk memberikan ketegasan pada masa yang akan datang. Artinya, sekali-kali kalian tidak akan pernah dapat melakukannya. Dan ini merupakan mukjizat lain, di mana Dia memberikan sebuah berita yang pasti dengan berani tanpa rasa takut maupun kasihan, bahwa al-Qur’an ini tidak akan pernah dapat ditandingi. Kenyataannya dari sejak dulu sampai sekarang, dan sampai kapanpun tidak ada yang dapat menyamai, dan tidak mungkin bagi seseorang dapat melakukan hal itu.

Yang demikian itu karena al-Qur’an merupakan firman Allah, Rabb Pencipta segala sesuatu. Bagaimana mungkin firman Allah sang Pencipta akan sama dengan ucapan makhluk ciptaan-Nya.
Orang yang mencermati dan memperhatikan al-Qur’an dengan seksama, niscaya ia kan menemukan berbagai keunggulan al-Qur’an -yang sulit untuk ditandingi dalam seni sastra baik yang tersurat maupun yang tersirat,- dari sisi lafazh dan juga sisi makna.

Allah swt. berfirman: Alif laam raa . Inilah suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi Allah yang Mahabijaksana lagi Mahatahu. ” (QS. Huud: 1).

Artinya, Dia telah menyusun kata-kata di dalam al-Qur’an secara rapi dan indah dan menerangkan maknanya secara rinci. Dengan demikian, seluruh kata dan maknanya dikemukakan secara fasih, tidak ada yang dapat menyamai dan menandinginya. Di dalamnya Allah memberitakan berbagai berita ghaib yang telah lalu dan terjadi sesuai dengan apa yang diberitakan tersebut, dan Dia juga menyuruh berbuat kebaikan dan melarang berbuat kejahatan, sebagaimana firman Allah Tabaraka wa Ta’ala, “Telah sempurna kalimat Rabbmu (al-Qur’an), sebagai kalimat yang benar dan adil.” (QS. Al-An’aam: 115).

Artinya, benar dalam berita yang disampaikan al-Qur’an dan adil dalam hukum-hukum yang dimuatnya. Dengan demikian, semua kandungannya itu adalah benar, adil, dan petunjuk, yang tidak ada sedikit pun darinya kecerobohan, kebohongan, dan juga dibuat-buat, seperti yang terdapat dalam syair-syair Arab dan syair-syair selain mereka yang diwarnai dengan berbagai kecerobohan dan kebohongan, yang tidak akan indah kecuali dengan hal-hal seperti itu.

Sebagaimana diungkapkan dalam syair:
“Sungguh kata yang paling indah adalah yang paling dusta.”

Sedangkan al-Qur’an, seluruh kandungannya benar-benar fasih, berada di puncak keindahan bahasa bagi orang-orang yang memahami hal tersebut secara rinci dan global dari kalangan mereka yang memahami ucapan dan ungkapan bangsa Arab.

Sesungguhnya jika anda mencermati dan merenungkan berita-berita yang disajikan al-Qur’an, niscaya anda akan mendapatkannya benar-benar berada di puncak keindahan, baik penyajian secara panjang lebar maupun singkat, diulang-ulang atau tidak. Setiap kali melakukan pengulangan, maka semakin tinggi dan mempesona keindahannya. Tidak basi dengan banyaknya pengulangan dan tidak membuat para ulama menjadi bosan. Ancaman yang dikemukakan-Nya akan menjadikan gunung-gunung yang tegak berdiri itu berguncang karenanya. Lalu bagaimana dengan hati yang benar-benar memahami hal tersebut.

Dan jika Dia berjanji, Dia mengemukakannya dengan ungkapan yang dapat membuka hati dan pendengaran serta merasa rindu ke darussalam (tempat yang penuh kedamaian, surga) dan berdekatan dengan Arsy ar-Rahman (singgasana Allah), sebagaimana firman-Nya dalam targhib-Nya berikut ini: “Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 17).

Dia juga berfirman:
“Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diinginkan oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya.” (QS. Az-Zukhruf: 71).
“Maka apakah kamu merasa aman (dari hukuman Allah) yang menjungkir balikkan sebagian daratan bersamamu.”(QS. Al-Isra’: 68)
“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir-balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang. Atau apakab kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku.” (QS. Al-Mulk: 16-17).

Dan dalam teguran-Nya Dia berfirman: “Maka masing-masing (dari mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya.” (QS. Al-Ankabut: 40).

Sedangkan dalam nasihat-Nya, Dia mengatakan:
“Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun, kemudian datang kepada mereka adzab yang telah diancamkan kepada mereka. Niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang selalu mereka nikmati. ” (QS. Asy-Syuura: 205-207).

Dan masih banyak lagi bentuk kefasihan, balaghah, dan keindahan. Jika ayat-ayat al-Qur’an berkenaan dengan hukum, perintah, dan larangan, maka mencakup perintah-Nya mengerjakan segala yang makruf, baik, bermanfaat, dan yang dicintai dan melarang dari segala yang buruk, hina, dan tercela. Sebagaimana dikemukakan Ibnu Masud dan ulama salaf lainnya, ia mengatakan, “Jika engkau mendengar Allah berfirman di dalam al-Qur’an, “Wahai orang-orang yang beriman,”maka siapkanlah pendengaranmu dengan baik, karena ia mengandung kebaikan yang diperintahkan-Nya atau kejahatan yang dilarang-Nya.”

Oleh karena itu, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:
“Yang menyuruh mereka mengerjakan kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran serta menghalalkan bagi mereka yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk serta membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka “. (QS. Al-A’raaf: 157).

Dan jika ayat-ayat al-Qur’an menyifati hari kebangkitan serta peristiwa-peristiwa yang mengerikan pada waktu itu, juga menyifati surga dan neraka serta apa yang dijanjikan Allah swt. baik bagi para wali yang berupa kenikmatan dan kelezatan, dan ancaman-Nya bagi para musuh-musuh-Nya, berupa siksa dan adzab yang sangat pedih, maka ayat-ayat tersebut memberikan kabar gembira, atau memberikan peringatan dan juga menjauhi berbagai macam kemungkaran. Selain itu, ayat-ayat tersebut juga mengajak berzuhud di dunia dan menanamkan kecintaan pada kehidupan akhirat. Juga memberikan petunjuk ke jalan Allah yang lurus dan syari’at-Nya yang benar. Ayat-ayat itu juga membersihkan berbagai gangguan syaitan terkutuk dari hati manusia.

Oleh karena itu, diriwayatkan dalam kitab Shahih al Bukhari dan Muslim hadits dari Abu Hurairah: “Tidak ada seorang pun dari para Nabi melainkan telah diberikan beberapa mu’jizat yang mana manusia mempercayai/mengimani kepada yang serupa dengannya. Sedangkan (mu’jizat) yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang diwahyukan oleh Allah. Dan aku berharap menjadi nabi yang paling banyak pengikutnya pada hari kiamat kelak”. Demikian menurut lafazh dari Imam Muslim.

Sabda beliau, “Sedangkan yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang diwahyukan oleh Allah.” Maksudnya, bahwa yang dikhususkan kepada beliau di antara para nabi yang lainnya adalah al-Qur’an, yang tidak mungkin ada umat manusia yang mampu menandinginya, berbeda dengan kitab-kitab lainnya yang diturunkan Allah, karena bukan mukjizat menurut banyak ulama. Wallahu a’lam.

Firman-Nya: fattaqun naaral latii waquuduHan naasu wal hijaaratu u-‘iddat lil kaafiriina (“Maka peliharalah dirimu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.”)

“alwaquud” yaitu apa yang dicampakkan ke dalam neraka untuk menyalakan apinya seperti kayu bakar dan yang lainnya. Hal yang sama juga difirmankan-Nya: “Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu bakar bagi neraka jahanam.” (al-Jin: 15)

Maksud kata “waquud” pada ayat di atas adalah batu api [belerang] yang besar dan berwarna hitam, sangat keras dan berbau busuk, yaitu sebuah batu yang paling panas jika membara. Semoga Allah melindungi kita darinya.

Sedangkan firman-Nya: u-‘iddat lil kaafiriin; yang lebih jelas adalah dhamir (kata ganti) pada kata “u-‘iddat” bahan bakarnya berasal dari manusia dan batu, bisa pula kembali kepada batu. Sebagaimana dikatakan Ibnu Mas’ud. Dan tidak ada pertentangan makna antara kedua pendapat di atas, karena keduanya saling berkaitan. berarti disediakan dan dipersiapkan, bagi orang-orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-Nya.

u-‘iddat lil kaafiriin; menurut Ibnu Ishak, dari Muhammad, dari Ikrimah atau Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, yakni bagi orang yang berada dalam kekufuran seperti yang kalian lakukan.

Banyak Imam Ahli Sunnah yang menjadikan ayat ini sebaai dalil bahwa neraka itu sudah ada sekarang ini, berdasarkan Firman-Nya: u-‘iddat; artinya disediakan dan disiapkan. Banyak juga hadits-hadits yang menunjukkan hal ini, antara lain:
“Api neraka pernah minta izin kepada Rabb-nya. la berujar: `Ya Rabb-ku, sebagian kami memakan sebagian lainnya.” Lalu Rabb-nya memberikan izin kepadanya dengan dua jiwa. Satu jiwa pada musim dingin dan satu jiwa lagi pada musim panas”. Diriwayatkan oleh lima perawi (Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Ibnu Mas’ud juga pernah memberitahukan sebuah hadits, Kami pernah mendengar suara sesuatu yang jatuh, lalu kami pun bertanya: “Apa itu?” Maka Rasulullah bersabda: “Itu adalah batu yang dilontarkan dari tepi Neraka Jahanam sejak tujuh puluh tahun lalu dan sekarang telah sampai di dasarnya.” (HR. Muslim)

Demikian juga hadits shalat gerhana, malam Isra’, dan hadits-hadits mutawatir lainnya yang berkenaan dengan makna ini.
Namun golongan Mu’tazilah karena kebodohan mereka dalam hal ini telah berbeda paham, dan al-Qadhi Mundzir bin Said al-Baluthi, seorang hakim Andalus, juga berpaham sama seperti mereka.

&

Kategori: Tafsir Al-Qur'an

Tag: al-baqarahAl-qur'analbaqarahalquranayatibnu katsirsurahsurattafsirtafsir ibnu katsir


alqur'anmulia

Kembali ke atas

Tafsir Surat Al-Baqarah ayat 21-22


Terjemah Al Qur'an, Tafsir Al Qur'an, Ilmu Al Qur'an, Software Al Qur'an, Ebook Al Qur'an, Tilawah Al Qur'an, Murattal Al Qur'an


Tafsir Surat Al-Baqarah ayat 21-22

Al-Baqarah ayat 21-22

{{يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (21) الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنزلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (22) }

Hai manusia, sembahlah Tuhan kalian Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian. Karena itu, janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui.

Allah Swt. menjelaskan tentang sifat uluhiyyah-Nya Yang Maha Esa, bahwa Dialah yang memberi nikmat kepada hamba-hamba-Nya dengan menciptakan mereka dari tiada ke alam wujud, lalu melimpahkan kepada mereka segala macam nikmat lahir dan batin.

Allah menjadikan bagi mereka bumi sebagai hamparan buat tempat mereka tinggal, diperkokoh kestabilannya dengan gunung-gunung yang tinggi lagi besar; dan Dia menjadikan langit sebagai atap, sebagaimana disebutkan di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:

{وَجَعَلْنَا السَّمَاءَ سَقْفًا مَحْفُوظًا وَهُمْ عَنْ آيَاتِهَا مُعْرِضُونَ}

Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedangkan mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya. (Al-Anbiya: 32)

Allah menurunkan air hujan dari langit bagi mereka. Yang dimaksud dengan lafaz as-sama dalam ayat ini ialah awan yang datang pada waktunya di saat mereka memerlukannya.

Melalui hujan, Allah menumbuhkan buat mereka berbagai macam tumbuhan yang menghasilkan banyak jenis buah, sebagaimana yang telah disaksikan. Hal tersebut sebagai rezeki buat mereka, juga buat ternak mereka, sebagaimana yang telah ditetapkan dalam ayat lainnya.

Di antara ayat-ayat tersebut yang paling dekat pengertiannya dengan maksud ini ialah firman-Nya:

{اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ قَرَارًا  وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ فَتَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ}

Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kalian tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kalian, lalu membaguskan rupa kalian serta memberi kalian rezeki dengan sebagian yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Tuhan kalian, Maha-agung Allah, Tuhan semesta alam. (Al-Mu’min: 64)
Kesimpulan makna yang dikandung ayat ini ialah bahwa Allah adalah Yang Menciptakan, Yang memberi rezeki, Yang memiliki rumah ini serta para penghuninya, dan Yang memberi mereka rezeki.

Karena itu, Dia sematalah Yang harus disembah dan tidak boleh mempersekutukan-Nya dengan selain-Nya, sebagaimana yang dinyatakan di dalam ayat lain:

{فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ}

Karena itu, janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui. (Al-Baqarah: 22)
Di dalam hadis Sahihain disebutkan dari Ibnu Mas'ud yang menceritakan:

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: "أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا، وهو خلقك" الحديث

Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, dosa apakah yang paling besar di sisi Allah? Beliau menjawab, "Bila kamu mengadakan sekutu bagi Allah, padahal Dialah Yang menciptakanmu,'" hingga akhir hadis.
Demikian pula yang disebutkan di dalam hadis Mu'az yang menyebutkan

"أَتَدْرِي مَا حَقُّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ؟ أَنْ يَعْبُدُوهُ لَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا" الْحَدِيثَ

Tahukah kamu apa hak Allah yang dibebankan pada hamba-hamba-Nya?" lalu disebutkan, "Hendaklah mereka menyembah-Nya dan jangan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun," hingga akhir hadis.
Di dalam hadis lain disebutkan seperti berikut:

"لَا يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ: مَا شَاءَ اللَّهُ وَشَاءَ فُلَانٌ، وَلَكِنْ لِيَقُلْ  مَا شَاءَ اللَّهُ، ثُمَّ شَاءَ فُلَانٌ"

Jangan sekali-kali seseorang di antara kalian mengatakan, "Ini adalah yang dikehendaki oleh Allah, dan yang dikehendaki oleh si Fulan," tetapi hendaklah ia mengatakan, "Ini yang dikehendaki oleh Allah" kemudian, "Ini yang dikehendaki oleh si Fulan. 

قَالَ حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عُمَيْرٍ، عَنْ رِبْعيِّ بْنِ حِرَاش، عَنِ الطُّفَيْلِ بْنِ سَخْبَرَة، أَخِي عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ لِأُمِّهَا، قَالَ: رَأَيْتُ فِيمَا يَرَى النَّائِمُ، كَأَنِّي أَتَيْتُ عَلَى نَفَرٍ مِنَ الْيَهُودِ، فَقُلْتُ: مَنْ أَنْتُمْ؟ فَقَالُوا: نَحْنُ الْيَهُودُ، قُلْتُ: إِنَّكُمْ لَأَنْتُمُ الْقَوْمُ لَوْلَا أَنَّكُمْ تَقُولُونَ: عُزَير ابْنُ اللَّهِ. قَالُوا: وَإِنَّكُمْ لَأَنْتُمُ الْقَوْمُ لَوْلَا أَنَّكُمْ تَقُولُونَ: مَا شَاءَ اللَّهُ وَشَاءَ مُحَمَّدٌ. قَالَ: ثُمَّ مَرَرْتُ بِنَفَرٍ مِنَ النَّصَارَى، فَقُلْتُ: مَنْ أَنْتُمْ؟ قَالُوا: نَحْنُ النَّصَارَى. قُلْتُ: إِنَّكُمْ لَأَنْتُمُ الْقَوْمُ لَوْلَا أَنَّكُمْ تَقُولُونَ: الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ. قَالُوا: وَإِنَّكُمْ لَأَنْتُمُ الْقَوْمُ لَوْلَا أَنَّكُمْ تَقُولُونَ: مَا شَاءَ اللَّهُ وَشَاءَ مُحَمَّدٌ. فَلَمَّا أَصْبَحْتُ أَخْبَرْتُ بِهَا مَنْ أَخْبَرْتُ، ثُمَّ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرْتُهُ، فَقَالَ: "هَلْ أَخْبَرْتَ بِهَا أَحَدًا؟ " فَقُلْتُ: نَعَمْ. فَقَامَ، فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ: "أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ طُفيلا رَأَى رُؤْيَا أَخْبَرَ بِهَا مَنْ أَخْبَرَ مِنْكُمْ، وَإِنَّكُمْ قُلْتُمْ كَلِمَةً كَانَ يَمْنَعُنِي كَذَا وَكَذَا أَنْ أَنْهَاكُمْ عَنْهَا، فَلَا تَقُولُوا: مَا شَاءَ اللَّهُ وَشَاءَ مُحَمَّدٌ، وَلَكِنْ قُولُوا: مَا شَاءَ اللَّهُ وَحْدَهُ".

Hammad ibnu Salimah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdul Malik ibnu Umair, dari Rab'i ibnu Hirasy, dari Tufail ibnu Sakhbirah (saudara lelaki ibu Siti Aisyah r.a.) yang menceritakan bahwa ia melihat dalam mimpinya seakan-akan berada di tengah-tengah orang-orang Yahudi, lalu ia bertanya (kepada mereka), "Siapakah kalian?" Mereka menjawab, "Kami adalah orang-orang Yahudi." Ia berkata, "Sesungguhnya kalian benar-benar merupakan suatu kaum jikalau kalian tidak mengatakan bahwa Uzair anak laki-laki Allah."

Mereka mengatakan, "Sesungguhnya kalian pun merupakan suatu kaum jikalau kalian tidak mengatakan bahwa ini apa yang dikehendaki oleh Allah dan yang dikehendaki oleh Muhammad." Kemudian Tufail bersua dengan segolongan orang-orang Nasrani, lalu ia bertanya, "Siapakah kalian?" Mereka menjawab, "Kami orang-orang Nasrani." Ia berkata, "Sesungguhnya kalian benar-benar merupakan suatu kaum jikalau kalian tidak mengatakan bahwa Al-Masih anak laki-laki Allah."

Mereka berkata, "Dan sesungguhnya kamu pun benar-benar merupakan suatu kaum jikalau kamu tidak mengatakan bahwa ini adalah apa yang dikehendaki oleh Allah dan yang dikehendaki oleh Muhammad." Pada pagi harinya Tufail menceritakan mimpi itu kepada sebagian orang yang biasa mengobrol dengannya, kemudian ia datang kepada Nabi Saw. dan menceritakan hal itu kepadanya. Maka Nabi Saw. bertanya, "Apakah engkau telah menceritakannya kepada seseorang?" Ia menjawab, "Ya." Maka Nabi Saw. berdiri, lalu memuji kepada Allah dan menyanjung-Nya.

Setelah itu beliau Saw. bersabda: Amma ba'du, sesungguhnya Tufail telah melihat sesuatu dalam mimpinya yang telah ia ceritakan kepada sebagian orang di antara kalian yang menerima berita darinya. Sesungguhnya kalian telah mengatakan suatu kalimat yang pada mulanya aku terhalang oleh anu dan anu untuk melarang kalian mengatakannya.

Maka sekarang janganlah kalian mengatakan, "Ini adalah apa yang dikehendaki oleh Allah dan yang dikehendaki oleh Muhammad" melainkan katakanlah, "Ini adalah yang dikehendaki oleh Allah semata."

Demikian riwayat Ibnu Murdawaih di dalam kitab tafsirnya mengenai ayat ini melalui hadis Hammad ibnu Salimah dengan lafaz yang sama. Hadis ini diketengahkan pula oleh Ibnu Majah dari jalur lain melalui Abdul Malik ibnu Umair dengan lafaz yang sama atau semisal.

قَالَ سُفْيَانُ بْنُ سَعِيدٍ الثَّوْرِيُّ، عَنِ الْأَجْلَحِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْكِنْدِيِّ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ الْأَصَمِّ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا شَاءَ اللَّهُ وَشِئْتَ. فَقَالَ: "أَجَعَلْتَنِي لِلَّهِ نِدًّا؟ قُلْ: مَا شَاءَ اللَّهُ وَحْدَهُ".

Sufyan ibnu Sa'id As-Sauri mengatakan dari Al-Ajlah ibnu Abdullah Al-Kindi, dari Yazid ibnul Asam, dari Ibnu Abbas yang menceritakan: Seorang lelaki berkata kepada Nabi Saw., "Ini adalah yang dikehendaki oleh Allah dan olehmu." Maka Nabi Saw. bersabda, "Apakah engkau menjadikan diriku sebagai tandingan Allah! Katakanlah, 'Inilah yang dikehendaki oleh Allah semata'"
Hadis ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Murdawaih. Imam Nasai serta Imam Ibnu Majah telah mengetengahkannya dari hadis Isa ibnu Yunus. dari Al-Ajlah dengan lafaz yang sama.

Semua itu ditandaskan demi memelihara dan melindungi ketauhidan.

Muhammad ibnu Ishak mengatakan, telah menceritakan kepada-nya Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Hai manusia, sembahlah Tuhan kalian. (Al-Baqarah: 21) Ayat ini ditujukan kepada kedua golongan secara keseluruhan, yaitu orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Dengan kata lain, esakanlah Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian.
Hal yang sama dikatakan pula dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Karena itu, janganlah kalian mengadakan sekulu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui. (Al-Baqarah: 22) Maksudnya, janganlah kalian mempersekutukan Allah dengan selain-Nya, yaitu dengan tandingan-tandingan yang tidak dapat menimpakan mudarat dan tidak dapat memberi manfaat, padahal kalian mengetahui bahwa tidak ada Tuhan yang memberi rezeki kepada kalian selain Allah. Kalian telah mengetahui apa yang diserukan oleh Muhammad kepada kalian —yaitu ajaran tauhid— adalah perkara yang hak yang tiada keraguan di dalamnya. Demikian pula menurut Qatadah.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Amr ibnu Abu Asim, telah menceritakan kepada kami Amr, telah menceritakan kepada kami Abu Dahhak ibnu Mukhallad alias Abu Asim, telah menceritakan kepada kami Syabib ibnu Bisyr, telah menceritakan kepada kami Ikrimah, dari Ibnu Abbas, sehubungan dengan firman-Nya, "Fala taj'alu lillahi andadan." Istilah andad yaitu sama dengan mempersekutukan Allah, syirik itu lebih samar daripada rangkakan semut di atas batu hitam yang licin di dalam kegelapan malam.

Contoh perbuatan syirik (atau mempersekutukan Allah) ialah ucapan seseorang, "Demi Allah dan demi hidupmu, hai Fulan, dan demi hidupku." Juga ucapan, "Seandainya tidak ada anjing, niscaya maling akan datang ke rumah kami tadi malam," atau "Seandainya tidak ada angsa, niscaya maling memasuki rumah kami."

Demikian pula ucapan seseorang kepada temannya, "Ini adalah yang dikehendaki oleh Allah dan yang dikehendaki olehmu." Juga ucapan, "Seandainya tidak ada Allah dan si Fulan," semuanya itu merupakan perkataan yang menyebabkan kemusyrikan. 
Di dalam hadis disebutkan bahwa ada seorang lelaki berkata kepada Rasulullah Saw., "Ini adalah yang dikehendaki Allah dan yang dikehendaki olehmu." Maka beliau Saw. bersabda:

"أَجَعَلْتَنِي لِلَّهِ نِدًّا"

Apakah kamu menjadikan diriku sebagai tandingan Allah?
Di dalam hadis lain disebutkan:

"نِعْمَ الْقَوْمُ أَنْتُمْ، لَوْلَا أَنَّكُمْ تُنَدِّدُونَ، تَقُولُونَ: مَا شَاءَ اللَّهُ، وَشَاءَ فُلَانٌ".

Sebaik-baik kaum adalah kalian jikalau kalian tidak melakukan tandingan (terhadap Allah), (karena) kalian mengatakan, "Ini adalah yang dikehendaki oleh Allah dan yang dikehendaki oleh si Fulan."
Abul Aliyah mengatakan, makna andadandalam firman-Nya, "Fala taj'alu lillahi andadan," ialah tandingan dan sekutu.

Demikian dikatakan oleh Ar-Rabi' ibnu Anas, Qatadah, As-Saddi, Abu Malik, dan Ismail ibnu Abu Khalid.
Mujahid mengatakan bahwa makna firman-Nya, "Wa-antum ta'-lamuna," ialah sedangkan kalian mengetahui bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa di dalam kitab Taurat dan kitab Injil.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا أَبُو خَلَفٍ مُوسَى بْنُ خَلَفٍ، وَكَانَ يُعَد مِنَ البُدَلاء، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ زَيْدِ بْنِ سَلَّامٍ، عَنْ جَدِّهِ مَمْطُورٍ، عَنِ الْحَارِثِ الْأَشْعَرِيِّ، أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ، أَمَرَ يَحْيَى بْنَ زَكَرِيَّا، عَلَيْهِ السَّلَامُ، بِخَمْسِ كَلِمَاتٍ أَنْ يَعْمَلَ بِهِنَّ، وَأَنْ يَأْمُرَ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنْ يَعْمَلُوا بِهِنَّ، وَكَانَ يُبْطِئُ بِهَا، فَقَالَ لَهُ عِيسَى، عَلَيْهِ السَّلَامُ: إِنَّكَ قَدْ أُمِرْتَ بِخَمْسِ كَلِمَاتٍ أَنْ تَعْمَلَ بِهِنَّ وَتَأْمُرَ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنْ يَعْمَلُوا بِهِنَّ، فَإِمَّا أَنْ تُبْلِغَهُنَّ، وَإِمَّا أَنْ أُبْلِغَهُنَّ. فَقَالَ: يَا أَخِي، إِنِّي أَخْشَى إِنْ سَبَقْتَنِي أَنْ أُعَذَّبَ أَوْ يُخْسَفَ بِي". قَالَ: "فَجَمَعَ يَحْيَى بْنُ زَكَرِيَّا بَنِي إِسْرَائِيلَ فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ، حَتَّى امْتَلَأَ الْمَسْجِدُ، فَقَعَدَ عَلَى الشَّرَفِ، فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: إِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِي بِخَمْسِ كَلِمَاتٍ أَنْ أَعْمَلَ بِهِنَّ، وَآمُرَكُمْ أَنْ تَعْمَلُوا بِهِنَّ، وَأَوَّلُهُنَّ: أَنْ تَعْبُدُوا اللَّهَ لَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، فَإِنَّ مَثَلَ ذَلِكَ مَثَل رَجُلٍ اشْتَرَى عَبْدًا مِنْ خَالِصِ مَالِهِ بوَرِق أَوْ ذَهَبٍ، فَجَعَلَ يَعْمَلُ وَيُؤَدِّي غَلَّتَهُ إِلَى غَيْرِ سَيِّدِهِ فَأَيُّكُمْ يَسُرُّهُ أَنْ يَكُونَ عَبْدُهُ كَذَلِكَ؟ وَإِنَّ اللَّهَ خَلَقَكُمْ وَرَزَقَكُمْ فَاعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَأَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ؛ فَإِنَّ اللَّهَ يَنْصِبُ وَجْهَهُ لِوَجْهِ عَبْدِهِ مَا لَمْ يَلْتَفِتْ، فَإِذَا صَلَّيْتُمْ فَلَا تَلْتَفِتُوا. وَأَمَرَكُمْ بِالصِّيَامِ، فَإِنَّ مَثَلَ ذَلِكَ كَمَثَلِ رَجُلٍ مَعَهُ صُرَّةً مِنْ مِسْكٍ فِي عِصَابَةٍ، كُلُّهُمْ يَجِدُ رِيحَ الْمِسْكِ. وَإِنَّ خُلُوفَ فَمِ الصَّائِمِ عِنْدَ اللَّهِ أَطْيَبُ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ. وَأَمَرَكُمْ بِالصَّدَقَةِ؛ فَإِنَّ مَثَلَ ذَلِكَ كَمَثَلِ رَجُلٍ أَسَرَهُ الْعَدُوُّ، فَشَدُّوا يَدَيْهِ إِلَى عُنُقِهِ، وَقَدَّمُوهُ لِيَضْرِبُوا عُنُقَهُ، فَقَالَ لهم: هل لكم أن أفتدي

نَفْسِي ؟ فَجَعَلَ يَفْتَدِي نَفْسَهُ مِنْهُمْ بِالْقَلِيلِ وَالْكَثِيرِ حَتَّى فَكَّ نَفْسَهُ. وَأَمَرَكُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ كَثِيرًا؛ وَإِنَّ مَثَلَ ذَلِكَ كَمَثَلِ رَجُلٍ طَلَبَهُ الْعَدُوُّ سِراعا فِي أَثَرِهِ، فَأَتَى حِصْنًا حَصِينًا فَتَحَصَّنَ فِيهِ، وَإِنَّ الْعَبْدَ أَحْصَنُ مَا يَكُونُ مِنَ الشَّيْطَانِ إِذَا كَانَ فِي ذِكْرِ اللَّهِ".

قَالَ: وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "وَأَنَا آمُرُكُمْ بِخَمْسٍ اللَّهُ أَمَرَنِي بِهِنَّ: الْجَمَاعَةُ، وَالسَّمْعُ، وَالطَّاعَةُ، وَالْهِجْرَةُ، وَالْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؛ فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ الْجَمَاعَةِ قيدَ شِبْر فَقَدْ خَلَعَ رِبْقة الْإِسْلَامِ مِنْ عُنُقِهِ، إِلَّا أَنْ يُرَاجِعَ وَمَنْ دَعَا بِدَعْوَى جَاهِلِيَّةٍ فَهُوَ مِنْ جِثِيِّ جَهَنَّمَ". قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَإِنْ صَامَ وَصَلَّى ؟ فَقَالَ: "وَإِنْ صَلَّى وَصَامَ  وَزَعَمَ أَنَّهُ مُسْلِمٌ؛ فَادْعُوا الْمُسْلِمِينَ بِأَسْمَائِهِمْ عَلَى مَا سَمَّاهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: الْمُسْلِمِينَ الْمُؤْمِنِينَ عِبَادَ اللَّهِ"

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Abu Khalaf (yaitu Musa ibnu Khalaf, beliau termasuk wali abdal), telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abu Kasir, dari Zaid ibnu Salam, dari kakeknya (Mamtur), dari Al-Haris Al-Asy'ari, bahwa Nabi Saw. pernah bersabda, "Sesungguhnya Allah Swt. memerintahkan kepada Yahya ibnu Zakaria a.s. untuk mengamalkan lima kalimat dan memerintahkan kepada Bani Israil untuk mengamalkannya. Akan tetapi, hampir saja Yahya a.s. terlambat mengamalkannya, lalu Isa a.s. berkata kepadanya, 'Sesungguhnya kamu telah diperintahkan untuk mengamalkan lima kalimat. Kamu pun memerintahkan kepada Bani Israil agar mereka mengamalkannya.

Apakah kamu yang menyampaikan, atau diriku yang menyampaikannya?' Yahya menjawab, 'Hai Saudaraku, sesungguhnya aku merasa takut jika kamu yang menyampaikannya, nanti aku akan diazab atau dikutuk.'

 Kemudian Yahya ibnu Zakaria mengumpulkan kaum Bani Israil di Baitul Muqaddas hingga masjid menjadi penuh oleh mereka. Yahya duduk di atas tempat yang tinggi, lalu memuji dan menyanjung Allah Swt.

Kemudian ia mengatakan, 'Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepadaku untuk mengamalkan lima kalimat. Dia memerintahkan pula kepada kalian agar mengamalkannya. Pertama, hendaklah kalian menyembah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.

Karena sesungguhnya perumpamaan orang yang mempersekutukan Allah itu seperti keadaan seorang lelaki yang membeli seorang budak dengan uangnya sendiri secara murni, baik uang perak ataupun uang emas. Lalu si budak bekerja dan memberikan hasil penjualan jasanya itu kepada selain tuannya.

Maka siapakah di antara kalian yang suka diperlakukan seperti demikian? Sesungguhnya Allah-lah yang menciptakan kalian dan yang memberi rezeki kalian. Maka sembahlah Dia oleh kalian dan jangan kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.

Allah memerintahkan kalian untuk mengerjakan salat, karena sesungguhnya Zat Allah berada di hadapan hamba-Nya selagi si hamba (yang sedang salat itu) tidak menoleh. Karena itu, apabila kalian sedang salat, janganlah kalian menoleh. Allah telah memerintahkan kalian puasa, karena sesungguhnya perumpamaan puasa itu seperti keadaan seorang lelaki yang membawa sebotol minyak kesturi berada di tengah-tengah segolongan kaum, lalu mereka dapat mencium bau wangi minyak kesturinya.

Sesungguhnya bau mulut orang yang sedang puasa lebih wangi di sisi Allah daripada minyak kesturi. Allah memerintahkan kalian untuk bersedekah, karena sesungguhnya perurnpamaan sedekah itu seperti seorang laki-laki yang ditawan musuh, dan mengikat kedua tangannya ke lehernya, lalu mengajukannya untuk menjalani hukuman pancung. Kemudian lelaki itu berkata, 'Bolehkah aku menebus diriku dari kalian?' Lalu lelaki itu menebus dirinya dengan semua miliknya, baik yang bernilai murah maupun yang bernilai mahal, hingga dirinya terbebas.

Allah memerintahkan kalian untuk berzikir dengan banyak mengingat Allah, karena sesungguhnya perurnpamaan hal ini seperti keadaan seorang lelaki yang dikejar-kejar musuh yang memburunya dengan cepat dari belakang. Kemudian lelaki itu sampai ke suatu benteng, lalu ia berlindung di dalam benteng itu (dari kejaran musuhnya). Sesungguhnya tempat yang paling kuat bagi seorang hamba untuk melindungi dirinya dari setan ialah bila ia selalu dalam keadaan berzikir mengingat Allah'."

Perawi melanjutkan kisahnya, bahwa Rasulullah Saw. bersabda: Dan aku perintahkan kalian untuk mengerjakan lima perkara yang telah diperintahkan oleh Allah kepadaku, yaitu (menetapi) jamaah (persatuan), tunduk dan taat (kepada ulil amri), dan hijrah serta jihad di jalan Allah. Karena sesungguhnya barang siapa yang keluar dari jamaah dalam jarak satu jengkal, berarti dia telah rnenanggalkan ikalan Islam dari lehernya, kecuali jika ia bertobat. Barang siapa yang memanggil dengan memakai seruan Jahiliyah. maka ia dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan berlutut. Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, sekalipun dia puasa dan salat?" Beliau Saw.

menjawab, "Sekalipun dia salat dan puasa, serta mengaku dirinya muslim. Maka panggillah orang-orang muslim dengan nama-namanya sesuai dengan nama yang telah diberikan oleh Allah buat mereka; orang-orang muslim dan orang-orang mukmin adalah hamba-hamba Allah.
Hadis ini berpredikat hasan, sedangkan syahid (bukti) dari hadis ini yang berkaitan dengan makna ayat yang sedang kita bahas ini ialah kalimat yang mengatakan, "Dan sesungguhnya Allah telah menciptakan kalian dan memberi kalian rezeki. Maka sembahlah Dia oleh kalian, dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun."

Ayat yang sedang kita bahas menunjukkan bahwa hanya Allah semata yang berhak disembah, tiada sekutu bagi-Nya. Kebanyakan ulama tafsir —seperti Ar-Razi dan lain-lainnya— menyimpulkan dalil dari hadis ini adanya Tuhan Yang Maha Pencipta, sama halnya dengan ayat yang sedang kita bahas secara lebih prioritas. Karena sesungguhnya orang yang merenungkan semua keberadaan alam bagian bawah dan bagian atas berikut berbagai ragam bentuk, warna, watak, manfaat (kegunaan), dan peletakannya dalam posisi yang tepat, semua itu menunjukkan kekuasaan Penciptanya, kebijaksanaan-Nya, pengetahuan-Nya serta keahlian-Nya, dan kebesaran kekuasaan-Nya. Perihalnya sama dengan apa yang dikatakan oleh sebagian orang Arab ketika ditanya, "Manakah bukti yang menunjukkan adanya Tuhan Yang Maha Tinggi?" Maka dia menjawab, "Subhanallah (Mahasuci Allah), sesungguhnya kotoran unta menunjukkan adanya unta, jejak kaki menunjukkan adanya orang yang lewat. Langit yang memiliki bintang-bintang, bumi yang memiliki gunung-gunung serta lautan yang memiliki ombak-ombak, bukankah semua itu menunjukkan adanya Tuhan Yang Mahalembut lagi Maha Mengetahui?"

Ar-Razi meriwayatkan dari Imam Malik, bahwa Ar-Rasyid pernah bertanya kepadanya mengenai masalah ini, lalu Imam Malik membuktikan dengan adanya berbagai macam bahasa, suara, dan irama.

Disebutkan oleh Abu Hanifah bahwa ada sebagian orang Zindiq bertanya kepadanya mengenai keberadaan Tuhan Yang Maha Pencipta. Maka Abu Hanifah berkata kepada mereka, "Biarkanlah aku berpikir sejenak untuk mengingat suatu hal yang pernah diceritakan kepadaku.

Mereka menceritakan kepadaku bahwa ada sebuah perahu di tengah laut yang berombak besar, di dalamnya terdapat berbagai macam barang dagangan, sedangkan di dalam perahu itu tidak terdapat seorang pun yang menjaganya dan tiada seorang pun yang mengendalikannya.

Tetapi sekalipun demikian perahu tersebut berangkat dan tiba berlayar dengan sendirinya, dapat membelah ombak yang besar hingga selamat dari bahaya. Perahu itu dapat berlayar dengan sendirinya tanpa ada seorang pun yang mengendalikannya."

Mereka berkata, "Ini adalah suatu hal yang tidak akan dikatakan oleh orang yang berakal." Maka Abu Hanifah berkata, "Celakalah kamu, semua alam wujud berikut apa yang ada padanya mulai dari alam bagian bawah dan bagian atas, semua yang terkandung di dalamnya berupa berbagai macam benda yang teratur ini, apakah tidak ada penciptanya?" Akhirnya kaum Zindiq itu terdiam dan mereka sadar, lalu kembali kepada perkara yang hak dan semuanya masuk Islam di tengah Abu Hanifah.

Diriwayatkan dari Imam Syafii bahwa ia pernah ditanya mengenai keberadaan Tuhan Yang Maha Pencipta, maka ia menjawab bahwa ini adalah daun at-tutyang rasanya sama.

Daun ini bila dimakan ulat sutera dapat menghasilkan benang sutera; bila dimakan lebah, keluar darinya madu; bila dimakan kambing dan sapi atau unta, menjadi kotoran yang tercampakkan (menjadi pupuk); dan bila dimakan oleh kijang, maka keluar dari tubuh kijang itu bibit minyak kesturi, padahal daunnya berasal dari satu jenis.

Diriwayatkan dari Imam Ahmad bahwa ia pernah ditanya mengenai masalah ini, ia menjawab bahwa ada sebuah benteng yang kuat lagi licin, tidak mempunyai pintu dan tidak mempunyai lubang.

Bagian luarnya putih seperti perak, sedangkan bagian dalamnya kuning mirip emas.

Ketika benteng tersebut dalam keadaan demikian, tiba-tiba temboknya terbelah dan keluarlah darinya seekor hewan yang dapat mendengar dan melihat, bentuk dan suaranya lucu.

Dia bermaksud menggambarkan telur bila menetas.

Abu Nuwas pernah ditanya mengenai masalah ini. Ia berkata melalui syair-syairnya, yaitu:

تَأَمَّلْ فِي نَبَاتِ الْأَرْضِ وَانْظُرْ ... إِلَى آثَارِ مَا صَنَعَ الْمَلِيكُ ...


عُيُونٌ مِنْ لُجَيْنٍ شَاخِصَاتٌ ... بِأَحْدَاقٍ هِيَ الذَّهَبُ السَّبِيكُ ...


عَلَى قُضُبِ الزَّبَرْجَدِ شَاهِدَاتٌ ... بِأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ لَهُ شَرِيكُ ...


Renungkanlah kejadian tumbuh-tumbuhan di bumi ini dan perhatikanlah hasil-hasil dari apa yang telah dibuat oleh Tuhan Yang Mahakuasa.

Air yang jernih bak perak memenuhi parit-parit yang bagaikan emas cetakan mengairi lahan-lahan yang indah bagaikan batu permata zabarjad, semuanya itu merupakan saksi yang membuktikan bahwa Allah tiada sekutu bagi-Nya.


Ibnul Mu'taz mengatakan:

فَيَا عَجَبًا كَيْفَ يُعْصَى الْإِلَهُ ... أَمْ كَيْفَ يَجْحَدُهُ الْجَاحِدُ ...


وَفِي كُلِّ شَيْءٍ لَهُ آيَةً ... تَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ وَاحِدُ ...


Alangkah anehnya, bagaimanakah seseorang berbuat durhaka kepada Tuhan, dan bagaimanakah seseorang mengingkari-Nya, padahal segala sesuatu merupakan pertanda baginya yang menunjukkan bahwa Tuhan adalah Esa.


Ulama lainnya mengatakan, "Barang siapa yang merenungkan ketinggian langit ini, keluasannya, dan semua yang ada padanya berupa bintang yang bercahaya —baik yang kecil maupun yang besar— dan bintang-bintang yang beredar pada garis edarnya serta yang tetap, niscaya semua itu memberikan kesimpulan kepadanya akan adanya Tuhan Yang Maha Pencipta. B

arang siapa yang menyaksikan bagaimana bintang-bintang tersebut berputar pada dirinya sendiri setiap sehari semalam sekali putaran dalam tata surya yang maha luas itu, sedangkan masing-masing mempunyai garis edarnya sendiri; dan barang siapa yang memperhatikan lautan yang meliputi daratan dari berbagai arah, gunung-gunung yang dipancangkan di bumi agar stabil dan para penghuninya yang terdiri atas berbagai macam jenis dan bentuk serta warnanya, niscaya menyimpulkan adanya Tuhan Yang Maha Pencipta, sebagaimana yang dijelaskan di dalam firman-Nya:

{وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ * وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالأنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ}

Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka ragam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. Dan

demikian (pula) di antara manusia, binatang-bina-tang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya).

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama. (Fathir. 27-28)
Demikian pula sungai-sungai yang membelah dari suatu negeri ke negeri yang lain, membawa banyak manfaat.

Semua yang diciptakan di muka bumi berupa bermacam-macam makhluk hidup, tumbuh-tumbuhan yang berbeda-beda rasanya, dan berbagai macam bunga yang beraneka ragam warnanya, padahal tanah dan airnya sama; semua itu menunjukkan adanya Tuhan Yang Maha Pencipta dan kekuasaan serta kebijaksanaan-Nya Yang Mahabesar.

Juga menunjukkan rahmat-Nya kepada semua makhluk-Nya, lemah lembut, kebajikan dan kebaikan-Nya kepada mereka; tiada Tuhan selain Allah dan Tiada Rabb selain Dia, hanya kepada-Nyalah aku bertawakal dan kembali. A

yat-ayat Al-Qur'an yang menunjukkan pengertian ini sangat banyak.

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'alayang telah menciptakan manusia kemudian memuliakannya dengan derajat yang tiada terhingga.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad Shalallahu alaihi wasallam. Beliau dengan segala pengorbanan dan tanggung jawabnya menunaikan tugas dan menyampaikan amanah dengan sempurna, telah mendidik kita ke jalan yang lurus. Doa dan salam semoga pula senantiasa tercurahkan kepada keluarga, shahabat, dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. Mo

dul Daurah Ruqyah Syar'iyyah bersama Syaikh Abual-Barra` yang terdiri dalam 4 bab yang telah disusun dan diterjemahkan tim dari Ruqyah Learning Center Indonesia ini telah memberikan kontribusi yang sangat besar bagi para Peruqyah Syar’iyyah di Indonesia pada era saat ini. Materi Ruqyah Syar’iyyah telah dijadikan panduan yang mengarahkan para Peruqyah pada jalan yang lurus dalam memahami dan mengimplementasikan praktek-praktek ruqyah dalam kehidupan. Karena itu, bebera…

BACA SELENGKAPNYA »

Tafsir Surat Luqman, ayat 13-15

{وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13) وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14) وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (15) }Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ib…

BACA SELENGKAPNYA »

Tafsir Surat Fathir, ayat 32

{ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ (32) } Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih cepat berbuat kebaikan dengan izin Allh. Yang demikian itu adalah karunia yang amat bes
ar. Allah Swt. berfirman, "Kemudian Kami jadikan orang-orang yang mengamalkan Kitab yang Besar yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya adalah orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami," Mereka adalah umat Nabi Muhammad Saw. K

emudian mereka terbagi menjadi tiga golongan, untuk itu Allah Swt. berfirman: {فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ} lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri. (Fathir: 32) Dia ad…
.